Sabtu, 21 April 2012

Seandainya...


Andaikan Hidup adalah:
Permainan It Girl. Cantik. Berbadan perfect. Nggak penyakitan. Bisa gonta-ganti rambut, mata, warna kulit, dan semuanya. Cari uang hanya dengan berpesta dan menjual baju dengan gampangnya. Mereka hanya memikirkan baju, rok, celana, wedges, pumps, sunglasses, dan fashion items yang lain.

Maaf


“Menurut kamu, harus menunggu lebaran nggak sih untuk minta maaf?”
               “Nggak perlu.”
               “Tapi, bukannya keindahan minta maaf itu waktu lebaran nanti?”
               “Kamu menunggu keindahan atau ketentraman hati? Memangnya kamu tahu, sampai kapan kamu dan orang yang bakal kamu mintain maafnya itu ada? Kalau besok di antara kalian ada yang sudah tiada dan belum waktunya lebaran, bagaimana? Lebih cepat minta maaf lebih baik. Memangnya kamu mau minta maaf sama siapa, sih?”
               “Sama kamu…”
               Suasana langsung hening. Aldo bengong. Tidak mengira bahwa dia yang akan menjadi sasaran minta maafnya Nina. Otaknya langsung mengingat-ingat, kesalahan apa yang sudah diperbuat oleh sahabat kentalnya ini.
               “Memangnya kamu salah apa sama aku?” tanya Aldo.
               “Mmm…” Nina terdiam, tampak bingung.
               “Aku bilang kalau kamu sudah punya pacar…” lanjut Nina.
               “Hah? Aku kan lagi cari pacar.”
               “Aku bilang kamu suka cokelat.”
               “Kamu kan tahu kalau aku alergi cokelat.”
               “Aku bilang kamu nggak suka musik klasik.”
               “Kamu tahu kan lagu-lagu di HP dan laptopku itu lagu klasik semua?” nada Aldo mulai meninggi.
               “Makanya aku minta maaf. Habisnya aku tidak suka dengan orang yang bertanya.” bela Nina tak enak hati.
               “Siapa?”
               Nina terdiam sejenak.
               “Della.”
               “Della, teman basketmu itu?”
               “Dia kan naksir kamu.”
               “Lalu, apa hubungannya dengan kebohonganmu itu?”
               “Yah, setiap kali dia tanya, aku jawab sebaliknya saja. Biar nanti kalau dia mendekatimu, kamu jadi tidak betah.”
               Aldo tertegun.
               “Kenapa kamu melakukan itu?”
               “Habisnya dia genit, centil gitu kalau sama cowok-cowok. Aku sebal melihatnya. Dia tidak pantas untuk kamu.” Sungut Nina. Aldo menghela nafas panjang.
               “Sekarang, kenapa kamu menceritakan semua ini ke aku?”
               Nina menggaruk kepalanya yang Aldo yakin tidak gatal.
               “Kemarin aku menemani mama belanja buat lebaran. Aku tersandung sesuatu dan aku jatuh bersama beras yang aku bawa. Lalu datang seorang cewek dan membantuku berdiri. Ternyata Della. Dia yang membawakan berasku ke keranjang. Sudah begitu, dia tetap centil dan genit. Aku jadi berpikir, aslinya memang sudah begitu. Tidak hanya dengan cowok saja. Aku jadi merasa bersalah. Ternyata dia baik. Maafkan aku ya, Do.” Nina mengulurkan tangannya. “Aku janji membantu kamu kalau kamu mau mendekatinya. Beneran! Suer!”
Aldo tertawa. Disambutnya tangan Nina.
“Aku memaafkanmu. Lain kali, tidak usah bohong atau sok ngatur, deh. Aku belum naksir Della. Tapi, nanti kalau aku naksir, aku mau mendekati dia pakai caraku sendiri. Tapi, makasih, kamu sudah jujur sama aku. Kamu juga sudah minta maaf ke Della?”
Nina menggeleng, kemudian membuka mulutnya untuk berbicara.
“Aku minta maaf ke Della lewat kejutan,” Nina tersenyum senang menatap Aldo. “Oke, kalau gitu, kita buka puasa bareng. Nanti aku nelepon mamamu kalau kamu buka puasa di sini, ya! Tapi aku mau telepon Della dulu.” Nina langsung mengeluarkan telepon genggamnya dan mulai berbicara. “Assalammualaikum. Della? Oh, sepuluh menit lagi? Oke, aku tunggu, ya! Eh, Aldo nanyain kamu, pengen segera ketemu! Sampai jumpa!” Nina menutup telepon sambil tetap tersenyum, tapi senyumnya langsung memudar begitu melihat tatapan Aldo.
“Jadi itu minta maaf kejutan buat Della? Kamu barusan minta maaf sama aku, dan kamu sudah bohong lagi tentang aku sama Della?” Aldo berkata dengan penuh emosi.
“Alah, cuma gitu aja, kan biar dia senang…” jawab Nina santai.
“Tapi itu bohong! Aku tidak tahu kalau kamu mau buka bareng sama dia dan aku juga tidak menanyakan dia. Aku pulang!” Aldo langsung beranjak dari teras. Nina kelabakan.
“Eh, tunggu! Ketemu sama Della dulu, dong. Gimana sih?”
“Itu urusan kamu. Ingat Nin, orang dipercaya karena omongannya. Bagaimana kamu bisa dipercaya kalau hobimu bohong gitu? Kamu anggap itu hanya sebuah masalah kecil, kamu juga tidak peduli akibatnya untuk orang yang sudah kamu bohongi. Mungkin aku punya segudang maaf untuk kamu, Nin, tapi aku tidak mau bertanggungjawab atas kebohonganmu.”
Aldo langsung melesat keluar pagar dengan wajah sebal. Nina masih bengong ketika tak lama kemudian sebuah taksi berhenti di depan rumahnya dan dari dalam taksi tersebut Della keluar sambil melambaikan tangannya. Begitu dekat, Della langsung menggenggam tangan Nina.
“Rasain nih, tanganku dingin. Ini sudah dari tadi, pas kamu bilang Aldo lagi menungguku! Mana dia?” mata Della celingukan di teras dan mengintip ruang tamunya.
Nafas Nina tercekat. Ia merasa sehabis disiram air es. Ia tak tega melihat binar mata Della yang penuh harapan. Tak terpikirkan, kata-kata asal yang diucapkannya tadi bisa berpengaruh begitu besar pada Della. Aduh, bagaimana ini?
“Orang bisa dipercaya karena omongannya, Nin…” “Memangnya kamu tahu, sampai kapan kamu dan orang yang bakal kamu mintain maafnya itu ada?” kata-kata Aldo kembali terngiang. Nina menggigit bibirnya kuat-kuat.
“Del, menurutmu, harus menunggu lebaran nggak sih untuk minta maaf?”
Della menatap Nina, bingung.

Minggu, 08 April 2012

makhluk alay -_-

oke, ini pertama kalinya saya membahas tentang a-l-a-y di blog ini --
waktu SD, temen-temenku banyak yang alay -,- (aku juga, tapi mereka lebih). saking alaynya, foto-foto mereka di fesbuk itu ada yang sampe 2000 sampe 4000 .___. ada yang update status tiap 5 menit ato tiap 10 menit ato berapa lah itu. salah tulisan yang mereka pake itu susah dibaca pula-_- dan parahnya, kami begitu bangga menjadi part of alay pipel -____-

tapi setelah masuk SMP, komunitas alay di SD itu berangsur-angsur hilang. kita tobat karena malu. tentu aja, orang kebanyakan anak di SMP yang kita duduki masing-masing itu yang alay cuma dikit kok, malah hampir nggak ada. kayak sekolahku ini ♥

tapi di antara anak-alay-yang-sudah-bertobat itu masih ada juga beberapa anak yang masih tertular virus alay, dan mereka bangga -,- berikut adalah beberapa contohnya: #jengjeng

anak ini lebay sekali -,-
iya, anak ini lebay sekali yak -,- dia benar-benar tidak menghargai EYD dan pemakaian tanda baca dengan baik dan benar -_- lagipula, ini status curhat kan? panjang bener. apa dia tidak mempunyai diary untuk menuliskan segala keluh-kesahnya? lagipula dia menulisnya di fesbuk, fesbuk itu jejaring sosial, nggak malu apa dilihat banyak orang?


gini aja harus ditulis di fesbuk. di-like sendiri pula-_-


anak ini lesbi? :O
*jahat banget gue*