Selasa, 27 Agustus 2013

Farewell

Ini akan jadi post yang sangat panjang. Saya ingatkan jika anda malas membacanya dan menganggap ini sangat alay dan lebay, lebih baik anda membatalkan niat anda untuk membaca post ini. Lah emang ini yang pengen saya tulis kok~ Dan isi post ini murni pendapat dan perasaan saya saja (?)

Selasa, 23 Juli 2013

'Cause Without You, Things Go Hazy (Cryptic part 13)

“Kamu gila, Fan.” Finna menatap saudarinya marah. Saat yang ia takutkan tiba juga. Tak ada yang bisa dilakukan untuk melewati masalah ini, kecuali dengan melaluinya.
            “Tidak.” Fanni menggeleng teguh.
            “Ya.” Finna mendengus. “Kamu impulsif.”
            “Aku?”
            “Jelas. Sudah berapa lama coba kamu kenal si Radith ini?”
            “Baru…”
            “Tiga hari,” tukas Finna keras. “Tapi kamu tiba-tiba bilang tidak ingin balik ke Malang. Kamu ingin tetap di sini bersamanya. Apa itu namanya kalau bukan bertindak impulsif?”
            Fanni mengangkat tangan, mencoba menyela. Tapi gagal. Finna terus mencerocos seperti kereta api berkecepatan tinggi.
            “Kenapa kamu tidak mau kembali ke apartemen kita?” serang Finna. Kali ini ia nyaris menangis.
            Fanni terdiam. Ia duduk di tepi ranjang, menunduk.
            Mereka memang tidak pernah berpisah.
            Ya, mungkin dulu pernah ada saat di masa kecil, ketika mereka harus dipisahkan karena Finna harus dirawat di rumah sakit. Tapi itupun Fanni sempat menunggui saudarinya, duduk di kursi di depan kamarnya di rumah sakit. Fanni masih ada di sana. Ia berdiri di balik kaca, menatap saudarinya yang terbaring lemah, di ranjang putih steril.
            Yang jelas mereka tidak pernah berpisah dengan cara seperti ini.
            Finna mendongak. Matanya berkaca-kaca.
            “Kamu punya Fanni Design,” ucapnya sebagai pembelaan terakhir. “Kamu punya pekerjaan di Malang, Fan. Kamu ‘kan bukan pengangguran. Apa yang akan kauperbuat dengan usahamu? Ayolah, Fan, mulailah berpikir dengan akal sehat. Jangan hanya dengan hati.”
            “Fin, kamu juga tahu, ada teknologi e-mail,” Fanni menyahut lembut, “ada handphone. Aku masih bisa bekerja dari Pacitan.”
            “Tidak sama.” Finna menggeleng pahit. “Itu berbeda.”
            “Memang,” jawab Fanni. “Tapi itu bisa menjadi lebih baik, kan?” Fanni menggenggam tangan saudarinya dengan lembut. “Fin, keadaan akan menjadi lebih baik. Tidak bisakah kamu melihat itu?”
            Finna tetap menunduk, membisu.
            Di sebelahnya, Fanni menjelaskan makin seru. “Aku bisa menerima pesanan dari tempat ini. Aku bisa menggambar di sini, Fin. Di tempat ini, inspirasi lancar mengalir. Kemudian aku bisa meng-convert hasilnya dalam bentuk PDF, mengirim soft copy via e-mail ke klien. Fin, ini sempurna.”
            Finna menggeleng keras kepala.
            Fanni menarik napas panjang dan menghembuskannya kembali.
            Tiba-tiba Finna bangkit berdiri dan membuka lemari. Ia mengeluarkan koper hitam milik Fanni. Tangannya dengan cekatan bergerak, memasukkan barang demi barang ke koper tersebut. Mulai dari pakaian Fanni, celana jins, dan alat riasnya.
            “Apa yang kaulakukan?” tanya Fanni tercengang.
            “Membantumu berkemas.” Finna menjawab pasti.
            “Fin,” Fanni menggeleng. Matanya mulai berkaca. Ia tersenyum lemah, tapi suaranya mantap. “Aku tidak akan kembali, dan keputusan itu sudah bulat.” Fanni menunduk. “Maaf.” Ucapnya.
            Finna terduduk lelah, termangu.
            “Maaf, Fin.” Ulang Fanni lembut.
            “Kamu…”
            “Fin.” Fanni menggeleng sedikit. “Coba dengar aku. Kamu saudariku yang paling hebat, yang selalu menasihatiku dari pertama supaya aku mau bergaul.”
            Fanni bisa melihat tubuh Finna menegang. Tapi ia belum selesai.
            “Kamu selalu menasihatiku: carilah teman, Fan. Kamu selalu mendesakku: Fan, kamu harus bergaul. Kamu selalu bilang, hidup seperti pertapa ini tidak sehat. Ayo, Fan, bangkit, carilah pacar…”
            “Tapi…”
            “Dan sekarang, aku menemukannya.” Fanni tersenyum. Air matanya sudah mengalir.
            Finna mulai tersedu.
            “Lalu kenapa kamu menghalangiku?”
            Kini tidak hanya Fanni, Finna pun sudah menangis. Air matanya turun tak tertahan. Dan ia mulai tersedu sedan.
            “Apa yang harus kuperbuat tanpa kamu?” Finna menggigit bibirnya getir.
            “Finna sayang…”
            “Sejak dulu, kamulah saudariku yang paling dekat denganku.” Finna menengadah, mencoba tersenyum dengan pipi sembab karena tangis. Usahanya tidak terlalu berhasil. “Kamu selalu ada, Fan. Kamu tidak pernah pergi dari sisiku. Kita selalu bersama. Kini…”
            “Oh, Finna.” Fanni memeluk saudarinya erat. “Seperti katamu selalu, kita tidak pernah berpisah. Biarpun kita jauh tapi percayalah, hati kita akan selalu satu, Fin.”
            “Tapi itu tidak sama.” Finna menggeleng, masih menangis.
            “Memang tidak.” Fanni mengangguk setuju. “Tapi mungkin saja kita bisa berusaha, supaya situasi menjadi lebih baik? Kamu dengan Vinno? Aku dengan Radith? Bisa kan, Fin?”
            “Apa yang harus kuperbuat tanpa kamu?” tanya Finna getir. “Tanpamu, Fan, hari akan selalu kelabu. Kamu yang selalu ada sejak dulu. Kalau ada apa-apa, aku hanya cerita padamu. Dengan kamu tinggal di sini, dan aku di Malang, bagaimana aku bisa bercerita tentang semua perkembangan hidupku lagi?”
            Fanni menggeleng dengan pipi basah. Kini ia juga tak sanggup mengucapkan apa-apa. Tapi Finna tahu apa yang dirasakan oleh Fanni. Itulah salah satu berkat atau kutuk dengan dilahirkan kembar. Tapi ia mengerti, di sisi lain, Fanni pun tercabik. Tertoreh dengan perih yang sama seperti yang dia rasakan.

            What if I fall and hurt myself,
            Would you know how to fix me?
            What if I went and lost myself,
            Would you know where to find me?
            If I forgot who I am,
            Would you please remind me?
            ‘Cause without you, things go hazy.


(*Hazy – Rosi Golan ft. William Fitzsimmons)

Minggu, 21 Juli 2013

Di Tengah Hutan (Cryptic part 12)

Finna tidak bisa berkonsentrasi menanggapi percakapan Vinno. Berkali-kali ia melirik Fanni yang sedang asyik bercakap-cakap dengan Radith di spot favoritnya, di tepi sungai.
                Fanni duduk di atas batu, dan Radith berdiri di sebelahnya. Finna tidak jelas mereka sedang bicara apa. Mungkin Radith sedang menerangkan tentang hutan ini dan segala penghuninya. Dan ternyata, pengetahuannya boleh juga.
                Di tempatnya duduk, tak jauh dari mereka, Finna tersentuh.
                Di wajah Fanni jelas terlihat satu perasaan yang tak bisa disangkal, bahkan oleh Finna sekalipun. Rasa bahagia. Rasa cinta. Rasa bahwa dirinya penting dan nomor satu. Perasaan yang sudah tidak pernah Fanni rasakan sejak… entah kapan.
                Finna menunduk lagi.
                “Ma…” Vinno menyenggol lengannya.
                Finna menengadah.
                “Apa yang kamu pikirkan?”
                Finna menggerakkan dagunya ke arah Fanni dan Radith yang masih asyik mengobrol. “Mereka,” ucapnya jujur.
                “Kenapa?”
                Finna ragu sejenak. Ia melayangkan pandang lagi ke Fanni, yang kebetulan juga sedang menatap ke arahnya. Finna termangu. Ia bisa mendengar Radith berceloteh riang.
                “Aneh rasanya hidup ini ya, Fan.”
                “Kenapa bisa begitu?” Fanni mengembalikan perhatiannya pada Radith.
                Di tempatnya duduk, Finna bisa melihat cowok itu tertawa, menyibakkan rambut ke belakang.
                “Yah, kadang aneh bagaimana hidup bisa membawamu ke jalinan cerita yang tak pernah kautebak sebelumnya. Jalinan yang tak pernah kauduga ada. Tahu-tahu kau sudah ada di tempat ini, saat ini, bersama orang yang kemarin asing bagimu. Dan kamu merasa bahagia.”
                “Tidakkah itu membuatmu takut?”
                Finna mengerutkan kening mendengar respons Fanni yang tak disangka-sangka.
                “Kenapa bisa begitu?” Tanya Radith lembut.
                “Yah, kamu bahagia. Saat ini, kamu merasa di puncak dunia. Namun tidak mustahil bukan, di detik berikutnya, semua mimpimu hancur berantakan. Lalu istana yang sudah susah payah kaubangun roboh jadi puing di kakimu,” ucap Fanni. Ada nada pahit dan pasrah di sana.
                Finna meraba dadanya. Kepahitan itu juga membuat Finna sakit.
                “Saat ini, apa yang kaurasakan?” Tanya Radith pelan.
                “Bahagia,” ucap Fanni tanpa ragu.
                “Itu yang paling penting.” Radith tersenyum lembut. Ia membawa jemari Fanni ke genggaman tangannya, memegangnya erat.
                Finna memalingkan wajah.
                “Ma?”
                Sampai lupa, sedari tadi Vinno masih menunggu kalimat keluar dari mulutnya dengan sabar. Finna sampai lupa apa yang ditanyakan Vinno tadi.
                “Eh, maaf. Kamu tadi tanya apa ya, Vin?”
                “Kenapa dengan mereka?” ulang Vinno sabar. “Adakah yang salah, Ema? Karena rasanya, semua baik-baik saja.”
                Finna terdiam lagi. “Tidak.” Akhirnya ia menggeleng dan memaksakan senyum. “Kamu benar, Vin. Mereka tidak apa-apa. Bahkan kamu bisa lihat kan, mereka bahagia.”
                Vinno ikut menoleh mengikuti pandangan kekasihnya itu.
                “Jadi, kita pulang ya,” ajaknya lembut. “Senja mulai turun, Ma. Cuaca jadi dingin. Lebih baik kita kembali ke rumah. Aku yakin, ibumu pasti sudah menyiapkan makanan yang enak untuk kita.”
                “Dan kopi untukmu.” Finna tersenyum juga. “Teh panas untukku.”
                “Ya, lengkap dengan kopi, teh, mungkin cokelat.”
                “Itulah surga.”
                “Tidak ada yang lebih bahagia dari tempat semacam itu.” Vinno mengangguk setuju, menautkan jemarinya di sela jemari Finna yang lentik.

                Finna memberi isyarat selamat tinggal pada Fanni, yang tersenyum samar dan mengangguk. Kemudian mereka bergandengan tangan berjalan pulang.

Jumat, 05 Juli 2013

I've Been Tagged!

Hai! How's life? Banyak hal yang terjadi sejak terakhir kali aku ngepost sesuatu di blog ini. Salah satunya adalah Nexia Nevarachell yang menyertakan saya dalam salah satu post-nya dan mengajukan beberapa tantangan. Maka dari itu saya akan menjawabnya mueheheh. Ini dia hidangan utamanya!

RULES

1. Post this rule
2. Write 11 things about yourself.
3. Answer the question the tagger set to you.
4. Create 11 new questions for those you want to tag.
5. Choose 11 bloggers to be tagged and link them to the post.
6. You are not allowed to tag back.

11 things about myself.

1. 14 years old. SMA Negeri 1 Malang HAHAHAHA --> baru diterima. *kemudian dilempari telor*
2. Choco-addicted. Di tasnya selalu tersimpan barang-barang seperti cokelat, permen cokelat, eskrim cokelat (lek belum meleleh), jajan yang mengandung cokelat, atau susu cokelat bubuk yang sachetan (jadi makannya digado gitu), atau salah satu dari semuanya.
3. Memiliki ketergantungan tidak sehat terhadap novel. Setiap sebulan sekali atau dua bulan sekali selalu menghabiskan uang tabungan dari uang jajan buat beli satu novel... diam-diam.
4. Cewek yang lebih cocok jadi cowok. Suka main game cowok, buka 1cak, baca komik Naruto, kalo jalan ga bisa kayak cewek pada umumnya. Ini kata sepupuku.
5. Kalo liat film paling suka kalo ada adegan yang banyak darahnya (?) Tapi geli kalo liat darah di kehidupan sehari-hari (?)
6. Pecinta hujan, laut, dan bintang.
7. Penulis kacangan yang mulai agak bosan dengan dunia tulis-menulis dan mencoba dunia baru (baru coba-coba lho), ngegambar komik. Tapi bikin satu halaman aja ga jadi-jadi.
8. Gak bisa ngomong 'R', agak sering dibully karena hal itu -_-
9. Kalo berimajinasi suka keterlaluan. Kemungkinan terjadinya cuma 2,9%. --> korban Cinta dalam Kardus.
10. Tergila-gila sama Secondhand Serenade. Punya semua lagunya di hape. Semua. Soalnya John ganteng banget <3 Suaranya juga enak kok. Tergila-gila juga pada Do Kyungsoo dan Cho Kyuhyun. Emang yang namanya ada Kyu-nya suaranya enak banget dan orangnya juga ganteng banget wkwkw.
11. Selalu merusakkan segala benda yang dipegang, cepat atau lambat. Termasuk makhluk hidup. Nyamuk misalnya. Padahal cuma nangkep pake tangan tapi nyamuknya langsung mati.

Questions from Nexia.

