Senin, 06 Agustus 2012

An Untold Story


“Satu-satunya pekerjaan terakhirku di dunia adalah membahagiakan orang-orang yang patut dibahagiakan.”
            “Oh ya? Apa maksudnya itu?”
            “Suatu saat kau pasti mengerti.” Kata lelaki berjubah putih itu seraya tersenyum.
            Gadis itu memberengut. “Bagaimana kalau aku mati sebelum merasakan betapa bahagianya umur 17?”
            Lelaki itu terdiam sejenak sebelum membuka mulutnya untuk berbicara.
            “Kau akan terus hidup dan pasti akan melewati umur 17 itu. Percayalah padaku. Dan berjanjilah, kau tidak akan mati mudah dengan dibunuh oleh penyakit bodoh seperti itu.” ujar si lelaki sambil mengacungkan jari kelingkingnya.
            Gadis itu hanya melongo sebelum akhirnya menyambut uluran kelingking itu, yang berarti ia berjanji akan melawan penyakit yang selama 16 tahun ini menggerogoti tubuhnya.

***

Aku tersentak. Mimpi itu datang lagi. Sebenarnya itu adalah kejadian nyata. Tapi entah kenapa selama beberapa hari terakhir ini ia selalu muncul sebagai mimpi.
            Di sampingku terlihat Kak Edo sedang makan siang dengan bakso. Lalu tiba-tiba aku bertanya.
“Kak Edo, jika aku sudah tidak ada lagi di dunia ini, apa yang akan kau lakukan?” pertanyaan yang tiba-tiba keluar dari mulutku itu membuat kakakku yang sedang makan bakso dengan nikmatnya itu mengeluarkan kembali bakso yang baru saja dimasukkan ke mulutnya.
            “Apa maksud pertanyaanmu?” kata Edo dengan nada kaget.
            Aku mengendikkan bahu. “Entahlah. Aku hanya ingin tahu saja.”
            “Hanya ingin tahu? Tidak ada kepentingan apa-apa, kan? Jadi aku tidak perlu menjawabnya, kan?” Kata Edo cuek. Atau lebih tepatnya, cuek yang dibuat-buat. Ia lalu melanjutkan makan yang tadi sempat tertunda.
            “Kenapa? Memangnya tidak boleh? Tentu saja aku berhak tahu. Aku ini adikmu, Kak. Adik yang dilahirkan dengan jantung tidak normal yang selalu membuat susah banyak orang. Aku juga tahu kok kalau hidupku tidak akan lama lagi.”
            Edo terbatuk-batuk, kemudian tertegun. Mungkin ia tersedak, pikirku.
“Jangan berkata begitu. Kau tidak pernah membuatku repot. Kau tidak akan mati semudah itu. Jangan berkata tentang hal bodoh seperti itu. Kau bisa sembuh, mungkin jika ada orang baik yang mau mendonorkan jantungnya untukmu.” Ujar Edo setelah meminum air putih di atas meja di sebelah tempat tidurku.
Aku tersenyum sinis. “Omong kosong. Mana ada orang sehat yang mau mendonorkan jantungnya hidup-hidup? Kau tahu kalau itu tak mungkin. Lagipula, siapa orang yang mau berkorban untukku? Aku memang tidak pantas untuk diperjuangkan.”
“Tak ada yang tak mungkin,” Edo mendesis. “Tak mungkin-lah yang tak ada, Nessa.”
“Kau tahu? Di dunia ini ada banyak orang yang sangat ingin hidup, tapi tak bisa. Dan banyak juga yang berjuang mati-matian menghadapi penyakit. Sampai kapan kau mau bermanja-manja dengan penyakit itu? Berhentilah seenaknya begitu. Apa kau tidak ingin berjuang melawan penyakitmu itu?” Kakakku itu menatapku tajam.
“Lagipula…” Kemudian ia melanjutkan. “Kata siapa kau tidak pantas diperjuangkan? Mungkin bagi dirimu, kau itu tidak berguna. Tapi, mungkin saja bagi orang lain, kau lebih berharga daripada berlian. Kau berharga bagiku, Ayah, dan Bunda. Kau tahu, Nes? Kau pantas diperjuangkan!”
Setelah berkata seperti itu, ia langsung menghabiskan makanannya, meminum air putih yang tadi, dan beranjak pergi menuju pintu setelah menyambar jaketnya.
“Tunggu!” teriakku menghentikan langkahnya. Edo kemudian menoleh ke arahku dengan tatapan menunggu.
“Kemana kau akan pergi?” tanyaku.
Ia terdiam sejenak, sebelum akhirnya membuka mulut juga. “Menunaikan pekerjaan terakhirku di dunia.” Kemudian ia menghilang dari kamar itu.

***

Ya, inilah aku. Gadis berumur 16 tahun bernama Vanessa Sanjaya Permana yang dilahirkan dengan jantung tidak normal sehingga harus bolak-balik ke rumah sakit jika penyakit sialan ini kambuh. Penyakit jantung bawaan ini bernama ilmiah Pulmonary Atresia. Kata dokter, itu kelainan jantung bawaan yang disebabkan karena buntunya aliran darah dari jantung ke paru-paru. Itu kata mereka. Aku juga lupa-lupa ingat.
            Dan karena jantung sialan ini pula, baik Ayah maupun kakakku harus selalu siap siaga membawaku ke rumah sakit disertai wajah cemas kalau-kalau penyakitku kambuh.
            Tapi selama 16 tahun aku merasakan udara segar dunia ini, aku sangat bersyukur karena Tuhan masih mau berbaik hati dengan memberikan pinjaman nafas padaku. Tapi kalau besok? Aku tak tahu apa Tuhan masih sebaik ini—membiarkanku hidup?
            Aku masih berada di kamar yang sama dengan yang kemarin ketika terakhir kali aku melihat Kak Edo. Entah kenapa, hari ini dia tidak ke sini lagi. Masih marah, mungkin? Memang aku saja yang keterlaluan. Untuk apa bertanya yang aneh-aneh? Aku harus minta maaf padanya.
            Aku merasa bosan di kamar terus. Setelah meminta izin kepada suster yang menjagaku, akhirnya aku diperbolehkan keluar juga setelah seharian kemarin berada di kamar dingin itu terus tanpa boleh kemana-mana. Aku sudah bosan bertahun-tahun selalu memasuki kamar yang relatif sama—berwarna putih pucat dan berbau obat-obatan yang menyengat.
            Untuk menyegarkan mataku, aku memilih untuk pergi ke taman di belakang rumah sakit. Biasanya taman itu digunakan sebagai tempat untuk latihan berjalan para pasien yang mengalami patah tulang kaki atau semacamnya. Sesampainya di sana, aku langsung duduk di sebuah bangku taman yang panjang.
Beberapa menit kemudian, datang seorang cowok yang sepertinya sepantaran denganku. Ia tampaknya bukan salah seorang pasien di sini, karena ia menggunakan jumper dan celana jeans panjang, sepatu kets berwarna putih, tas ransel hitam serta membawa psp seri terbaru.
Aku melirik ke arahnya sejenak. Tapi sepertinya keputusan yang salah karena detik selanjutnya aku mendapati diriku sedang tertegun, terkagum-kagum memandangi cowok tadi. Ia terlihat sangat keren. Matanya lebar dengan hidung mancung, bibirnya tipis, kulitnya putih, beralis sedikit tebal dengan rambut cokelat yang terpotong rapi. Sayangnya ia berjalan menggunakan kruk dan sedikit pincang sehingga kesan keren yang ia pancarkan sedikit memudar.Kyaaa, sepertinya sakit jantungku langsung sembuh, tapi kedengarannya nggak mungkin juga.
Sepertinya dia sadar kalau dirinya sedang dipandangi, karena sejurus kemudian dia menoleh padaku. Lalu tatapan kami bertemu. Sial, kenapa jadi seperti adegan di drama-drama romantis? Aku cepat-cepat memalingkan wajah, lalu beranjak pergi dari situ. Tapi tiba-tiba sebuah tangan mencengkeram tanganku, menghentikan langkahku. Ternyata tangan cowok tadi.
“Maaf, tunggu dulu. Apa kita pernah bertemu?” tanyanya.
Aku melongo beberapa saat sebelum menjawab. “Eh, ah. Kurasa tidak. Ada apa?”
Kening pemuda itu berkerut. “Entahlah, kurasa kita pernah bertemu. Biar aku tebak. Namamu pasti…” mata pemuda itu mengarah ke atas, berusaha mengingat sesuatu.
“Karin?” Tebak pemuda itu.
“Bukan.”
“Vanes?” Ia menebak lagi.
“Bukan. Sepertinya kita memang tidak pernah bertemu. Maaf, aku harus kembali ke kamarku.” Ujarku sambil menunduk, karena aku yakin sekarang wajahku sewarna tomat matang karena tangannya masih mencengkeram tanganku.
“Hei, hei. Baiklah. Mungkin namamu… Nessa, ya?” tebak pemuda itu sambil mengerling.
“Bagaimana kau tahu?” tanyaku penasaran seraya mengangkat muka.
“Sudah kubilang, kita pernah bertemu.” Ujarnya dengan tatapan usil, kemudian melanjutkan. “Kau ingat aku? Aku Reza. Reza Maulana. Teman SD-mu yang paling tampan itu.” Katanya sambil memamerkan evil smile-nya.
Aku mencoba mengingat-ingat. Aaah aku ingat, dia adalah Reza. Anak terpintar di kelasku yang juara olimpiade Matematika sekaligus teman sebangku yang paling nakal. Dia pernah menaruh bangkai tikus di loker mejaku dan permen karet di kursiku. Tapi walau begitu dulu dia memang sudah ganteng lho, aku pernah menyukainya. Ternyata sekarang sama saja.
Sebuah penyesalan timbul karena tadi aku sempat mencelanya pincang.
“Ooh si tengil rupanya. Sedang apa kau di sini?” tanyaku.
“Enak saja kau. Memangnya apa yang biasa kau lakukan di rumah sakit? Beli baju?” jawabnya sinis.
“Bukan begitu! Ah sudahlah. Kau sakit?”
“Sakit apa?”
“Justru karena itu aku bertanya, tolol.”
“Enak saja kau bilang aku tolol!”
“Buktinya waktu aku bertanya kau malah bertanya balik. Apa namanya kalau bukan tolol?”
“Kau yang tolol!”
“Kau!”
Lalu kami terus bertengkar sampai akhirnya dia menyerah dan aku merasa menang. Karena penasaran dengan cara berjalannya yang agak aneh, aku bertanya saja padanya tanpa basa-basi.
“Ada apa dengan kakimu?”
Reza yang sedang minum air mineral yang dibawa dalam tasnya langsung tersedak dan air minumnya sedikit tumpah. Dia menjawab setelah menormalkan kembali kerongkongannya dan mengelap jumpernya.
“Terlindas mobil.” Jawabnya dengan nada dan ekspresi datar.
Aku langsung melongo mendengar jawaban itu, kemudian bertanya lagi.
“Astaga! Kapan? Sudah lama?”
“Apa pedulimu?”
Dih, kenapa dia tiba-tiba berubah jadi sedingin ini?
“Tidak. Tidak jadi.” Aku memasang wajah cemberut dengan bibir yang maju tiga senti.
“Haha, lihatlah ekspresimu! Mukamu yang jelek jadi tambah jelek! Lucu banget sih!” katanya menunjuk-nunjuk mulutku sambil tertawa terbahak-bahak.
Oh, dasar sial! Dia sedang menjahiliku rupanya! Dasar Reza tolol! Aku langsung menghadiahi jitakan kecil di kepalanya.
Dia meringis sambil mengusap-usap kepalanya. “Kau masih galak rupanya,” kemudian ia melanjutkan, “Nggak begitu lama juga, sih. Sekitaran sebulan yang lalu.”
Aku hanya menjawab “Oh.” Jahat? Memang.
Tiba-tiba aku merasa hentakan keras dari dada kiriku. Semakin lama semakin keras, lalu mataku berkunang-kunang. Tiba-tiba semuanya menjadi putih, lalu gelap. Sekilas aku melihat Reza kebingungan dan matanya mengeluarkan cairan bening.

***

“Satu-satunya pekerjaan terakhirku di dunia adalah membahagiakan orang-orang yang patut dibahagiakan.” Papar Edo sembari memandang langit yang berwarna lebih biru dari biasanya dengan tatapan menerawang.
            Nessa yang duduk di sebelah kakaknya yang lebih tua dua tahun dari dirinya itu hanya memutar bola mata sekilas. “Terserah kau saja.”
            “Apa yang paling kakak inginkan di dunia ini?” Nessa tiba-tiba meluncurkan pertanyaan yang sederhana, namun cukup membuat Edo kaget. “Tahta? Harta? Keabadian? Kekuatan?” Edo akhirnya melepaskan pandangannya dari langit, kemudian mengalihkan pandangan kepada adik perempuan satu-satunya itu. Ia lalu menghirup nafas panjang, oksigen pagi hari kini memenuhi paru-parunya. Setelah itu dihembuskannya sisa karbondioksida dengan pendek. Terselip di pikirannya, adiknya itu mulai beranjak dewasa. Segumpal sesal menyumbat, waktunya sudah semakin dekat. Tak bisa ia menjadi pendamping setia adik jelitanya itu untuk selamanya.
            “Aku ingin semuanya selalu damai dan baik-baik saja.” Edo kembali memfokuskan pandangannya ke arah langit.
Nessa pun menengadah. Ikut memandang sudut langit yang menjadi titik perhentian kedua bola mata Edo. “ Huh, semua makhluk juga tahu kalau keinginanmu itu tidak mungkin. “ Katanya sewot.
“ Tak ada yang tak mungkin. “ Edo mendesis. “ Tak mungkin-lah yang tak ada, Nessa. Aku sudah pernah bilang, kan?
“ Jadi apa maumu, Do? “ Nessa jadi bingung sendiri, tak bisa memahami jalan pikiran Edo yang penuh filosofi.
            “Itu mauku, Nes. Sudah jelas, kan?” kata Edo. Ada sedikit rasa kesal yang tertinggal di sana. “ Satu lagi. Kau… kau jangan menjadi semakin menyebalkan. Tapi, tetaplah seperti ini. Jadilah apa adanya. Jangan jadi palsu. “
            Sedetik kemudian, Edo bangun dari tempatnya duduk dan meninggalkan Nessa sendirian.

***

Aku membuka mataku perlahan. Mimpi itu datang lagi. Mimpi yang sama seperti mimpi di setiap tidurku sebelumnya, hanya saja mimpi kali ini terasa lebih panjang. Dan itu membuatku merasa telah tertidur dalam waktu yang sangat panjang.
            Di sekelilingku terdapat orang-orang yang kukenal.  Ayah, Bunda, keluargaku, juga Reza. Tapi ada yang kurang. Di mana Kak Edo? Lalu, apa yang telah terjadi selama aku tertidur?
            Perlahan-lahan, aku membuka mulut dan bertanya pada Bunda yang pipinya telah dibanjiri air mata haru. Ada apa sih? “Aku… ke..na..pa, Bunda?” tanyaku pelan agak terbata-bata.
            Bundaku dengan mata yang berseri-seri menceritakan padaku bahwa aku telah berhasil melakukan transplantasi jantung. Dalam hati kecilku, aku senang mendengarnya, tapi saat kutanyakan di mana Kak Edo, orang yang selama ini telah menemaniku dan berbagi cerita denganku, suasana berubah menjadi tegang. Tidak seorangpun menjawab.
            Akhirnya sebuah suara yang familiar menyapa telingaku. Itu Reza.
            “Kak Edo… dia ada di tempat yang lebih baik, Nes.” Katanya sambil tertunduk.
            Maksudnya?
            “Apa maksudmu, Za?” tanyaku tak mengerti.
            “Dia… Ehm.” Reza tampak ragu-ragu.
            “Kenapa sih, Za?” tanyaku masih tak mengerti.
            “Ehm… Kakakmu mengalami kecelakaan saat mencoba mencarikan donor jantung buatmu, Nes. Dia sudah tiada.”
            Apa…
            Apa?
            Apa?!
            APA?!
            APAAA?!
            Sambil sekuat tenaga menahan tangis, aku berkata pada orang jahil sekaligus sahabat kentalku ini. “Kamu ngomong apa sih, Za? Kamu lagi mau ngebohongin aku, kan?”
            Reza menggeleng pasrah. “Enggak, Nes. Aku serius. Maafkan aku.”
            Tidak mungkin!
            “Bunda, bilang sama Nessa, Reza bohong kan?” aku bertanya pada Bunda, mencoba mencari keyakinan bahwa Reza sedang berbohong. Sayang sekali wanita yang telah melahirkanku dan Kak Edo memberikan jawaban yang sama: Kak Edo sudah meninggal.
            Ayah juga begitu.
            Om, Tante, sepupu-sepupuku juga mengatakan hal yang sama.
            Reza menggeleng-gelengkan kepalanya. “Sudahlah, Nes. Waktu terus berjalan. Kamu masih hidup, tapi kakakmu sudah meninggal. Tak perlu terikat masa lalu. Kakakmu mencintaimu, kamipun begitu.”
            Akhirnya airmataku pun tak bisa kutahan. Aku menangis di pangkuan Reza. Aku tahu ini memalukan, tapi kesedihan yang kurasakan mengalahkan rasa malu itu.
            “Teruslah hidup, untuk kakakmu, untuk keluargamu, dan…,” Reza menghela napas panjang. “untukku.”

***

3 bulan kemudian…
            “Sayang, ada sesuatu yang belum kusampaikan sejak operasimu 3 bulan yang lalu.” Reza tiba-tiba bicara setelah beberapa saat hening.
            Aku yang sedang meminum cappuccino segera mendengarkan kelanjutan cerita dari kekasihku itu.
            “Sebenarnya, kakakmu tidak meninggal karena kecelakaan. Ia memintaku menyampaikan ini 3 bulan setelah operasimu dulu, yang berarti… hari ini.”
            Nah, kejutan apa lagi yang sudah dirancang dua cowok yang paling kusayangi dalam hidupku ini?
            “Lalu karena apa?” tanyaku takut-takut.
            “Sayang, kamu tahu tidak, mulai sekarang kakakmu akan terus ada di dekatmu. Melindungimu.” Kata Reza dengan suara yang jernih. Ini hanya perasaanku saja atau telingaku sedang tidak berfungsi dengan baik?
            “Kamu tidak usah khawatir, Nes. Selamanya dia akan terus bersamamu. Di dalam tubuhmu. Di dalam hatimu.” Reza berhenti sejenak. “Sekarang dia sedang berada di sini.”
            Aku masih tidak mengerti. “Apa maksudmu, Za?”
            Reza memamerkan senyum termanis yang ia punya. Astaga, aku tidak pernah tahu kalau kekasih tampanku yang superjahil ini punya senyum semanis dan setulus itu.
            “Jantung yang saat ini ada di tubuhmu…,” Ia diam lagi. Kemudian melanjutkan dengan suara yang lebih pelan. “Itu pemberian Kak Edo, Nes. Pendonornya adalah kakakmu sendiri. Jantung yang saat ini menempel di tubuhmu ialah jantung yang sempurna.”
            “Apa?”
            “Jantung yang berdetak di tubuhmu sekarang adalah pemberian Kak Edo, Nes.”
            Apa?
            Apa pendengaranku tidak salah?
            Mataku berkunang-kunang. Dadaku sesak lagi.
            Jantung Kak Edo…
            Begitu banyak yang telah kakakku korbankan untukku. Semua ia berikan. Waktunya, pengertiannya, jantungnya, hidupnya. Semuanya.
            “Kakakmu menitipkan ini, sebelum dia meninggal.” Papar Reza sambil menyodorkan selembar amplop.
            “Apa ini?” tanyaku linglung sambil mengambil amplop itu.
            “Sesuatu yang Kak Edo tulis untukmu di hari-hari terakhir hidupnya.” jawab Reza.
            Aku mulai membaca kata-kata yang tertulis di sampul depan: “To Vanessa”. 
Satu-satunya pekerjaan terakhirku di dunia ini adalah membahagiakan orang-orang yang patut dibahagiakan.
Kau benar-benar ingin tahu, Nes? Kenapa satu-satunya pekerjaan terakhirku di muka bumi ini adalah membahagiakan mereka yang patut dibahagiakan?
Karena itu mauku. Mereka patut mendapatkan kebahagiaan. Sudah jelas, kan?

Kau bilang, kau tak mungkin bisa terus hidup. Kau bilang, kau tak mungkin bisa merasakan bahagianya usia 17 tahun. Kau bilang, tak mungkin ada yang mau berkorban untukmu. Munafik.

Tak ada yang tak mungkin. Tak mungkin-lah yang tak ada.
Jangan jadi pembohong. Buktikan umur 17 itu bisa kau lalui. Aku tidak butuh hidup selama 1000 tahun. Aku hanya butuh mauku itu. Kau mengerti kan?
Tetaplah seperti ini. Jadilah apa adanya. Jangan jadi palsu.

Hahaha. Bodohnya aku menulis pesan ini. Kalau aku masih hidup, aku tidak akan memberikan surat ini padamu, Nes. Bisa-bisa aku terlihat seperti orang bodoh. Kau pasti akan tertawa terbahak-bahak, atau bahkan sampai menangis dan sakit perut. Tapi apa peduliku kini? Aku sudah mati.

Terimakasih telah jadi bagian hidupku, Nes. Dengan penuh hormat dan cinta kasih dariku, yang tak pernah menjadi yang terbaik.

Tertanda,



Edo

Note: Apa aku terlihat munafik di kata terakhir?

            “ Sangat... “ Nessa berbisik. “ Sangat munafik… “
Dadanya sesak. Pipinya sudah terlalu basah dan lebih hangat. Hanya karena sekepal jantung. Ia merasa telah berlaku seperti pembunuh takdir kakaknya. Ia bahkan tak tahu kalau jantung ini dari Edo. Sekepal jantung mungil yang bersarang di tubuhnya ini milik Edo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar