Minggu, 21 Juli 2013

Di Tengah Hutan (Cryptic part 12)

Finna tidak bisa berkonsentrasi menanggapi percakapan Vinno. Berkali-kali ia melirik Fanni yang sedang asyik bercakap-cakap dengan Radith di spot favoritnya, di tepi sungai.
                Fanni duduk di atas batu, dan Radith berdiri di sebelahnya. Finna tidak jelas mereka sedang bicara apa. Mungkin Radith sedang menerangkan tentang hutan ini dan segala penghuninya. Dan ternyata, pengetahuannya boleh juga.
                Di tempatnya duduk, tak jauh dari mereka, Finna tersentuh.
                Di wajah Fanni jelas terlihat satu perasaan yang tak bisa disangkal, bahkan oleh Finna sekalipun. Rasa bahagia. Rasa cinta. Rasa bahwa dirinya penting dan nomor satu. Perasaan yang sudah tidak pernah Fanni rasakan sejak… entah kapan.
                Finna menunduk lagi.
                “Ma…” Vinno menyenggol lengannya.
                Finna menengadah.
                “Apa yang kamu pikirkan?”
                Finna menggerakkan dagunya ke arah Fanni dan Radith yang masih asyik mengobrol. “Mereka,” ucapnya jujur.
                “Kenapa?”
                Finna ragu sejenak. Ia melayangkan pandang lagi ke Fanni, yang kebetulan juga sedang menatap ke arahnya. Finna termangu. Ia bisa mendengar Radith berceloteh riang.
                “Aneh rasanya hidup ini ya, Fan.”
                “Kenapa bisa begitu?” Fanni mengembalikan perhatiannya pada Radith.
                Di tempatnya duduk, Finna bisa melihat cowok itu tertawa, menyibakkan rambut ke belakang.
                “Yah, kadang aneh bagaimana hidup bisa membawamu ke jalinan cerita yang tak pernah kautebak sebelumnya. Jalinan yang tak pernah kauduga ada. Tahu-tahu kau sudah ada di tempat ini, saat ini, bersama orang yang kemarin asing bagimu. Dan kamu merasa bahagia.”
                “Tidakkah itu membuatmu takut?”
                Finna mengerutkan kening mendengar respons Fanni yang tak disangka-sangka.
                “Kenapa bisa begitu?” Tanya Radith lembut.
                “Yah, kamu bahagia. Saat ini, kamu merasa di puncak dunia. Namun tidak mustahil bukan, di detik berikutnya, semua mimpimu hancur berantakan. Lalu istana yang sudah susah payah kaubangun roboh jadi puing di kakimu,” ucap Fanni. Ada nada pahit dan pasrah di sana.
                Finna meraba dadanya. Kepahitan itu juga membuat Finna sakit.
                “Saat ini, apa yang kaurasakan?” Tanya Radith pelan.
                “Bahagia,” ucap Fanni tanpa ragu.
                “Itu yang paling penting.” Radith tersenyum lembut. Ia membawa jemari Fanni ke genggaman tangannya, memegangnya erat.
                Finna memalingkan wajah.
                “Ma?”
                Sampai lupa, sedari tadi Vinno masih menunggu kalimat keluar dari mulutnya dengan sabar. Finna sampai lupa apa yang ditanyakan Vinno tadi.
                “Eh, maaf. Kamu tadi tanya apa ya, Vin?”
                “Kenapa dengan mereka?” ulang Vinno sabar. “Adakah yang salah, Ema? Karena rasanya, semua baik-baik saja.”
                Finna terdiam lagi. “Tidak.” Akhirnya ia menggeleng dan memaksakan senyum. “Kamu benar, Vin. Mereka tidak apa-apa. Bahkan kamu bisa lihat kan, mereka bahagia.”
                Vinno ikut menoleh mengikuti pandangan kekasihnya itu.
                “Jadi, kita pulang ya,” ajaknya lembut. “Senja mulai turun, Ma. Cuaca jadi dingin. Lebih baik kita kembali ke rumah. Aku yakin, ibumu pasti sudah menyiapkan makanan yang enak untuk kita.”
                “Dan kopi untukmu.” Finna tersenyum juga. “Teh panas untukku.”
                “Ya, lengkap dengan kopi, teh, mungkin cokelat.”
                “Itulah surga.”
                “Tidak ada yang lebih bahagia dari tempat semacam itu.” Vinno mengangguk setuju, menautkan jemarinya di sela jemari Finna yang lentik.

                Finna memberi isyarat selamat tinggal pada Fanni, yang tersenyum samar dan mengangguk. Kemudian mereka bergandengan tangan berjalan pulang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar