Selasa, 27 Agustus 2013

Farewell

Ini akan jadi post yang sangat panjang. Saya ingatkan jika anda malas membacanya dan menganggap ini sangat alay dan lebay, lebih baik anda membatalkan niat anda untuk membaca post ini. Lah emang ini yang pengen saya tulis kok~ Dan isi post ini murni pendapat dan perasaan saya saja (?)

“Kamu ga bakal ngerasain seberapa berharganya orang itu, sampai kamu kehilangan dia.”

Udah sering kan denger quotes kayak gitu? Saat dia masih ada di sekitar kita seperti biasanya, saat dia masih guyon bareng kita seperti biasanya, saat dia masih ada di dekat kita dengan ocehannya, dengan gerutuannya, dan dengan tawanya.
Saat itu kita masih ngerasa, keberadaannya adalah hal yang wajar.

Dan saat ada hal lain yang merenggut dia dari sekitar kita, apa kita masih merasa biasa?
Nggak.
Sebenarnya, ada atau tidaknya dia, tidak akan ada yang berubah. Kita tetep ke sekolah, tetep ngomel atas guru yang rese, tetep rebutan di KPN, dan tetep melakukan aktivitas sehari-hari kita.

Tapi pasti ada yang berbeda.

Oke, yang itu tadi kutipan dari novelnya Winna Efendi, Ai.

Ceritanya Primbon lagi sedih. Hari ini pelajarannya terasa menyenangkan banget. Mulai Olahraga, Matematika, Kimia, dan Bahasa Indonesia (yang kebetulan ga ada gurunya). Primbon baru sadar, di balik semua yang bagus-bagus, pasti ada cacatnya. Dan satu-satunya cacat, cacat terbesar, adalah temen-temen sekelas Primbon, banyak yang dipindahin ke kelas yang lain.

Inget banget waktu istirahat udah selesai, waktu pelajaran Kimia mau mulai, tiba-tiba salah seorang guru datang membawa informasi yang menyakitkan. Kalo nggak salah intinya gini, “(blablabla) karena di kelas ini banyak non-muslimnya, maka sekolah memutuskan untuk memindahkan beberapa anak ke kelas yang lain.” Kelas langsung heboh. Lalu disebutlah nama-nama anak yang dipindahkan ke kelas lain. Anna Abdilla. Calista Amalia Wiradara. Dinis Indrawan. Ferdian Wahyu Kusumawardhana. Fitria Salsabila. Hilman Ridho. Kinanthi Wuri Luktriutami. Muhammad Farkhan Apriadi. Noerpanca Atma Sudiro Wibowo. Salma Rahmasari Hanifah. Yudha Alldiansyah Ramadhon.

Rasanya tuh, baru diterbangin tinggi-tinggi ke langit, tiba-tiba nabrak pesawat, terus kehilangan kekuatan buat terbang, dan akhirnya jatuh ke tanah. SAKIT BRO.

11 orang dari 31 orang keluar. KURANG BANYAK GIMANA COBA. Jumlah murid terbanyak yang pindah kelas. Liat deh kelas lain, yang pindah cuma 1-2 orang. Tau bagian terburuknya? Semua yang pindah ke kelasku adalah anak-anak non-muslim. Di sini aku bukan mau bilang aku ga suka sama non-muslim ya, bukan gitu. Aku benci alasannya. Gimana sekolah mau menyatukan anak-anak non-muslim ke dalam satu kelas yang sama. Itu termasuk SARA kan? Rasis kan? Pelanggaran HAM kan? Rasanya kayak… dibuang.

Salah satu alasan aku memilih sekolah ini adalah aku suka frasa ‘Mitreka Satata’. Keren banget filosofinya. Semua murid diperlakukan sama tanpa dibeda-bedakan, tanpa diskriminasi entah apa agamanya, entah dari mana dia berasal, entah di keluarga dan lingkungan seperti apa dia dibesarkan. Semua setara, sederajat. Tidak ada rasisme. Itu juga sama saja dengan Bhinneka Tunggal Ika, kan?

Kalau begini, apa arti tulisan Mitreka Satata yang dijahit tepat di atas saku OSIS di kemeja seragam putih? Apa arti tulisan Mitreka Satata di lambang sekolah? Apa arti Bhinneka Tunggal Ika yang terukir di pita yang digenggam burung garuda bertameng Pancasila yang menjadi lambang kebanggaan negara Indonesia?

Hari-hari ada di kelas bareng mereka itu kayak hari-hari kita terus bernafas. Buatku, itu sesuatu yang wajar terjadi. Banyak banget sesuatu yang wajar selama mereka masih bareng XMSC6. Tapi setelah mereka hilang, awalnya nggak kerasa apa-apa, tapi lama-lama jadi sakit. Seperti kehilangan gigi geraham. Sakitnya hilang setelah giginya dicabut. Tapi setelahnya, waktu lidah kita meraba-raba tempat di mana gigi itu ada, kita nggak menemukannya dan sadar bahwa ada bagian yang hilang dari kita.

Mulai besok, nggak ada lagi Anna, sekretaris 2 yang kalo diem, diem banget. Tapi sekali diajak ngomong pasti seru. Nggak ada lagi Ije yang kalo ketawa ga berhenti-berhenti. Nggak ada lagi Dinis yang kalo ngomong lucu. Nggak ada lagi Ferdi yang langganan sebangku sama cewek pas ngambil undian tempat duduk. Nggak ada lagi mba Fitria yang suka hp-an dan facebook-an di kelas. Nggak ada lagi Hilman yang hampir setiap malam buang-buang pulsa buat jarkomin info ke anak sekelas. Nggak ada lagi Kikin yang kalo ngomong Bahasa Jawa pake logat Betawi. Nggak ada lagi Farhan yang macak diem di kelas padahal rame di twitter. Nggak ada lagi Panca si cowok narsis. Nggak ada lagi Salma yang diam-diam suka selca di tengah-tengah pelajaran. Nggak ada lagi Jot yang setiap ngomong bawaannya selalu bikin ketawa.

Nggak ada lagi.

Padahal sudah susah-susah adaptasi. Padahal sudah kerjasama ngerjain tugas bareng. Padahal hari ini sudah disiksa sama-sama di pelajaran olahraga. Padahal hari ini Devi udah tanya, “Rek, nama kelasnya apa?”. Padahal hari ini Martha bilang, “Rek ayo foto sekelas buat ava akun twitter kita.”. Padahal baru tadi malam aku buka-buka ulang web psb online dan stalking tanggal lahir anak-anak satu kelas. Padahal kita udah sama-sama baru 37 hari. Padahal aku nolak tawaran masuk aksel demi kelas ini. Padahal aku kira kita bakal bareng terus selama setahun ke depan. Padahal aku udah kadung sayang sama kelas ini.

Secepat itu ya, Rek?

Aku lho masih ingat kita berkumpul pertama kali sebagai XMSC6. 22 Juli 2013. Masih ingat betapa diam bangetnya kita waktu itu. Masih ingat waktu Bu Ruli tiba-tiba ngebahas buber pertama kita. Masih ingat waktu Nuzulul Quran di aula tugu saat yang lain konsentrasi baca Al-Quran dan kita malah mainan hp. Masih ingat waktu kita ketawa terus waktu denger logatnya Moses. Masih ingat gimana uangnya Jot mau disumbangin buat buber padahal katanya mau buat beli bensin. Masih ingat gimana aku nggak dikenal waktu upacara 17 Agustus -_- Masih ingat gimana Monica mati-matian promosi tahu gorengnya. Masih ingat gimana sekelas ngeborong dagangannya Monica dan langsung ludes sebelum istirahat. Masih ingat gimana kita semua mulai terbuka dan guyon seolah-olah kita kenal udah lama banget.

Aku masih ingat semuanya.

Padahal waktu di sekolah tadi aku cuma mbrabak. Padahal di sekolah tadi aku cuma diem, moodku hilang. Padahal di sekolah tadi air mataku nggak mau keluar.

Tapi sekarang kok beda? Setelah lihat SEMUA. SEMUA tweets yang mengingatkan kembali bahwa besok kita akan benar-benar pisah. SEMUA kenangan yang tiba-tiba melintas di kepalaku. SEMUANYA. Dan ditambah dengan lagu Missing You dan Don’t Go yang dinyanyiin sama Kim Ryeowook ft. Do Kyungsoo dan EXO, lengkap sudah. XMSC6 tetap ada di daftar kelas yang ada di sekolah, tapi rasanya nggak akan sama lagi.

Rek, aku lho sayang kalian :)
Sejak aku diterima di sekolah ini, aku selalu berdoa biar dapat kelas yang anaknya asik-asik dan yang walikelasnya enak banget. Ternyata... doaku terkabul. Allah ngasih hadiah terbaik buat aku. Akhirnya aku dapat tempat di antara kalian. Best-est class I’ve ever joined. Masih berharap kalo berita ini cuma hoax, masih mikir kalo kita cuma dikerjain sama sekolah…

Duh, belum apa-apa aku udah kangen kalian.
 
Credit to Nindy. Taken by Athayya. Abaikan botol narsis itu.

Keluarga bukanlah tentang darah siapakah yang mengalir di dalam tubuhmu. Keluarga adalah siapa yang kausayangi dan menyayangimu.” –Spy Next Door.

p.s itu fotonya ga lengkap. Ntar kalo ada yang lengkap aku ganti deh (?)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar