Selasa, 24 Juli 2012

Absurd

Suatu hari di sebuah SD, sekian tahun yang lalu.

N: "Ndut."
P: "Opo?"
N: "Mrinio dilut."
P: "Opo seh?"
N: "Gak sido wes."
P: "Lho opo a?"
N: "Ga sidooooo."
P: "Sing genaaah."
N: "Emoh, engkok kon ngguyu."
P: "Gak gak. Opo seh?"
N: "Janji yo?"
P: "Iyo janji wes." --> ini sebenere ngempet ngguyu
N: "Iki lho deloken ndut. Lagune apik. OJOK NGGUYU!" Lagunya Andrew Fallen, lupa judulnya.
P: "BUAHUAHAHAHA." <-- ini ketawa namanya, soalnya nama artisnya itu sama kayak nama bapaknya si N. iya dulu aku nyandak'an -.-
N: -,- "jarene gak ngguyu."
P: "HAHAHAHA." *ngakak ga berujung*

Credit for N ;;)

Sabtu, 21 Juli 2012

Mengenang Masa Lalu (Cryptic part 11)


Finna melangkah masuk dengan perasaan dingin yang tiba-tiba merayapi sekujur tubuhnya. Ini tempat yang sering ia datangi semasa kecil.
            Rumah tua dengan pohon mangga yang sama. Pohon itu masih ada, tidak ditebang. Halaman dengan teras batu dan rumput yang tumbuh apik. Tempat duduk dari rotan dengan pasangan meja yang sama. Semua tidak ada yang berubah. Dulu hampir seminggu sekali ia datang ke tempat ini. Biarpun rumah serta penghuninya menguarkan aura yang bersahabat, Finna tetap merasa trauma.

Kamis, 19 Juli 2012

Under the Stars (Cryptic part 10)


“Ma, aku benar-benar kangen sama kamu.”
            Finna tersenyum senang. Akhirnya, bisa juga mereka duduk berduaan. Setelah melewati percakapan mahaaaaa panjang, basa-basi mahaaaaa melelahkan, seakan obrolan itu tak kunjung usai, akhirnya orangtuanya mengizinkan Vinno pergi dari hadapan mereka. Sekarang, Finna menghela napas senang, mereka bisa duduk berdua. Hanya berdua. Di bawah kilau bintang. Di dalam musholla, di halaman belakang rumah keluarga Hadikusuma.

Senin, 02 Juli 2012

Sarcastic

Jahat. Iya, aku tahu kok aku emang jahat. Tapi siapa duluan yang mulai? Aku jelas nggak akan sejahat ini kalo kamu nggak mulai duluan. Rasanya sekarang yang sudah aku pendam sendiri selama ini akan tumpah semua. Biarin aja nanti post ini bakal jadi sarkas. Sekarang aku emang bener-bener udah nggak peduli apapun. Luka yang kau tanamkan sudah terlalu dalam, terlalu sakit.