1. Apa kamu berpikir orang yang berbicara jujur berarti jalang? Kenapa?
   Ya nggak sih hwhw soalnya jujur dan jalang itu dua hal yang beda jauh. Jujur itu perbuatan baik, perintah agama pula. Jalang itu elek pokok e (?)
2. Lagu yang menjelaskan dirimu?
   Haha gatau. Yang paling deket kayaknya Secondhand Serenade - Is There Anybody Out There.
3. Choose one: good books or old movies? Why?
   Good books. Gampang didapetinnya dan mudah dibawa-bawa wkwk.
4. A-list with fake friends or D-list with your truly besties?
   D-list with my truly besties. Nggak ada orang yang suka sesuatu yang palsu, kan? :)
5. Mainstream or out of the box? Why?
   Out of the box. Lebih asik jadi beda dari orang lain.
6. Oreo or Red Velvet? Explain why
   Oreo. Ada cokelatnya. Aku ga tau apa itu Red Velvet -_-
7. Your bestfriend or your girl/boyfriend? Explain why.
   Bestfriend. Ada istilah 'ex-girl/boyfriend', tapi ga ada istilah 'ex-bestfriend'.
8. Melihat bintang-bintang yang indah ketika mati lampu atau merasakan angin sepoi-sepoi saat langit mendung dan cuaca berangin?
   Melihat bintang-bintang yang indah ketika mati lampu. Karena Dia akan datang bersama bintang. Tapi aku takut gelap. #epicfail
9. Satu kata yang mendeskripsikan Nexia?
   Nyentrik.
10. The best regret?
   Tidak ada. Wkwk jawaban ini diganti karena ada kesalahpahaman sebelumnya. Menengo kon.
11. Hal ter-random yang kamu pikirkan sekarang?
   Pas lulus SMA nanti aku diterima di FKUI jalur undangan terus kerja jadi dokter spesialis kanker (mbo onok po ra wkwk) terus jadi dokter yang nyiptain obat kanker jadi pasiennya ga perlu repot-repot operasi dan ngejalanin kemoterapi gitu wkwk. Terus jadi kepala rumah sakit yang ngebebasin biaya rumah sakit buat masyarakat kurang mampu. Lalu entah bagaimana bertemu dengan Fobos yang juga udah sukses terus kita nikah, punya anak, dan hidup bahagia selama-lamanya.

Keterlaluan gak sih -.-

Question from mehhh.

Okay I have nothing to write here tapi aku cuma mau ngasih satu pertanyaan simpel aja deh wkwkw.

1. Bagaimana cara kamu mengenal saya dulu dan kenapa masih betah jadi teman saya?

I have no idea tentang siapa yang mau aku tag jadi terserah deh siapa aja yang mau jawab pertanyaan ini heheh ._. Jawab di mana aja terserah. Mau di komentar, di shoutbox, di mana aja deh. Atau bikin satu post full tentang saya juga gapapa kok :p /kicked then/

Let me know your answer! ;)

Jumat, 24 Mei 2013

Dia

Dia. Dia adalah cewek teraneh yang pernah kutemui. Dia tidak cantik di mata kebanyakan orang. Dia juga tidak terlalu pintar. Dia adalah orang yang sangat-sangat pendiam. Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa ada orang yang bisa hampir tidak berbicara sepatah katapun selama hampir dua jam. Dia hanya berbicara seperlunya, hanya jika ada yang bertanya padanya. Dia tidak sombong, dia hanya seorang yang sangat pemalu.

Tapi setelah mengenalnya beberapa lama, aku baru tahu dia adalah orang yang sangat ceria. Dia tetap hemat bicara ketika kami bertemu, tapi setelah berkomunikasi lewat pesan singkat, dia bisa berubah menjadi seorang yang cerewet. Aku memutuskan dia adalah orang yang tidak bisa mengungkapkan apa yang ingin dia katakan lewat lisan, tapi tulisan.

Dia sangat suka menyalahkan dirinya sendiri. Meskipun itu bukan salahnya, dia selalu punya seribu cara untuk memutarbalikkan fakta, menjadikan dirinyalah yang bersalah.

Dia sensitif. Selalu merasa bersalah setiap ada orang yang berteriak padanya. Padahal orang itu tidak sedang marah. Dia selalu menjadi orang yang terlalu banyak meminta maaf, padahal sebenarnya dia tidak bersalah.

Karena sifatnya yang mudah merasa bersalah seperti itu, dia tidak pernah bisa marah pada seseorang. Dia tidak pernah menyalahkan orang lain. Tidak akan pernah bisa. Setiap ada masalah, dia selalu meminta maaf duluan. Bahkan kepadaku. Aku heran kenapa dia mau melakukan sesuatu yang akan membuat orang memandang rendah dirinya seperti itu.

Dia orang yang selalu menerima semua pendapat orang lain. Dia tidak pernah memaksakan pendapatnya. Ketika dia mengemukakan pendapatnya dan ada orang lain yang menyangkalnya, dia pasti akan langsung mengalah—tidak membahas pendapatnya lebih jauh dan lebih memilih untuk mengikuti kemauan orang yang menyangkalnya tadi. Alhasil, dia tidak pernah mendapatkan apa yang dia inginkan.

Dia orang yang sangat mudah khawatir dan panik. Kadang ketika aku sedang baik-baik saja dan tidak ada apa-apa dia tiba-tiba mengirimiku pesan untuk selalu berhati-hati walau seringkali kuabaikan. Aku tidak tahu kenapa dia sebegitu mengkhawatirkanku. Tapi aku selalu tahu, itu hanya karena dia tidak mau aku hilang dari hidupnya. Konyol memang, karena aku tahu aku tidak akan pernah melakukan itu.

Dia orang yang sangat perhatian. Dia dengan setia selalu mengirimiku pesan singkat untuk menyemangatiku. Padahal sebelum dia mengirimiku pesan itu, aku baru saja akan meminta doanya. Kurasa kami memang benar-benar terhubung.

Dia selalu menganggap semua orang itu baik hati. Dia tidak pernah bisa membenci seseorang karena setiap dia akan melakukannya, dia selalu teringat kebaikan yang dilakukan orang itu. Padahal seharusnya dia tahu, dia sangat berhak untuk merasa sedikit kesal pada seseorang dan melampiaskan emosinya daripada harus memendamnya dan menyakiti dirinya. Itu tidak sehat.

Dia adalah seorang penyendiri. Dia lebih memilih untuk sendiri daripada harus mengganggu orang di sekitarnya karena dia selalu menganggap bahwa keberadaannya hanya akan menyusahkan orang lain. Padahal seharusnya dia sadar bahwa dirinya itu penting, dia sangat berharga. Dia banyak membantuku melewati kesepian yang menyakitkan. Aku sangat berterima kasih karenanya.

Dia adalah seorang pecinta hujan. Setiap kali hujan turun, dia selalu menutup matanya, mendengarkan irama hujan yang membentur atap rumahnya dan pergi ke luar rumahnya hanya untuk menikmati wangi khas hujan. Ketika orang lain sibuk berlari untuk mencari tempat berteduh, dia malah berdiam diri di tengah hujan. Dia selalu percaya jika berdoa di bawah hujan, maka doa tersebut akan terkabul. Dia tidak peduli jika hari-hari setelahnya dia jatuh sakit karena terlalu lama hujan-hujanan. Dasar aneh.

Dia punya kemampuan yang sangat langka. Dia tidak pernah menceritakannya padaku, aku mengetahuinya dari cerita salah satu temanku. Tapi kemampuannya ini membuatnya sangat ketakutan. Dia pernah menceritakan sesuatu tentangku yang dia dapatkan dari kemampuannya ini. Karena itu dia selalu menyuruhku selalu berhati-hati dalam melakukan sesuatu.

Karena kemampuan istimewanya ini, dia dijauhi teman-temannya. Dia jadi lebih sering diam dibandingkan dengan dirinya yang dulu, bahkan di media tulisan. Suatu ketika aku diberitahu oleh temanku alasan mengapa dia tidak pernah menceritakan kemampuannya padaku: dia tidak mau aku ikut-ikutan menjauh darinya. Seharusnya dia tahu, aku tidak akan pernah melakukan itu.

Dia pernah berkata, dia selalu kesepian sepanjang hidupnya. Satu-satunya teman yang dia miliki hanyalah aku dan seorang temanku yang lain. Dia bilang, tidak pernah ada orang yang menjalin pertemanan dengannya dalam waktu lama. Mereka selalu tiba-tiba berubah menjadi dingin dan menjauh darinya perlahan-lahan. Dia bilang, mereka menjauhinya karena mereka menganggapnya sebagai orang aneh yang dunianya beda jauh dengan dunia mereka. Dia bisa mengetahuinya karena dia pernah tidak sengaja mendengarnya. Aku paham bagaimana rasanya diperlakukan seperti itu.

Walau begitu, dia tidak pernah marah pada orang-orang yang menjauhinya. Dia tidak pernah protes setiap kali ada orang yang ingin berteman dengannya namun beberapa lama kemudian mereka melenggang pergi karena menganggapnya terlalu aneh. Dia tidak pernah menangisi hal itu. Dia bilang tidak ada gunanya marah, protes, dan menangis. Dia benar-benar terlalu sabar. Aku tidak tahu apakah mereka-mereka itu memang keterlaluan atau hatinyalah yang terlalu lembut.

Sejak hari di mana dia menceritakan sesuatu tentangku itu, dia tidak pernah muncul lagi. Namanya tidak pernah terpampang lagi di layar handphone-ku setiap ada pemberitahuan adanya pesan masuk. Dia tidak pernah datang lagi untuk bercerita, bahkan untuk sekedar bertukar kabar. Dia pergi, menghilang begitu saja. Tapi firasatku mengatakan bahwa dia tetap ada di sana, mengawasiku dari kejauhan.

Kuharap dia akan kembali. Aku merindukannya. Rindu sekali.

Aku selalu mengingat semua tentangmu ketika hujan tiba.


p.s. : Ini hanya sebuah fiksi biasa. Tapi bohong :p Kau tahu siapa 'dia'? Akulah 'dia'.

        Aku nggak tahu gimana sudut pandangmu. Iya, aku selalu sok tahu.

Selasa, 16 April 2013

Fourteen Gifts

Saya primapradipta, saat ini resmi berumur 14 tahun. Ya, 14 tahun.
Itu berarti saya dewasa. Tapi muda. Tapi dewasa. Tapi muda (?)

Peresmian umur saya yang ke-14 terjadi pada hari kemarin tepat tanggal 15 April 2013.
Pada hari itu saya berasa jadi artis. Dalam sesaat saya terkenal. Tersohor. Well known. Famous. Atau sebangsanya. Notif FB saya penuh (padahal yang ngucapin di fb cuma 38). Mention saya... biasa aja (yang ngucapin cuma 8). Hp saya juga biasa aja. (yang ngucapin lewat sms, whatsapp, dan lain-lain ada 9). Pada nagih utang. Hehe. Tapi lumayan lah. Teman-teman sekelas gada yang ngucapin di FB, twitter, whatsapp, ataupun sms. Soalnya mereka ngucapin langsung.

Kamis, 11 April 2013

Bulbo ala Bang @benakribo

Jadi akhir-akhir ini aku lagi suka ngestalk TL dan blognya bang @benakribo dan hasil stalking-nya udah sampe post-post... dua tahun yang lalu... -_- Terus nemu bulbo ini. Kece abis. *ngomong sama tembok*

Minggu, 31 Maret 2013

Happy Me is So Happy

"...dan juara pertama Lomba Cerpen tingkat SMP/MTs se-Malang raya jatuh kepada... SMP Negeri 1 Malang atas nama... Primaridiana P dengan judul Ketika Sang Saka Berkibar!"
"AAAAAAAA" /pingsan/ /tapi bohong/ /ditapuk/ 

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT seru sekalian alam. AKU MENANG LOMBA CERPEN WOY! /shutupyourmouthprimaplease/


Terima kasih untuk kakak-kakak @KIAS_SMANSA yang merelakan waktu, tenaga, dan pikirannya (?) untuk menyelenggarakan acara Journalism Workshop & Competition--yang serius sukses banget!-- dan memberikan sertifikat, trofi, dan duit senilai gak tau--soalnya duitnya di dalam amplop dan amplopnya belum dibuka karena sayang-- untuk cerpen saya :'3

Terima kasih karena sebenarnya saya memang sedang dalam krisis moneter untuk sekedar membeli novel baru. Boro-boro mau beli novel, jajan di kopsis aja harus berpikir seberpikir-berpikirnya orang berpikir (?) Yah kok malah curhat.

Dengan begini, saya bisa menghabiskan sisa-sisa uang jajan (tapi kok sayang ya) yang sebenarnya baru akan saya tabung mulai hari ini (kalo seandainya nggak menang) untuk membeli dua buah novel incaran berikutnya, The Lost Hero (buatan Rick Riordan WOY!) sama Assassin's Creed (buatan Oliver Bowden, game-nya aja udah keren apalagi novelnya, yang ada Ezio Auditore da Firenze mumu).

Doakan aku, kawan, agar aku bisa sekedar mengganjal perut dengan Chacha supaya bisa membeli kedua novel selanjutnya. Harus nunggu selesai UNAS dulu ya tapi... *cedih

Sekali lagi terima kasih atas berkahnya, Ya Allah, always proud to be a muslim.














Aku nggak bisa mengalihkan pandangan dari mereka soalnya ada logo smansa ._.

Senin, 25 Maret 2013

Tentang Kesepian

Bodoh sekali kenapa aku baru menyadari bahwa selama SMP aku nggak punya teman. Nana--sahabatku dari SD--sekarang udah jarang ketemu dan dia juga sudah bersenang-senang bersama teman-teman barunya. Sedangkan di kelas, yang paling dekat cuma Mia dan Dinda. Tapi mereka beda jauh sama Nana. Bukan, aku tidak membanding-bandingkan. Bukan maksudku menganggap mereka bukan teman. Susah menjelaskannya. Kita memang sering bercanda bersama. Tapi kadang aku masih merasa takut dan sungkan sama mereka. Dunia kita nggak beda, kita cuma beda tempat berpijak.

Sabtu, 05 Januari 2013

Wanita Adalah Makhluk yang Sempurna, Hanya Satu yang Kurang Darinya



Ketika Tuhan sedang menciptakan wanita, malaikat datang dan bertanya,
“Mengapa begitu lama menciptakan wanita, Tuhan?”
Tuhan menjawab,
“Sudahkah engkau melihat setiap detail yang saya ciptakan untuk wanita? Lihatlah, kedua tangannya mampu menjaga banyak anak pada saat bersamaan, punya pelukan yang dapat menyembuhkan sakit hati dan keterpurukan, dan semua itu dilakukan hanya dengan dua tangan“.
Malaikat menjawab takjub,“Hanya dengan dua tangan? Tidak mungkin!"
Tuhan menjawab,
“Tidakkah kau tahu, dia juga mampu menyembuhkan dirinya sendiri dan bisa bekerja 18 jam sehari?“.
Malaikat mendekat dan mengamati wanita tersebut dan bertanya,
“Tuhan, kenapa wanita terlihat begitu lelah dan rapuh seolah-olah terlalu banyak beban baginya?”
Tuhan menjawab,
“Itu tidak seperti yang kau bayangkan, itu adalah air mata.”
“Untuk apa?“, tanya malaikat.
Tuhan melanjutkan,
“Air mata adalah salah satu cara dia mengekspresikan kegembiraan, kegalauan, cinta, kesepian, penderitaan, dan kebanggaan, serta wanita ini mempunyai kekuatan mempesona laki-laki, ini hanya beberapa kemampuan yang dimiliki wanita. Dia dapat mengatasi beban lebih dari laki-laki, dia mampu menyimpan kebahagiaan dan pendapatnya sendiri, dia mampu tersenyum saat hatinya menjerit, mampu menyanyi saat menangis, menangis saat terharu, bahkan tertawa saat ketakutan. Dia berkorban demi orang yang dicintainya, dia mampu berdiri melawan ketidakadilan, dia menangis saat melihat anaknya adalah pemenang, dia girang dan bersorak saat kawannya tertawa bahagia, dia begitu bahagia mendengar suara kelahiran. Dia begitu bersedih mendengar berita kesakitan dan kematian, tapi dia mampu mengatasinya. Dia tahu bahwa sebuah ciuman dan pelukan dapat menyembuhkan luka.”
“Cintanya pun tanpa syarat. Hanya ada satu yang kurang dari wanita, dia sering lupa betapa berharganya dia...”