Sabtu, 30 Juni 2012

Hari Luar Biasa (Cryptic part 9)


“Fan.” Finna keluar dari persembunyiannya, bersikap seolah baru saja tiba. “Aku nyariin kamu dari tadi.”
            “Aku di sini, Fin.” Fanni tersenyum.
            Finna lega melihat saudarinya itu tidak tampak marah sama sekali. Bahkan Fanni tampak senang melihat kehadirannya. Ia menggerakkan tangan, isyarat menggapai Finna untuk bergerak mendekat.
            “Fin, kenalin dulu. Ini teman baruku. Namanya Radith.”
            Finna tersenyum, mengulurkan tangannya. “Aku Finna, Dith.”
            “Radith.” Balas Radith tersenyum simpatik. “Senang berkenalan denganmu, Finna.”
            “Sama – sama.”
            Dari jarak dekat, Finna bisa mengamati Radith dengan mudah. Benar dugaannya. Radith cukup menarik. Tidak setampan Vinno memang. Tapi dia kan cinta pada Vinno. Jadi kedua pria itu jelas tidak bisa dibandingkan.
Radith sepertinya pria yang menarik. Usianya sebaya dengan mereka. Dan sekilas menganalisis—ini yang paling penting—Radith kelihatan baik dan sabar. Dia hebat. Yah, siapa pun yang bisa menarik Fanni dari tempat persembunyiannya dan berhasil membuatnya tersenyum jelas pria yang hebat. Karena terus terang saja, bahkan Finna sering gagal.
            “Radith adalah saudara sepupu Rosa,” Fanni menjelaskan lagi.
            “Oh ya?” Tentu saja Finna berusaha untuk pura-pura tidak tahu. “Kamu pindah ke sana?”
“Sementara.”
“Bagaimana kabar Rosa?” tanyanya lagi, lebih ke arah basa-basi. Karena sungguh, Finna tidak peduli setitik pun pada gadis itu.
“Dia baik. Sekarang dia kerja di Malang.”
“Oh ya?” Finna tersenyum. “Tukeran dengan kamu dong, Dith.”
“Iya. Kadang nasib memang sering bercanda dengan kita.”
“Kenapa, Fin?” Fanni bertanya setelah mereka bertiga diam, kehabisan pembicaraan. “Kamu mencariku?”
“Aku…” Finna menelan ludah. Untuk minta maaf bukanlah hal sulit. Tapi melakukan itu di depan seorang pria yang bisa dibilang, orang asing dalam hidupnya, itu agak berbeda.
“Sudahlah,” ucap Fanni lembut.
Finna mendongak bimbang.
Fanni mengangguk meyakinkan. “Aku tahu, kamu mau bilang apa.”
“Oh ya?” tanya Finna bodoh.
“Dan tidak perlu. Aku sudah tidak apa-apa. Aku mengerti semuanya.”
“Sungguh?” Beban di hati Finna lenyap sudah. Langkahnya terasa ringan. “Kamu tidak bohong, Fan?”
“Sungguh.” Fanni mengukir sebuah senyum manis.
Finna berani sumpah, ia tidak pernah melihat wajah Fanni tampak begitu damai seperti saat ini. Rasanya sudah seabad ekspresi itu tak pernah muncul di wajah saudarinya. Dan itu tambah membuat rasa haru di hati Finna membuncah.
“Boleh dibilang, aku sudah bisa melihat dari kacamata yang berbeda, Fin. Jadi, apapun yang ingin kaukatakan, kau tak perlu mengatakannya. Karena kamu tidak salah. Seperti katamu…” Fanni terdiam dan tampak menguatkan hati ketika ia melanjutkan, “kamu berhak bahagia.” ucapnya tulus.
Tenggorokan Finna tercekat. Dengan ngeri ia menyadari, matanya mulai berkaca-kaca. Tidak lucu jika ia menangis di depan orang asing.
“Eh.” Finna melirik Radith, lega ketika menyadari pria itu sedang menunduk, mengukir tanah dengan jari, memberinya ruang untuk menghapus sudut matanya yang telah berair. “Kalau begitu aku balik dulu, ya. Eh, Vinno, hm…”
“Pulanglah.” Fanni mengangguk cepat. “Kamu harus ada ketika Vinno tiba. Aku di sini dulu ya, Fin.”
Finna tersenyum ketika melihat pipi Fanni memerah.
Radith sendiri tertawa hangat. “Tidak usah khawatir.” Imbuhnya, “Saudarimu aman di tanganku. Sangat aman.”
Oh ya, Finna percaya itu. Ia lebih dari lega untuk meninggalkan Fanni di tempat ini. “Oke kalian berdua, aku pamit dulu ya.”
“Salam buat Vinno.” Fanni sempat berteriak sebelum bayangan Finna menghilang di balik pepohonan.
Ini jelas kemajuan. Sepanjang perjalanan pulang Finna tak henti-hentinya tersenyum. Rasanya, Allah mengabulkan permintaannya.

***

“Dia tidak ada,” kata Dea dengan wajah tegang.
            Maulidyah berpandangan cemas dengan suaminya. Noriko menggeleng lelah. Dia bingung dan cemas. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi. Rasanya ketika semua nyaris mencapai puncak, dan Noriko berpikir yang terburuk telah selesai, situasi justru menjadi lebih parah lagi, sepuluh kali lipat.
            Dan yang membuat semua tak tertahankan, dia tidak boleh menunjukkannya. Dialah kepala keluarga Hadikusuma. Dia, dibantu dengan Dana yang menjadi jangkar keluarga. Kalau sampai jangkar yang menautkan bidak rumah tangga mereka patah, maka perahu itu tidak akan pernah berlabuh. Terombang-ambing dalam lautan kehidupan. Keluarga mereka tidak akan selamat sampai pada akhirnya.
            Hanya saja Noriko tidak tahu, seberapa kuat ia bisa bertahan.  Seberapa banyak lagi energi yang diperlukan, karena rasanya, cadangannya sudah hampir habis.
            “Dia pasti menyusul Fanni.” Maulidyah menyahut dengan bibir pucat, tanpa warna. “Ke hutan.” Ia semakin terlihat pias, seperti tak ada darah yang mengaliri wajahnya. “Bagaimana ini, Pa?”
            Dana mengatupkan mulut rapat, geram.
            “Mungkin kita harus menggunakan shock therapy, Ma,” ucap Dana dengan nada datar. “Kalau cara lain tidak berhasil, shock therapy bisa jadi pilihan terakhir.”
            “Tidak.” Maulidyah menjawab dengan nada melengking. “Mama tidak setuju,” ucapnya ngotot. “Tidak boleh.”
            “Oke, Ma, oke.” Dana buru-buru menenangkan wanita yang paling dikasihinya. “Ini hanya saran, Ma.”
            “Sampai kapan pun tidak.” Noriko menggeleng, menatap anaknya penuh perhatian. “Dengar itu, Dana? Papa juga tidak setuju kalau kamu berkata kasar, atau membuat shock Finna. Tidak, Dana. Kita bertaruh terlalu banyak di sini. Bagaimana kalau penyakit Finna kambuh? Kalau jantungnya tidak kuat…”
            “Penyakit Finna sudah sembuh, Pa,” Dea menjawab lemah. “Dokter pun bilang begitu, kan?”
            “Selama dia tidak mengalami stres yang hebat, selama emosinya bisa terjaga pada batas dan kondisi normal, dia akan baik-baik saja,” Noriko menjawab datar. Namun sorot matanya penuh tekad. “Tapi dokter tidak bisa menjamin, jika yang terjadi malah sebaliknya. Dan Papa ingin kalian tahu, Papa tidak akan pernah setuju jika kita bertaruh dengan ‘batas normal’ itu. Tidak akan, kalau itu menyangkut nyawa Finna.”
            Dea menghela napas berat.
            Lalu bagaimana dengan keluarga kita, Pa? Ia ingin menjerit, tapi tidak tega. Tidak ada suara yang keluar. Dea tetap menunjukkan raut wajah tenang, biarpun terlihat pucat. Tidak ada yang tahu pergolakan batin gadis itu.
            Sampai kapan kita semua harus bersikap seperti ini? Ini melelahkan, Pa. Ini menyiksa. Dan semua ini tidak ada jalan keluarnya. Oh, tidakkah Papa tahu. Kami sudah tidak tahan lagi.
            ”Mungkin Finna harus bertemu dengan Dokter Arifin.” Dana mengemukakan usulnya. “Ini jalan terakhir. Papa bisa membuat janji temu dengan Dokter Arifin, kan? Beliau pasti mau membantu.”
            “Dengan alasan apa?” Maulidyah terlihat bingung, sedikit takut. “Nanti kalau Finna curiga, bagaimana?”
            “Tidak.” Dea berusaha menenangkan ibunya, biarpun hatinya perih. “Tidak, Ma. Nanti kita bisa beralasan mumpung Finna pulang ke Pacitan, Dokter Arifin ingin bertemu. Bukan sebagai dokter dan pasien, tapi lebih pada hubungan om dan keponakan. Dokter Arifin kan sayang pada Finna.”
            Noriko Hadikusuma mengangguk setuju.
            Nyaris seumur hidup di masa kecilnya, Finna dirawat oleh dokter jantung keluarga mereka, hubungan keluarga itu menjadi akrab. Lebih daripada dokter dan pasien. Setiap saat Finna mengalami serangan, ia bisa langsung datang ke tempat praktek Dokter Arifin tanpa perlu mengantri. Bahkan Dokter Arifin mengizinkan keluarga mereka membawa Finna kecil untuk diperiksa di kediamannya. Dan itu berarti sangat banyak.
            “Ya, begitu saja.” Noriko Hadikusuma memutuskan dengan cepat. “Nanti akan Papa buatkan janji temu. Urusan itu beres sudah.”
            “Mungkin ada baiknya kalau Finna tidak di rumah saat Vinno datang sebentar lagi,” Dana menyela. “Papa bisa bicara dengan lebih leluasa. Mungkin, hm, mungkin kita perlu mendesak Vinno supaya bisa lebih agresif lagi.”
            Maulidyah menatap bisu.
            “Kita tidak punya banyak waktu.” Dana mencoba tersenyum. “Kecuali itu, sebagai sesame lelaki, aku bisa merasakan susahnya posisi Vinno. Kalau dia melihat keluarga Finna mendukung, mungkin, yah hanya mungkin memang, tapi paling tidak dia bisa berjuang lebih keras lagi karena mendapat dukungan yang dia butuhkan.”
            Noriko mengangguk setuju. “Baiklah.”
            “Dan sekarang,” Dea menggenggam tangan ibunya penuh kasih. “Mama istirahat sebentar ya, Ma. Jangan khawatir tentang Finna. Dia pasti baik-baik saja. Mama tidur dulu ya, biarpun hanya setengah jam. Nanti kalau Vinno datang, aku bangunkan.”
            Maulidyah mengikuti saran anak gadisnya tanpa membantah.

Rabu, 27 Juni 2012

Tak Bisa Lepas


Saya seorang wanita berusia 56 tahun. Nama saya Chandrika Sanjaya. Nama yang agak aneh, bukan? Itu adalah nama Srilangka. Meskipun sampai saya setua ini, saya tak pernah mengerti apa arti nama Chandrika. Saya juga tak tahu sedikitpun tentang Bahasa Sinhala, bahasa resmi negara kecil itu.
               Sejak kecil, kehidupan keluarga saya baik-baik saja. Kadang-kadang memang ada hambatan seperti sedikit pertengkaran dengan adik-adik saya. Atau mungkin omelan dari suara nyaring nenek saya yang kerap kali merusak kinerja gendang telinga saya. Atau bisa jadi beberapa nilai jelek yang saya dapat di sekolah, itupun hanya satu atau dua kali saja. Selebihnya, saya dulu adalah salah satu manusia paling beruntung di dunia. Dan saya sangat bersyukur karenanya.

Sabtu, 23 Juni 2012

Hadiah dari Ayah


“Selamat ya, Del. Ibu tidak menyangka kalau prestasi kamu melejit semester ini.” ucap Bu Sri sambil menggenggam erat tanganku.
               Aku membalasnya dengan senyuman dan ucapan terimakasih. Sejenak aku melirik ke arah teman-teman sekelas. Ada yang mengacungkan jempol, ada juga yang menggeleng-gelengkan kepala. Mereka kemudian menyorakiku dengan tepuk tangan yang meriah karena aku menorehkan prestasi sebagai peraih nilai raport terbaik semester ini.
               Meraih nilai raport terbaik?
               Ya! Alhamdulillah! Batinku dalam hati. Namun dalam hati aku juga tidak menyangka bila aku bisa mengalahkan Nisa atau Iqbal yang identik dengan sebutan siswa paling cerdas di kelasku karena mereka berdua selalu bergantian menjadi juara kelas. Tapi hari ini, justru aku yang dinobatkan menjadi yang terbaik.
               Heran juga kok bisa terjadi. Padahal aku dikenal sebagai siswa urutan papan bawah kalau bicara soal nilai pelajaran.
               “Hebat banget! Kok bisa sih, Del?” tanya Rina, teman sebangkuku, dengan tatapan mata keheranan. Yah, memang bisa dimengerti kalau dia,—dan kuyakin—semua teman sekelasku menyimpan pertanyaan yang sama.
               “Hei, kamu kan nggak tahu kalau aku memang cerdas.” Jawabku bercanda.
               Rina tertawa terbahak-bahak mendengar jawabanku. “Hihi, sombong deh. Lah selama ini buktinya kamu selalu juara urutan buncit! Sama sekali nggak ada tanda-tanda kalau kamu itu siswa cerdas.”
               Kucubit tangan Rina dengan keras. Aku sebal, masa dikatain sebagai siswa yang tidak cerdas? Sekolahku kan terkenal sebagai sekolah favorit. Setiap siswa yang diterima adalah siswa pilihan. Tidak sembarang calon siswa bisa mendaftar karena harus punya nilai bagus di sekolah sebelumnya.
               Kalau selalu berada di urutan paling bawah, apa namanya kalau bukan siswa bodoh?
               Tapi kan harus ada jawaban yang meyakinkan.
               “Tahu tidak, Rin, kenapa selama ini nilaiku yang paling jelek?”
               “Karena bodoh?”
               “Weeee, enak saja!”
               “Lalu karena apa?”
               “Karena aku sengaja mengalah. Aku takut terkenal kalau mengalahkan semua teman sekelas!” jawabku.
               Aku sengaja menjawab pertanyaan Rina dengan wajah serius. Wajah Rina kelihatan tak mampu menahan tawa melihat mimik mukaku saat berbicara.
               “Hahaha, dasar!”
               Satu persatu teman-teman menghampiri tempat dudukku untuk memberi ucapan selamat. Termasuk Nisa dan Iqbal.
               “Selamat, Del. Nggak nyangka nih kalau kamu yang jadi juara kelas!”kata Nisa.
               “Selamat, ya! Kenapa aku sampai tidak memperhitungkan kamu, ya?” ucap Iqbal sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
               “Iya, gila! Kok bisa jatuh ke Dela, ya? Gila bener!” kata teman-teman yang lain. Aku tertawa mendengar keheranan teman-teman. Tapi sewot juga. Orang meraih prestasi kok malah diragukan.
               “Ya kalian yang gila! Kan hanya orang normal saja yang bisa juara!”
               Teman-teman tertawa mendengar ucapanku.

***

“Minta motor?”
               “Iya, minta motor.”
               Suasana hening sesaat. Aku menatap wajah Ayah. Demikian pula sebaliknya. Ayah kelihatan menarik nafas.
               “Untuk apa?”
               Aku mulai kesal dengan Ayah. Pasti selalu begitu. Setiap kali aku meminta selalu saja ditanya mendetail.
               Dulu waktu aku minta uang untuk piknik, Ayah bertanya mengenai siapa saja yang ikut, ada gurunya atau tidak, berapa hari, apa saja yang dikerjakan, kegiatan sekolah atau bukan, dan pertanyaan lain yang membuatku harus menerangkan panjang lebar. Sudah begitu ternyata tidak diberi. Alasannya karena tidak mendukung pelajaran sekolah. Bayangkan coba! Masa tidak boleh sesekali menikmati dunia pergaulan remaja? Memangnya harus dikekang di rumah terus?
               Pernah juga aku minta uang untuk membeli radio kecil agar aku bisa mendengarkan musik di kamar sambil belajar. Tidak dibelikan juga. Katanya kalau mendengarkan musik kan bisa menyetel stereo set yang ada di ruang keluarga.
               Sebenarnya aku ingin minta uang ke Bunda. Tapi Bunda hanya memegang uang untuk belanjaan dan kebutuhan rumah saja. Untuk urusan sekolah dan lain-lain, aku disuruh minta Ayah. Dan pasti sering tidak diberi kalau alasannya tidak cocok dengan yang ada di pikiran Ayah. Yang punya kebutuhan aku kok alasannya harus berdasarkan kemauan Ayah?
               Akhirnya aku mencoba berpikir keras mencari alasan yang sekiranya bisa disetujui Ayah.
               “Ya, biar cepat sampai di sekolah, Yah.”
               “Kan bisa naik angkot seperti biasa?”
               Tuh kan! Bisa diduga kalau Ayah pasti keberatan. Aku kadang berpikir bahwa ayahku ini memang sangat pelit. Aku sering iri kalau melihat teman-temanku yang ke sekolah diantar sopir pribadi mereka. Bahkan ada yang membawa mobil sendiri. Kalau aku, jangankan mobil, minta motor saja ditolak!
               Tapi aku mencoba tidak menyerah untuk meyakinkan Ayah.
               “Waduh Yah, capek kena macet. Panas lagi.”
               “Tiap hari juga macet. Mana pernah nggak macet. Toh kalau naik motor juga pasti nanti terjebak macet. Malah lebih capek. Lebih baik naik angkot saja, besar resikonya kalau naik motor. Apalagi untuk anak gadis sepertimu.”
               Aku diam. Ayah juga.
               “Lagipula harga motor baru kan mahal. Lebih baik untuk persiapan uang sekolah kamu.”
               Nah, benar kan. Pasti ditolak lagi. Aku jadi emosi.
               “Ya sudah! Percuma minta. Lagipula mana pernah Ayah memenuhi permintaan Dela. Seperti anak tiri saja. Permintaan Dela tidak pernah ada yang dipenuhi!”
               Ayah terlihat kaget mendengar omonganku. Aku juga tak menyangka kalau kalimat itu meluncur dari bibirku. Aku menyesal telah mengucapkannya.
               Saat aku hendak meminta maaf, Ayah terlanjur membuka mulutnya untuk berbicara.
               “Ya sudah, baiklah. Ayah akan membelikanmu motor. Tapi dengan satu syarat.”
               “Apa syaratnya, Yah?” tanyaku antusias. Sampai lupa kalau tadinya aku hendak minta maaf.
               “Dela harus jadi juara kelas semester ini!” kata Ayah mantap.
               Waduh! Berat juga. Karena nilaiku selalu nomor belakang. Menurutku Ayah agak curang juga karena beliau yakin tidak akan membeli motor baru karena aku pasti tidak bisa jadi juara.
               Tidak bisa jadi juara?
               Tunggu dulu! Biarpun nilaiku paling jelek di kelas bukan karena aku bodoh. Tapi memang malas saja karena kadang bagiku pelajaran di sekolah terasa membosankan.
               “Oke, setuju!” jawabku bersemangat. Ayah tampak kaget mendengar jawabanku yang mengandung kesungguhan.
               Aku memang sungguh-sungguh. Aku belajar dengan keras. Tak jarang sampai larut malam. Kesempatan bermain dengan teman-teman aku lewatkan, demi sebuah ambisi mendapatkan sepeda motor!

***

Nah, sekarang saat yang paling kunanti itu telah tiba! Aku juara kelas. Aku akan menagih janji pada Ayah. Sepanjang perjalanan aku membayangkan betapa senangnya bila aku diajak ayah ke showroom motor untuk memilih motor yang kusukai.
               Bayanganku semakin melambung. Beragam rencana aku susun kalau seandainya nanti aku memiliki motor baru. Aku akan keliling kota dengan teman-teman sekelas. Mungkin juga bakal ikut bermotor ke tempat wisata. Kalau selama ini aku hanya bisa mendengar cerita dari teman-teman mengenai serunya bepergian naik motor, maka sebentar lagi aku akan bisa mengalaminya sendiri.
               Seru sekali kelihatannya!
               Aku tersenyum sendiri membayangkan pengalaman-pengalaman menarik yang akan segera kualami.
               “Turun dimana, mbak?” tanya sopir angkot membuyarkan lamunan indahku.
               Aku gelagapan.
               “Ujung tikungan, pak.” Jawabku menyebut ujung gang komplek perumahan. Pak sopir pasti sudah tahu meskipun aku tidak menyebutkan nama komplek perumahan tempat tinggalku.
               “Yah, udah lewat, mbak. Ini kan udah sampai di terminal terakhir.” Jawab pak sopir.
               Aku menoleh ke kanan-kiri. Astaga! Gara-gara melamun aku sampai tidak sadar kalau sudah nyasar jauh sampai terminal terakhir. Bahkan melewati daerah tempat tinggalku. Terpaksa aku ganti angkot yang berbalik arah. Selama perjalanan aku kesal sekaligus geli.
               Lega juga akhirnya ketika langkah kakiku sampai di depan pagar rumah. Aku membuka pintu pagar, ternyata dikunci. Aneh, biasanya pintu pagar kalau siang tidak pernah dikunci.
               “Assalammualaikum.” Kuucapkan salam agar Bunda mendengar kalau aku sudah datang. Aku menduga saat ini Bunda sedang tidur siang sehingga pintu pagar dikunci. Beberapa kali kuucapkan salam. Ternyata tidak juga ada balasan. Aku menjadi jengkel karena tidak segera dibukakan pintu. Akhirnya aku mengucapkan salam sekali lagi sambil berteriak.
               Tapi yang muncul justru pembantu rumah tangga rumah sebelah. Aku jadi malu. Wajah pembantu itu tampak gugup. Aku jadi sedikit heran.
               “Ehm, Mbak Dela, ayahnya Mbak Dela… ehm…”
               “Ayah kenapa, mbak?” tanyaku memotong ucapannya yang belum selesai.
               “Ehm, eh, Ibunya Mbak Dela titip kunci sama catatan ini.” Katanya sambil menjulurkan selembar kertas padaku. Segera kusambar kertas yang ada di genggamannya. Kubaca dengan penuh rasa keingintahuan. Ternyata pesan singkat dari Bunda yang mengabarkan kalau beliau sedang berada di salah satu paviliun rumah sakit menunggu Ayah yang sedang dioperasi karena mengalami kecelakaan.
               Kecelakaan? Operasi? Desisku lirih. Serta merta aku berlari menuju jalan raya. Tanpa menghiraukan teriakan pembantu tetangga kalau kunci rumahku belum aku ambil. Aku segera mencegat taksi kosong untuk mengantarku ke rumah sakit. Biarpun tarifnya lebih mahal daripada angkot yang penting segera sampai.

***

Sesampainya di rumah sakit aku menanyakan letak paviliun tempat Ayah dirawat. Dalam hati aku berdoa semoga Allah meringankan sakit ayahku. Semoga sakit Ayah tidak parah. Hatiku berkecamuk. Apalagi kalau ingat selama ini aku merasa tidak cukup berbakti pada Ayah. Aku hanya bisa minta uang melulu. Sering merasa kesal ke Ayah karena sering menolak permintaanku.
               Namun kalau mendengar Ayah dioperasi, tiba-tiba aku merasa takut. Takut kehilangan Ayah. Aku belum siap ditinggal oleh Ayah.
               Ya Robbi, selamatkan ayahku!
               Sepanjang koridor rumah sakit tak henti-hentinya aku memanjatkan doa untuk kesembuhan ayahku. Sampai di ujung lorong aku mencocokkan nomor ruangan paviliun. Hatiku bergemuruh karena nomor paviliun yang tertera di atas pintu sama dengan catatanku.
               Aku segera melangkah menuju ruangan kamar karena pintunya terbuka.
               Namun aku sengaja menghentikan langkahku saat namaku disebut-sebut. Kudengar percakapan antara Ayah dan Bunda.
               “Ini semua demi menyenangkan Dela, Ma.”
               “Iya, ngerti. Lain kali kalau ngambil uang pakai pengawalan polisi dong biar tidak dijambret di jalan.”
               “Mendadak sih. Tadi pagi aku telepon wali kelasnya. Ternyata Dela juara kelas. Makanya aku segera mencairkan deposito untuk membeli motor permintaannya.”
               “Ya sudahlah. Ayah istirahat dulu. Jangan banyak gerak biar luka sabetan golok perampok yang sudah dijahit itu cepat kering. Nanti aku kasih tahu Dela, ini semua demi memenuhi permintaannya.”
               Kemudian hening. Tidak ada percakapan. Aku berniat untuk masuk. Kakiku hendak melangkah, namun kembali terhenti saat Ayah kembali menyebut namaku.
               “Dela jangan dimarahi, biarpun permintaannya aneh-aneh dan suka semaunya sendiri. Meskipun dia hanya anak angkat, tapi kita harus memberinya limpahan kasih sayang. Tanpa Dela hidup kita pasti akan terasa sepi.”
               Aku yang mendengar ucapan Ayah laksana digedor selaksa palu godam.
               Aku terhenyak.
               Mereka berusaha menyayangiku meski aku bukan anak kandung. Sementara aku sering membuat beliau jengkel. Tanpa terasa airmataku meleleh.

*

Prasangka

Kalau aku ditanya tentang hal apa yang paling tidak bisa kulakukan sekarang adalah menjadi diriku sendiri. Bagaimana tidak? Beribu orang mengelilingiku dengan gemerlapnya aksesoris lahiriah yang menyilaukan mata. Tanpa perlu berpikir dua kali, mereka enak saja menghabiskan recehnya dengan maraton dari mall ke mall. Orang berlomba-lomba mempercantik diri, membeli ini, memperlihatkan itu, mengincar ini, memamerkan itu, dan melakukan apapun asal bisa seperti yang selalu mereka lihat di televisi. Sedangkan aku mati-matian mengumpulkan setiap rupiah yang bisa kudapat dengan menjual keringatku setiap harinya. So what's the point of being myself? Untuk apa susah-susah menjadi diriku sendiri kalau setiap orang hanya menilai kita dari apa yang kita pakai.