Selasa, 23 Juli 2013

'Cause Without You, Things Go Hazy (Cryptic part 13)

“Kamu gila, Fan.” Finna menatap saudarinya marah. Saat yang ia takutkan tiba juga. Tak ada yang bisa dilakukan untuk melewati masalah ini, kecuali dengan melaluinya.
            “Tidak.” Fanni menggeleng teguh.
            “Ya.” Finna mendengus. “Kamu impulsif.”
            “Aku?”
            “Jelas. Sudah berapa lama coba kamu kenal si Radith ini?”
            “Baru…”
            “Tiga hari,” tukas Finna keras. “Tapi kamu tiba-tiba bilang tidak ingin balik ke Malang. Kamu ingin tetap di sini bersamanya. Apa itu namanya kalau bukan bertindak impulsif?”
            Fanni mengangkat tangan, mencoba menyela. Tapi gagal. Finna terus mencerocos seperti kereta api berkecepatan tinggi.
            “Kenapa kamu tidak mau kembali ke apartemen kita?” serang Finna. Kali ini ia nyaris menangis.
            Fanni terdiam. Ia duduk di tepi ranjang, menunduk.
            Mereka memang tidak pernah berpisah.
            Ya, mungkin dulu pernah ada saat di masa kecil, ketika mereka harus dipisahkan karena Finna harus dirawat di rumah sakit. Tapi itupun Fanni sempat menunggui saudarinya, duduk di kursi di depan kamarnya di rumah sakit. Fanni masih ada di sana. Ia berdiri di balik kaca, menatap saudarinya yang terbaring lemah, di ranjang putih steril.
            Yang jelas mereka tidak pernah berpisah dengan cara seperti ini.
            Finna mendongak. Matanya berkaca-kaca.
            “Kamu punya Fanni Design,” ucapnya sebagai pembelaan terakhir. “Kamu punya pekerjaan di Malang, Fan. Kamu ‘kan bukan pengangguran. Apa yang akan kauperbuat dengan usahamu? Ayolah, Fan, mulailah berpikir dengan akal sehat. Jangan hanya dengan hati.”
            “Fin, kamu juga tahu, ada teknologi e-mail,” Fanni menyahut lembut, “ada handphone. Aku masih bisa bekerja dari Pacitan.”
            “Tidak sama.” Finna menggeleng pahit. “Itu berbeda.”
            “Memang,” jawab Fanni. “Tapi itu bisa menjadi lebih baik, kan?” Fanni menggenggam tangan saudarinya dengan lembut. “Fin, keadaan akan menjadi lebih baik. Tidak bisakah kamu melihat itu?”
            Finna tetap menunduk, membisu.
            Di sebelahnya, Fanni menjelaskan makin seru. “Aku bisa menerima pesanan dari tempat ini. Aku bisa menggambar di sini, Fin. Di tempat ini, inspirasi lancar mengalir. Kemudian aku bisa meng-convert hasilnya dalam bentuk PDF, mengirim soft copy via e-mail ke klien. Fin, ini sempurna.”
            Finna menggeleng keras kepala.
            Fanni menarik napas panjang dan menghembuskannya kembali.
            Tiba-tiba Finna bangkit berdiri dan membuka lemari. Ia mengeluarkan koper hitam milik Fanni. Tangannya dengan cekatan bergerak, memasukkan barang demi barang ke koper tersebut. Mulai dari pakaian Fanni, celana jins, dan alat riasnya.
            “Apa yang kaulakukan?” tanya Fanni tercengang.
            “Membantumu berkemas.” Finna menjawab pasti.
            “Fin,” Fanni menggeleng. Matanya mulai berkaca. Ia tersenyum lemah, tapi suaranya mantap. “Aku tidak akan kembali, dan keputusan itu sudah bulat.” Fanni menunduk. “Maaf.” Ucapnya.
            Finna terduduk lelah, termangu.
            “Maaf, Fin.” Ulang Fanni lembut.
            “Kamu…”
            “Fin.” Fanni menggeleng sedikit. “Coba dengar aku. Kamu saudariku yang paling hebat, yang selalu menasihatiku dari pertama supaya aku mau bergaul.”
            Fanni bisa melihat tubuh Finna menegang. Tapi ia belum selesai.
            “Kamu selalu menasihatiku: carilah teman, Fan. Kamu selalu mendesakku: Fan, kamu harus bergaul. Kamu selalu bilang, hidup seperti pertapa ini tidak sehat. Ayo, Fan, bangkit, carilah pacar…”
            “Tapi…”
            “Dan sekarang, aku menemukannya.” Fanni tersenyum. Air matanya sudah mengalir.
            Finna mulai tersedu.
            “Lalu kenapa kamu menghalangiku?”
            Kini tidak hanya Fanni, Finna pun sudah menangis. Air matanya turun tak tertahan. Dan ia mulai tersedu sedan.
            “Apa yang harus kuperbuat tanpa kamu?” Finna menggigit bibirnya getir.
            “Finna sayang…”
            “Sejak dulu, kamulah saudariku yang paling dekat denganku.” Finna menengadah, mencoba tersenyum dengan pipi sembab karena tangis. Usahanya tidak terlalu berhasil. “Kamu selalu ada, Fan. Kamu tidak pernah pergi dari sisiku. Kita selalu bersama. Kini…”
            “Oh, Finna.” Fanni memeluk saudarinya erat. “Seperti katamu selalu, kita tidak pernah berpisah. Biarpun kita jauh tapi percayalah, hati kita akan selalu satu, Fin.”
            “Tapi itu tidak sama.” Finna menggeleng, masih menangis.
            “Memang tidak.” Fanni mengangguk setuju. “Tapi mungkin saja kita bisa berusaha, supaya situasi menjadi lebih baik? Kamu dengan Vinno? Aku dengan Radith? Bisa kan, Fin?”
            “Apa yang harus kuperbuat tanpa kamu?” tanya Finna getir. “Tanpamu, Fan, hari akan selalu kelabu. Kamu yang selalu ada sejak dulu. Kalau ada apa-apa, aku hanya cerita padamu. Dengan kamu tinggal di sini, dan aku di Malang, bagaimana aku bisa bercerita tentang semua perkembangan hidupku lagi?”
            Fanni menggeleng dengan pipi basah. Kini ia juga tak sanggup mengucapkan apa-apa. Tapi Finna tahu apa yang dirasakan oleh Fanni. Itulah salah satu berkat atau kutuk dengan dilahirkan kembar. Tapi ia mengerti, di sisi lain, Fanni pun tercabik. Tertoreh dengan perih yang sama seperti yang dia rasakan.

            What if I fall and hurt myself,
            Would you know how to fix me?
            What if I went and lost myself,
            Would you know where to find me?
            If I forgot who I am,
            Would you please remind me?
            ‘Cause without you, things go hazy.


(*Hazy – Rosi Golan ft. William Fitzsimmons)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar