Rabu, 28 Maret 2012

Stop Trying to Be Someone You Are Not



"Don't lose who you are in the blur of the stars!
Seeing is deceiving, dreaming is believing,
It's okay not to be okay.
Sometimes it's hard to follow your heart.
Tears don't mean you're losing, everybody's bruising,
Just be true to who you are!"



Actually, I write this post not to criticize those people, more to be a reminder for me not to do that anymore.


Have you ever feel that you are not good enough? That you are not pretty enough, skinny enough, had enough? I won't answer that for you. But I know how it feels. I feel like that quite often. They say it's easy to let negative thoughts take over you, they are right. I always have that feeling every time I saw other people who have more than me. Sometimes it even got me thinking that this life is so unfair. It makes me want to be like them. But then it hits me. God created us differently, why bother to be like someone when you, yourself are special too. We will never be like someone we're trying to be because we're not them and they're not us. 

Trying to be something you are not is tiring. I've done that and yes, it is indeed tiring. You'll never feel satisfied and it could even frustrate you. I know it's not as easy as ABC but just live simply, grateful for what you have and embrace it. Love yourself because we are special in our own way. Hope it will works for me… and us.

Selasa, 13 Maret 2012

Burung dan Kotoran Sapi



Seekor burung terbang ke Selatan untuk menghindari musim dingin. Demikian dinginnya sehingga si burung membeku dan terjatuh di padang yang luas. Sementara si burung itu terbaring, datanglah seekor sapi. Sapi tersebut membuang kotoran tepat di atasnya. Di bawah kotoran sapi, si burung merasakan kehangatan. Kotoran tersebut telah menyelamatkannya dari kebekuan. Si burung berbaring dalam kehangatan dan mulai bernyanyi gembira. Seekor kucing yang sedang lewat mendengar nyanyiannya. Si kucing menghampiri nyanyian tersebut dan menemukan si burung di bawah kotoran sapi. Segera ia menggali dan memakan burung itu.

Pesan moral:
a.     Tidak semua orang yang memberi masalah adalah musuhmu.
b.     Tidak semua orang yang membantumu keluar dari masalah adalah teman. Ia bisa saja membuatmu terjebak di dalam masalah yang lebih besar.
c.      Apabila kamu sedang dalam masalah, tutup mulutmu. Jangan banyak bicara.

Sabtu, 10 Maret 2012

Let It Go, Let It Flow



“Kyaaaaaaaaaaaaaaa!” Adel menjerit ketakutan setelah melihat tiga bangkai kecoa yang berada di loker mejanya.
            “Gyahahahahaha.”
            “Adam! Pasti kamu ya yang naruh?!” dengus Adel masih dengan suara yang gemetar.
            Adam hanya tersenyum. Memamerkan evil smile-nya yang terkenal memabukkan.
            “Awas kamu!” balas Adel sambil menjitak kepala Adam.
            “Ahahaha. Makanya lain kali jangan suka marah – marah. Nantinya kena karma kayak yang tadi tuh.”
            “Karma.. karma. Makan tuh karma!”
            “Hehehe. Kamu cantik-cantik kok judes sih, Del.”
            “Bukan urusanmu.” Adel mengerucutkan mulutnya, pura-pura merajuk.
            “Aku ‘kan cuma bercanda.” Kata Adam sambil merangkul bahu Adel.
            Adel hanya diam mendengarnya. Sebenarnya, Adel memang sudah hafal dengan kelakuan Adam yang memang jahil. Kadang candaan Adam memang keterlaluan seperti tadi. Tapi memang tidak ada maksud apa-apa di balik itu.
Mereka sudah bersahabat sejak kelas 2 SD. Mereka bertemu ketika kelas satu sekolah dasar. Orangtua Adam dan orangtua Adel sudah saling kenal sejak SMA. Suatu hari Adam kecil dibawa bertamu ke rumah Adel. Awalnya mereka rebutan mainan sampai akhirnya menangis. Setelah kejadian itu, butuh waktu setahun bagi mereka untuk berbaikan dan akhirnya menjadi sahabat selama kurang lebih tujuh tahun terakhir ini.
Bagi Adel, menjadi sahabat dari seorang Adam Maulana Azhari adalah suatu hal yang lebih dari menyenangkan. Adam adalah orang yang humoris dan menyenangkan, walaupun kadang-kadang jahil, tapi dia adalah tipe orang yang sangat baik. Dia tidak pernah bicara keras, dia juga tidak pernah marah. Dia selalu ceria. Adam selalu bisa membuat teman-teman dan orang-orang terdekatnya tertawa bersamanya.
Adam mungkin memang suka bicara kotor. Tapi di balik itu, dia yang paling rajin beribadah di kelasnya. Di sekolahnya, setiap hari setelah jam istirahat, Adam selalu masuk kelas dengan rambut dan wajah yang basah. Dia selalu Sholat Dhuha’.
            Entah perasaan apa yang selalu melanda Adel ketika berada di dekat Adam. Tapi yang jelas Adel tahu, ia merasa nyaman berada di dekat cowok itu. Ia bisa bercerita banyak hal padanya. Ia bisa merasakan kedamaian hati, ketenteraman batin, dengan duduk di sebelah cowok tinggi, besar, dan tampan seperti Adam.
            Itulah yang membuat Adel begitu menyayangi Adam—sebagai sahabat.
            Lambat laun, perasaan sayang itu berubah menjadi cinta.
            Namun, Adel cukup tahu diri menjaga perasaannya. Ia tidak pernah mengungkapkannya pada Adam karena Adam sudah punya pacar. Nama pacarnya Dilla. Bersama Dilla, Adel melihat kalau Adam benar-benar tulus menyayanginya. Jadi, Adel tidak mau mengganggu kebahagian Adam bersama Dilla.

***

“Del? Adel? Kamu kenapa?”
            Adel tersadar dari lamunannya. “Ah, nggak apa kok, Dam.”
            “Nggak apa gimana? Kamu nangis, Del?”
            Adel baru sadar kalau airmatanya sudah merembes keluar.
            “Nggak apa, Dam. Cuma keinget masa kecil kita yang sering banget berantem. Dan kamu yang jahil. Walaupun yang satu itu masih nempel sampe sekarang. Haha.” Adel mencoba untuk tertawa renyah.
            “Hahaha. Masih inget aja kamu.”
            “Emangnya kamu udah lupa?” tanya Adel setengah menggoda.
            “Enggak kok, Del. Mana mungkin aku lupa.”
            Adel tersenyum bahagia.
            “Lhoo tapi kamu jangan nangis lagi, Del.” Hibur Adam sambil mengusap airmata Adel.
            “Aku kan terharu, Dam. Hahaha.” Adel memencet hidung Adam sebelum akhirnya lari minta dikejar. “Kejar aku kalau kau bisa!”
            Adam hanya menghembuskan napas, lalu tersenyum sebelum mengejar Adel untuk diantar pulang.

***

Menurut Adel, berada di dekat Adam itu rasanya original. Ibarat keripik itu rasanya original. Rasanya enak dan kita tak perlu bumbu untuk menambahkan rasanya. Semuanya natural. Adel tidak harus capek-capek berpikir, "Aku harus pakai baju ini, kayaknya bakal kelihatan lebih.." "Oke, aku harus mikirin apa yang akan aku omongin.." "Kira-kira dia suka nggak ya.." Tidak. Semua pikiran itu sudah tidak ada saat mereka bersama. Kadang saat Adel bangun tidur Adam sudah sms untuk mengajak jalan atau main ke rumah. Tidak perlu wangi dan sudah mandi untuk bikin dia senang. Yang penting bersama, dan makan yang banyak.
Tidak perlu mengatur waktu yang tepat untuk ngomong, ngakak, bersendawa atau bahkan kentut. Tak perlu menyiapkan bahan makanan yang banyak untuk memasak. Hanya sosis dan mie instan. Tidak perlu selalu menatap handphone, berharap suatu saat handphone itu tiba-tiba menyala dan mengatakan ada sms baru dari Adam. Adel boleh sms atau telepon duluan. Toh tidak ada hukumnya cowok duluan yang harus sms atau telepon kan? Mereka melakukan hal yang gila bersama-sama.
Tapi itu yang terbaik. Maksudnya, menjalin hubungan harusnya bukan sesuatu yang harus dibuat-buat, kan? Harusnya seseorang menyukai sesuatu yang begitu spontan dan gila dari orang lain. Bukan sesuatu yang sudah ter-setup dan dipikirkan sebelumnya.
Seperti sekarang ini, mereka sedang berada di kamar Adel, dan bersenda gurau di atas tempat tidur Adel. Ya, Adam baru mengantar Adel pulang, walaupun arah rumah mereka sangat bertolak belakang, dan Papa Adel masih mau menjemputnya. Adam tetap berkeras mengantarkan Adel pulang. Mereka selalu ngobrol tentang hal-hal konyol yang membuat tertawa sampai sakit perut. Memasak mie dan sosis untuk dihabiskan bersama. Walaupun Adam yang menghabiskan sebagian besar makanannya.
Setelah itu mereka kembali ke kamar dan menonton film atau sekedar bercakap-cakap sampai akhirnya Adam tertidur. Adel bisa merasakan hembusan napas Adam yang hangat ketika ia tidur.
Ketika terbangun kembali, Adam langsung berpamitan kepada Mama dan Papa Adel. Adel menemani Adam keluar rumah, membukakan pintu pagar, dan menutupnya kembali.
“Kapan-kapan kayak gini lagi, ya!” kata Adam senang.
“Iya, sering-sering main ke rumah!” sahut Adel tak kalah senang.
Adam lalu tertawa dan mereka berjabat tangan tanda persahabatan. Tapi aneh, tangan Adam terasa dingin. Tidak, ini bukan dingin yang biasanya. Dingin kali ini, sangat dingin, berbeda dengan dingin yang biasa Adel rasakan ketika Adam sakit flu.
“Kamu sakit, Dam?”
“Sakit? Enggak kok.”
“Jaga kesehatan, Dam.”
Adam hanya tersenyum, mengisyaratkan kalau ia menyetujui saran Adel.
“Aku pulang dulu, Del.”
“Iya. Hati – hati di jalan, Dam.”
Adam pun meluncur pergi dengan motornya.

***

Jabat tanganku, mungkin untuk yang terakhir kali. Kita berbincang tentang memori di masa itu. Peluk tubuhku usapkan juga air mataku. Kita terharu seakan tidak bertemu lagi..” handphone Adel berdering, tanda ada sms masuk. Dari Adam.
            “Kamu di mana? Cepetan ke sekolah!”
            Yah, wajar Adam bertanya seperti itu. Hari ini Adel, Adam, dan teman-teman mereka harus latihan untuk persiapan pentas seni di sekolah mereka. Maklum, mereka sudah kelas 9. Seperti angkatan-angkatan tahun sebelumnya, mereka diberi kesempatan untuk menampilkan penampilan terbaik mereka atas nama kelas masing-masing dalam pensi tersebut. Dan ini sudah mencapai H – 6.
            Adel yang saat itu baru bangun tidur menjawab singkat.
            “Otw.”
            Adam membalas cepat. “Cepetan!”
            Padahal saat itu di pipi Adel masih menempel bekas iler dan rambutnya masih acak-acakan. Matanya pun masih belum terbuka lebar. Adel memang sengaja membalas seperti itu agar Adam yang berada nun jauh di seberang sana bisa agak tenang sedikit. Makanya Adel bilang saat itu dia sedang dalam perjalanan. Daripada kalau Adel jujur kalau ia baru bangun tidur, Adam pasti akan membantainya habis-habisan di sekolah.
            Adel langsung pergi ke kamar mandi. Selesai mandi, di layar handphone Adel sudah ada sms baru dari Adam.
            “Del, kamu di mana?”
            Jari-jari lentik Adel melompat-lompat lincah di atas keypad handphone-nya.
            “Di Dieng, Dam. Macet pol.”
            Adel membalas seperti itu (lagi) agar Adam bisa tenang dan tidak sms Adel terus. Padahal saat itu Adel baru mau keluar rumah.
            Sesampai di sekolah, Adel langsung melesat menuju ruang seni, tempat Adam dan beberapa temannya menunggu.
            Mereka langsung latihan band untuk memantapkan latihan yang telah mereka lakukan selama ini. Mereka memainkan dua buah lagu. Kita Selamanya dan Sebuah Kisah Klasik. Dua buah lagu yang bertemakan perpisahan. Dan Adam-lah yang memilih dua lagu itu. Adel dan Aldi—sahabat mereka, langsung setuju karena mereka pikir, kalau Adam yang memilih lagu, pasti selalu bagus. Adam kan seleranya tinggi. Lagipula dia adalah seorang bassist di sebuah ekstrakurikuler musik di sekolah mereka bersama Aldi.
           "Kenanglah sahabat kita untuk selamanya~"
Lagu selesai dinyanyikan dengan sempurna. Tinggal satu lagu lagi maka mereka bisa dikatakan sudah siap tampil di panggung pensi.
"...mungkin diriku masih ingin bersama kalian. Mungkin jiwaku masih haus sanjungan kalian."
            Lagu yang kedua itu dinyanyikan oleh Adel dan Adam. Tentu saja Adel senang bukan kepalang. Pada awalnya ketika diberi tahu oleh Aldi kalau Adel yang akan jadi vokalis, tentu saja badan Adel langsung merinding disko. Dia yakin suaranya akan mempermalukan dirinya, bahkan setelah dia keluar dari sekolah ini. Tapi ketika Aldi melanjutkan ucapannya kalau Adel akan duet bersama Adam, Adel langsung lompat-lompat tak karuan melebihi kebahagiaan seorang gembel yang menemukan koper berisi duit Rp. 1 Milyar di jalanan.

***

“Adel, bisa bantuin nggak?” panggil Rina.
            “Oke.”
            “Pegangin ini ya.”
            Mercury—kelas Adel—sedang mendekorasi stand yang akan mereka gunakan untuk memamerkan hasil karya seni anak-anak kelas mereka. Bisa juga bermain-main menunggu pensi dimulai, atau sekedar duduk-duduk santai ketika mereka capek setelah menampilkan performance mereka ketika pensi.
            Ini sudah H – 1 pensi. Adel, Rina, dan anak cewek lainnya sedang memasang lukisan-lukisan, lempengan emas berisi karya anak-anak sekelas, dan foto anak-anak sekelas. Kemudian Aldi datang membawa patung seorang tua yang memakai jas putih dan memegang gelas kimia yang digambarkan berisi sebuah cairan yang terbuat dari gabus ditemani dengan anjing peliharaannya yang juga terbuat dari gabus. Anjing tersebut menggigit papan bertuliskan “Welcome to M-E-R-C-U-R-Y world!”. Tapi terlihat kurang sempurna. Benar-benar aneh kalau Aldi yang mengerjakan. Sedangkan yang cowok-cowok sedang memasang sebuah pelangi yang di sisi kanan-kirinya terdapat daun maple yang terbuat dari gabus dan bertuliskan “Mercury” yang dibuat oleh tim dekorasi mereka di bagian atas terdepan stand mereka.
            Sebagian cewek-cewek lain sedang berada di aula untuk membuat headband dari imitasi ranting pohon—yang akan digunakan saat pensi—dengan ditemani teh gelas dan beberapa buah jambu dan apel yang dibawakan oleh Mama Adam. Terlihat ada empat anak yang sedang sibuk membuat headband tersebut. Rencananya, setelah merangkainya, di bagian depan headband tersebut akan dilengkapi dengan daun maple yang menjadi ciri khas kelas mereka.
            Di bawah tirai air, mereka bekerja keras mempersiapkan pensi esok hari dengan sebaik-baiknya. Bagaimana tidak, pensi ini hanya terjadi sekali dalam seumur hidup mereka bersekolah di SMP mereka tercinta ini. Kalau mereka tidak melakukan persiapan maksimal, mereka tidak akan punya cerita seru untuk dibagikan bersama teman-teman barunya di SMA nanti.
            Stand mereka baru selesai dihias pada pukul 7 malam. Semua persiapannya juga sudah siap. Band? Sudah. Dance? Lancar. Teater gimana? Teater juga sudah siap kok. Dekorasi juga sudah mantap. Tunggu, kostumnya gimana? Kostumnya juga sudah jadi sejak H – 10 kok. Tinggal menunggu hari esok.

***

“Mari kita saksikaan, penampilan band dari 9F!” MC pensi telah memanggil band kelas Adel untuk segera naik ke atas panggung.
            Band kelas Adel tampil tepat setelah teater kelas mereka, pukul 10.00. Teater mereka berjalan sempurna, karena saat sudah selesai tepuk tangan langsung membahana dari seluruh lapangan basket yang saat itu dijadikan tempat diadakannya pensi ini dan suara tawa terhibur terdengar dari sana-sini ketika teater berlangsung.
Adel yang saat itu menjadi vokalis menyapa para penonton terlebih dahulu.
            “Selamat pagi semuaanyaa! Kami dari 9F akan menyanyikan dua buah lagu. Let’s check it out!”

Hey yo, it’s not the end
It just the beginning
Yo okay detak-detik tirai mulai menutup panggung
Tanda skenario (wey yo) baru harus diusung
Lembaran kertas baru pun terbuka
Tinggalkan yang lama biarkan sang pena berlaga (uh huh)

Kita pernah sebut itu kenangan tempo dulu
Pernah juga hilang atau takkan pernah berlalu
Masa jaya putih biru atau abu-abu
Memori cinta cita aku dia dan kau

Saat dia masuki alam pikiran
Ilmu bumi dan sekitarnya jadi kudapan
Cinta masa sekolah yang pernah terjadi
That was the moment a part of sweet memory

Kita mampu melangkah berdua
Kita ciptakan hangat sebuah cerita
Mulai dewasa, cemburu, dan bungah
Finally now, it’s our time to make a history

Bergegaslah kawan, ‘tuk sambut masa depan
Tetap berpegang tangan, saling berpelukan
Berikan senyuman ‘tuk sebuah perpisahan
Kenanglah sahabat kita untuk s’lamanya

Kenapa semua masa ‘kan kurekam dalam memori
Satu cerita teringat di dalam hati
Kar’na kau berharga dalam hidupku, teman
Untuk satu pijakan menuju masa depan

Duka bersama, tawa bersama
Berpacu dalam prestasi, huh, hal yang biasa
Satu persatu memori terekam
Di dalam api semangat yang tak mudah padam

Ku yakin, kau pasti sama dengan diriku
Pernah berharap agar waktu ini tak berlalu
Kawan, kau tahu kawan, kau tahu kan?
Beri pupuk terbaik untuk bunga yang kau simpan

Bergegaslah kawan, ‘tuk sambut masa depan
Tetap berpegang tangan, saling berpelukan
Berikan senyuman ‘tuk sebuah perpisahan
Kenanglah sahabat kita untuk s’lamanya

Bergegaslah kawan, ‘tuk sambut masa depan
Tetap berpegang tangan, saling berpelukan
Berikan senyuman ‘tuk sebuah perpisahan
Kenanglah sahabat kita untuk s’lamanya

Lagu selesai dinyanyikan dengan sempurna. Adel telah menyumbangkan suara terbaiknya sebagai vokalis, begitu juga dengan Ardhan yang telah menjadi rapper di lagu ini. Tepuk tangan meriah dipersembahkan kepada band 9F ini. Lagu selanjutnya pun kembali didendangkan.

Jabat tanganku, mungkin untuk yang terakhir kali
Kita berbincang tentang memori di masa itu
Peluk tubuhku usapkan juga air mataku
Kita terharu seakan tidak bertemu lagi

Bersenang-senanglah
Kar'na hari ini yang 'kan kita rindukan
Di hari nanti sebuah kisah klasik untuk masa depan
Bersenang-senanglah
Kar'na waktu ini yang 'kan kita banggakan di hari tua

Sampai jumpa kawanku
S'moga kita selalu
Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan
Sampai jumpa kawanku
S'moga kita selalu
Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan

Bersenang-senanglah
Kar'na hari ini yang 'kan kita rindukan
Di hari nanti..

Sampai jumpa kawanku
S'moga kita selalu
Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan
Sampai jumpa kawanku
S'moga kita selalu
Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan

Mungkin diriku masih ingin bersama kalian
Mungkin jiwaku masih haus sanjungan kalian

            Lagu yang kedua mendapatkan tepuk tangan yang lebih meriah daripada sebelumnya. Adel tersenyum bahagia. Senyumnya merekah. Selain karena penampilan mereka sudah dianggap bagus, ia juga senang karena sudah menampilkan yang terbaik bersama orang yang ia sayangi. Sangat ia sayangi. Adam.
            Pensi mereka sukses. Band kelas Adel mendapatkan predikat sebagai band terbaik di pensi ini—mengalahkan delapan kelas yang lain. Kelas Adel bersorak kegirangan ketika pengumuman tersebut dibacakan, apalagi para personel band tersebut—Adam dan Adel juga tentunya.
Mereka benar-benar senang di hari itu. Tanpa Adel sadari, sebuah alunan lagu menyapa telinganya.
Jabat tanganku, mungkin untuk yang terakhir kali. Kita berbincang tentang memori di masa itu. Peluk tubuhku usapkan juga air mataku..”
Kita terharu seakan tidak bertemu lagi..”

***

Jabat tanganku, mungkin untuk yang terakhir kali. Kita berbincang tentang memori di masa itu. Peluk tubuhku usapkan juga air mataku. Kita terharu seakan tidak bertemu lagi..” handphone Adel berdering, tanda ada sms masuk. Dari Adam.
            “Del, aku ke rumahmu ya :D”
            ”Oke, silakan :D”
            “I’ll be there less than one second. Haha :D”
            “Adam plis ya -_-“
            Selebihnya tidak ada sms masuk lagi dari Adam. Mungkin sedang dalam perjalanan, pikir Adel.
            Sementara itu, di atas tempat tidur Adel terdapat beberapa ekor kucing hitam dan putih. Adel tidak tahu dari mana asalnya kucing-kucing itu. Adel tidak pernah memelihara kucing. Semua jendela kamarnya juga ditutup. Lantas, itu kucing siapa, dan berasal dari mana?
            Adel berusaha menyingkirkan kucing-kucing itu dari tempat tidurnya. Selain karena alasan tempat tidurnya akan menjadi kotor, Adel juga tidak begitu suka dengan kucing. Ia punya kenangan buruk dengan kucing. Saat Adel berumur empat tahun, ia pernah memelihara kucing. Namun kucingnya itu mati ditabrak mobil tetangganya. Adel kecil melihat langsung kejadian tersebut. Beberapa hari kemudian, ia menemukan seekor kucing yang mirip dengan kucingnya yang mati itu. Saat Adel memeluknya, kucing tersebut malah mencakar-cakar tangan serta mukanya.
            Walau sudah berkali-kali disingkirkan, kucing-kucing tersebut tetap kembali ke tempat tidur Adel, tepatnya di tempat Adam biasanya tidur. Disingkirkan, kembali, disingkirkan, kembali lagi. Adel yang mulai kewalahan memutuskan untuk membiarkan kucing-kucing tersebut tetap berada di tempat tidurnya.
            “It’s never too late to show you who I am. And I know you wanna love me. I know you understand that I could be your missing page..”
            Refleks Adel meraih handphone-nya. Itu nada untuk panggilan masuk.
Aldi 9F is calling.
“Ada apa, Di?”
“Halo, Adel? Adam ada di rumahmu nggak?”
“Nggak tuh, kenapa?”
“Lho, dia ke rumahmu, kan?”
“Iya, tapi dia belum nyampe. Ntar lagi dia pasti nyampe.”
“Oh gitu. Kalo dia udah nyampe telepon ya. Kamu harus berdoa supaya dia cepet nyampe. Bye!
Klik! Aldi menyelesaikan panggilannya.
Belum ada semenit sejak Aldi menelepon, Ardhan meneleponnya.
“Adel! Adam di rumahmu nggak?”
“Harusnya sih gitu, tapi dia belum nyampe nih.”
“Kamu harus berdoa biar dia cepet sampe. Amin!”
Klik! Ardhan menutup teleponnya.
Ardhan memang orang yang aneh dan irit bicara. Namun, suara Ardhan tadi agak berbeda, ia terdengar tergesa-gesa. Seaneh-anehnya seorang Ardhan, ia takkan bernada seperti itu jika sesuatu tidak terjadi. Apa gerangan yang sedang terjadi?
Sekarang giliran Daniel yang meneleponnya.
“Adam ada di rumahmu, nggak?”
“Enggak, Niel. Dia belum dateng.”
“Yaudah. Berdoa aja ya.”
Klik! Singkat sekali.
            Dering handphone Adel kembali terdengar. Ada telepon dari Adam.
“Halo, Adam? Kamu di mana? Jadi ke rumahku, kan? Semua orang nelepon aku dan bikin aku khawatir. Mereka bilang aku harus berdoa supaya kamu cepet sampe rumahku…”
Adel belum selesai dengan ucapannya, namun di seberang sana Adam terdengar sedang berusaha untuk menyampaikan sesuatu kepada Adel.
aaku.. sayang.. kamu.. Del.” Suara Adam terdengar begitu kecil dan tidak terlalu jelas.
“Apa, Dam? Aku nggak denger. Kamu kenapa, Dam? Suara kamu…”
aku sayang kamu, Del. Aku… sayang… kamu…
Adel tertegun beberapa saat. Apa barusan Adam bilang kalau dia sayang Adel?
“Kamu sayang aku, Dam?”
Klik! Panggilan terputus. Adel merasa ada sesuatu yang buruk sedang terjadi pada Adam. Adel cepat-cepat menuju kamar mandi dan mengambil air wudhu. Ia akan Sholat Isya’. Berdoa agar Adam bisa sampai rumahnya dengan selamat.

***

Malang, 9 Januari 2011. (Adam Maulana Azhari’s POV)

aku sayang kamu, Del. Aku… sayang… kamu…” Aku berusaha menyampaikan pesan terakhirku kepada Adel. Namun sepertinya ia tidak begitu mendengar suaraku.
            Aku tak bisa merasakan apa-apa lagi setelah itu. Sekujur tubuhku sudah berlumuran darah. Kecelakaan yang menimpaku barusan telah merenggut kehidupanku.
            Rencananya malam ini aku akan ke rumah Adel dan ingin bersenda gurau bersamanya seperti yang biasa kami lakukan. Memasak mie dan sosis untuk dimakan bersama dan menonton film sampai tertidur.
            Sayangnya, Tuhan berkehendak lain.
            Ketika sedang dalam perjalanan ke rumah Adel, ketika sampai di persimpangan jalan, ada cahaya muncul dari depanku dan menyilaukan mataku. Cahaya tersebut adalah lampu truk, yang kemudian dengan sadisnya menabrak aku dan motorku ke arah kanan. Motorku menabrak pohon dan aku terpental sejauh beberapa meter ke depan. Helm yang menempel di kepalaku terlepas. Sedangkan tubuhku terbentur keras di pembatas jalan. Tulang rusukku patah dan menusuk paru-paruku. Sakit!
            Beberapa detik kemudian, masih dalam keadaan sekarat itu, handphone-ku secara tidak sengaja menelepon nomor Adel. Tersambung. Adel mengangkatnya. Dia bilang bahwa semua orang meneleponnya dan menanyakan padanya apa aku ada di rumahnya atau tidak. Aku tidak begitu memperdulikan apa yang dia katakan melalui telepon itu. Aku tidak mau pusing. Yang kupedulikan hanya satu. Mengatakan bahwa aku sayang padanya.
            Ya, aku menyayanginya.
            Lebih dari sekedar sahabat.
            Saat Aldi—ketua band untuk pensi kami, memberi tahu kalau aku akan berduet dengan Adel pada saat pensi, aku senang sekali. Namun rasa senang itu tidak kuperlihatkan pada siapa-siapa. Entah mengapa, aku ingin menyimpan rasa senang itu sendiri.
            Alasan kenapa aku tidak pernah mengungkapkan padanya selama ini adalah… karena aku tidak memiliki cukup keberanian untuk mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya. Aku tahu aku berbohong kepada Dilla tentang perasaanku padanya.
            Dan dampaknya sekarang? Aku tak bisa mengatakannya. Aku tak akan pernah mempunyai kesempatan lagi. Dulu aku mempunyai kesempatan itu dan aku menyia-nyiakannya. Aku tak pernah menyangka bahwa aku akan pergi meninggalkan Adel. Meninggalkan sahabat-sahabat dan orang-orang yang menyayangiku. Meninggalkan seluruh isi dunia ini.
            Aku pun tak pernah menyangka, kalau lagu berjudul Sebuah Kisah Klasik itu—lagu yang kupilih sendiri—akan menjadi lagu pertama dan terakhir yang kunyanyikan bersama Adel. Dan lirik lagu tersebut, juga akan menjadi pesan terakhirku kepada orang-orang yang kusayangi.
            Otakku memberi isyarat. Aku mati. Aku bisa merasakan detak jantungku yang semakin lama semakin lemah. Otakku memberi isyarat lagi. Aku sudah mati. Darah semakin banyak keluar dari tubuhku. Semuanya menjadi hitam. Mulutku hanya bisa bergetar tanpa mengeluarkan suara.
            “Sampai jumpa,” ucapku tak bersuara dengan senyum yang kutarik untuk terakhir kali. “Ke akhirat hanya satu jam perjalanan.”
            Kini otakku sudah berhenti memberi isyarat. Aku juga sudah tidak bisa melihat warna apapun. Hitam pun tidak. Dan aku merasakan ada sesuatu yang ditarik perlahan-lahan keluar dari tubuhku.

***

Adel baru selesai sholat ketika mendengar suara mamanya menjerit keras dari arah bawah.
            Adel buru-buru turun dan menanyakan apa yang terjadi. Namun mamanya tidak dapat langsung menjawab pertanyaan Adel. Mama hanya menyuruh Adel ganti baju dan mengatakan bahwa mereka harus secepatnya pergi ke rumah sakit sekarang juga.
            “Kita ke rumah sakit.”
            “Siapa yang sakit, Ma?”
            “Udahlah. Cepetan ganti sana.”
            Adel menuruti perintah mamanya. Ia cepat-cepat ganti baju dan setelah selesai, ia segera turun. Mama menyuruh Adel untuk segera ke garasi. Mama mengambil kunci mobil dulu, kemudian muncul di garasi untuk mengeluarkan mobil, dan selanjutnya Mama mengemudikan mobil ke arah rumah sakit.
            Di tengah perjalanan, Adel mengirimkan sebuah pesan singkat kepada Aldi.
            “Di, kamu tau Adam di mana?
            “Gk.”
            “Beneran?”
            “Y.”
            Ada yang aneh, pikir Adel. Aldi tidak biasanya membalas sms dengan satu kata seperti itu. Dan anehnya lagi, Aldi membalas smsnya hanya dengan satu dua huruf. Aldi tidak akan seperti itu jika sesuatu tidak terjadi, pikir Adel dalam hatinya.
            Adel lalu memutuskan untuk mengirimkan sms pada Ardhan.
            “Adam di mana, Dhan?”
            “Mana kutahu!”
            “Yee, ditanya malah marah!”
            Mobil yang dikendarai Adel dan mamanya telah sampai di tempat parkir rumah sakit. Setelah memarkir mobil, mereka cepat-cepat masuk dan di UGD terdapat beberapa orang berkerumun. Orang-orang itu adalah Aldi, Ardhan, Daniel, Dilla, Rina, dan orangtua Adam.
            Adel yang kebingungan bertanya pada Aldi.
            “Siapa yang ada di dalem, Di?”
            Aldi tidak menjawab sehingga Adel memilih untuk bertanya pada Ardhan.
            “Siapa yang sakit, Dhan?”
            Ardhan hanya menatap Adel dengan tatapan tak tega.
            “Yang ada di dalem itu siapa, Niel? Kok banyak yang dateng?” Adel bertanya kepada Daniel.
            Daniel hanya menoleh sebentar, mengangkat alis dan kembali menunggu.
            Adel memonyongkan mulutnya.
            “Dilla dateng juga? Kamu tahu nggak siapa yang ada di dalem?”
            Dilla hanya menatap Adel sebentar dengan mata berkaca-kaca, kemudian memalingkan pandangannya dari Adel.
            “Yang di dalem siapa sih, Rin?”
            Rina pun bungkam. Sepertinya semua orang sengaja tutup mulut kepada Adel.
            “Kok nggak ada yang jawab, sih?” Adel mulai kesal.
            Mama Adam dengan mata yang sembab dan merah menghampiri Adel.
            “Nanti kamu juga bakal tahu kok, Del.”
            Bersamaan dengan itu, seorang dokter keluar dari ruangan. Peluh membasahi dahinya.
            Semua orang menatap sang dokter dengan tatapan penasaran. Dokter seakan mengerti dan langsung menjawab.
            “Dia berhasil bertahan. Tapi masih dalam keadaan koma. Biarkan dia istirahat dulu, satu jam selanjutnya baru dia bisa dijenguk.”
            Akhirnya ia pergi.
            Adel yang masih diselimuti rasa penasaran bertanya lagi kepada mamanya Adam.
            “Yang di dalem itu siapa, tante?”
            “Satu jam selanjutnya kamu boleh masuk duluan.”
            Adel hanya mengela nafas. Dia harus bersabar menunggu waktu satu jam.

***

“Dia boleh dijenguk sekarang.” Dokter itu mempersilakan. “Tapi jangan ramai-ramai. Satu persatu saja. Siapa yang mau duluan?”
            Mama Adam mempersilakan Adel untuk masuk duluan.
            Adel tersenyum tanda berterimakasih.
            Adel memutar engsel pintu, kemudian masuk ke dalam ruangan bercat putih bersih dengan bau obat-obatan yang menyengat itu setelah menutup pintunya kembali. Ia terperanjat kaget setelah melihat sesosok manusia berbalut perban di sana-sini. Ia tahu, orang itu adalah Adam. Sesaat kemudian, wajah Adel memerah dan dalam waktu kurang dari sepuluh detik, airmatanya tumpah dan membentuk sungai di wajahnya.
            Ia mendekati Adam. Memegang erat tangannya dengan harapan dapat memberikan kekuatan kepada Adam.
            Ia bicara pelan, lebih kepada dirinya sendiri.
            “Kenapa kamu bisa jadi kayak gini, Dam…” Adel berkata sambil sesenggukan.
            “Karena aku ya, Dam?” Adel masih terus berkata sambil melelehkan airmatanya.
            Adam tidak bereaksi sama sekali. Lebih tepatnya, ia tak bisa.
            “Maaf, Dam. Selama aku menjadi sahabatmu, aku selalu marah-marah dan bersikap dingin ke kamu. Walaupun aku tahu kamu menjahiliku untuk membuatku tertawa-tawa, aku tetap merasa bahwa kamu menyebalkan.” Kata Adel.
 “Kamu ingat, waktu kita nonton film sampai tertidur di kamarku, kamu tahu, kamu selalu mengambil banyak tempat. Kamu juga selalu mengigau dan menendang-nendang bantalku. Aku hanya bisa tersenyum geli melihatmu.” Kata-kata itu terus mengalir dari mulut Adel.
            “Kamu ingat, waktu aku lagi bete, sampai-sampai aku terlihat seperti gembel sambil ngusep-ngusep pipiku di pojok ruang IPA 3, kamulah orang yang pertama kali sadar kalo aku lagi bĂȘte kan, Dam? Waktu itu hujan, kamu sama Aldi duduk di deket jendela, kamu bisik-bisik dulu sama dia sebelum kamu tanya ke aku, aku nangis apa enggak. Aku masih ingat semuanya, Dam.” Adel menggigit bibirnya, menahan kepedihan yang tersimpan rapi di dalam hatinya.
            “Kamu ingat, waktu H – 14 pensi, waktu kita mau latihan band buat pensi di sekolah, kamu menjemputku dengan motor kesayanganmu yang sekarang sudah hancur, dan kamu ngebut waktu perjalanan ke sekolah. Di jalanan serame itu. Aku sampai jerit-jerit. Kamu gila, Dam.” Adel masih terus bicara dengan disertai sebuah senyum ejekan—menertawakan dirinya sendiri.
            “Dan kamu ingat waktu pensi? Waktu ngeband aku seneng banget, karena aku bisa dapet kesempatan nyanyi bareng kamu, Dam. Orang yang aku sayang selama ini.” Kenang Adel.
            Hening sejenak. Adel mengusap airmatanya sebelum akhirnya melanjutkan.
            “Kamu tahu rasanya patah hati, Dam? Rasanya sakit banget,” kata Adel. “Perih dan bikin mual, marah, dan sedih dalam satu waktu.” Adel berhenti sejenak.
            “Aku mengalaminya belum lama ini.” Lanjutnya.
            “Waktu kamu jadian sama Dilla dan dengan wajah berseri-seri kamu menceritakannya padaku, rasanya…,” Adel terdiam sejenak. “Seperti patah hati.”
            “Kamu tahu kenapa aku ngerasa patah hati, Dam? Karena aku sayang kamu, Dam. Aku cinta sama kamu. Selama ini aku takut mengatakannya padamu, aku takut ditolak, aku takut kamu tertawakan, aku takut… kalau nanti aku mengatakannya, kamu malah menjauhiku, Dam. Jadi lebih baik aku menyimpan perasaan ini sendiri, Dam.” Adel masih sesenggukan.
            “Aku sama sekali nggak peduli latar belakangmu, siapa orangtuamu, kamu pinter ato nggak, kamu berbakat apa, kamu bawa motor ato enggak, kamu punya pacar ato enggak, kamu ganteng ato jelek, semuanya aku nggak peduli, Dam,” kata Adel. “Aku hanya peduli satu hal…,” Adel melanjutkan kalimatnya, “Aku cinta kamu. Hanya tiga kata sederhana itu.”
            Perlahan-lahan Adel melihat, mata Adam meneteskan airmata. Walaupun matanya masih tertutup rapat.
            Adel tercenung dengan pemandangan seperti itu.
            “Adam? Kamu denger semua yang aku katakan barusan, Dam? Kamu bangun, Dam?” kata Adel mulai tersenyum sambil merapatkan genggaman tangannya.
            Mulut Adam perlahan-lahan bergetar seolah ingin mengatakan sesuatu. Adel mendekatkan telinganya ke bibir Adam agar lebih bisa mendengarnya.
            “Jabat tanganku, mungkin untuk yang terakhir kali…”
            Adam mengucapkan sebaris lirik lagu Sebuah Kisah Klasik.
            Adel lebih merapatkan genggamannya.
            “Kita berbincang tentang memori di masa itu…”
            Senyum Adel semakin mengembang. Ia memanggil orang-orang di luar dengan teriakannya. Kontan semua orang berhamburan masuk ke dalam ruangan.
            “Peluk tubuhku usapkan juga airmataku…” Adam masih berkomat-kamit.
            Kita terharu seakan… tidak… bertemu… lagi…”
            Semua orang yang ada di ruangan itu tersenyum, sebelum mereka tahu bahwa Adam sekarang sedang berusaha mengucapkan kalimatnya yang terakhir.
            “Mungkin… diriku… masih… ingin… bersama… kalian………….”
            Tiba-tiba Adel merasakan tangan Adam semakin dingin, semakin lemas sebelum akhirnya benar-benar terlepas dari genggamannya.
Tubuh Adam tersentak.
            Di layar elektrokardiograf di sebelah Adam menunjukkan garis lurus dan memperdengarkan bunyi mendengung, tanda terjadinya Cardiac Arrest, yang berarti jantung Adam telah menyelesaikan tugasnya.
            Senyum yang ada di bibir orang-orang dalam ruangan itu dalam sekejap berganti menjadi tangisan yang meraung-raung. Sayup-sayup, terdengar sebuah nyanyian merdu dari luar jendela.
            “Jabat tanganku, mungkin untuk yang terakhir kali… Kita berbincang tentang memori di masa itu… Peluk tubuhku usapkan juga airmataku…”
Kita terharu seakan tidak bertemu lagi…”
            Bersamaan dengan itu, kucing-kucing yang tadi ditinggalkan Adel di atas tempat tidurnya tiba-tiba menghilang tanpa bekas sedikitpun. Kemudian wangi melati tercium di seluruh ruangan itu selama lima menit. Tidak ada yang tahu dari mana asalnya.
            Adel jatuh terduduk. Harapannya memberi kekuatan kepada Adam hilang sudah. Di matanya tampak selaput bening yang menggumpal, berkumpul, dan akhirnya jatuh satu persatu, membasuh hati yang tersayat karena kejadian malam itu. Adel tak pernah menyangka ia akan kehilangan Adam secepat itu. Mereka bahkan belum lulus SMP.
            Adam telah berpulang malam itu diiringi dengan wangi melati dan nyanyian merdu Sebuah Kisah Klasik. Semua orang merasakan kehilangan yang teramat sangat.
            Adel jatuh tersungkur menghadap lantai, ditemani dengan cairan bening yang keluar dari kedua lubang matanya.

***

Malang, 9 April 2011 (Adelia Semesta’s POV).

Aku telah kehilangan dia, orang yang paling menyebalkan sedunia, sekaligus yang paling aku sayangi, tepat tiga bulan yang lalu.
            Kau pasti sudah tahu siapa dia, bukan?
            Dia adalah Adam Maulana Azhari, sahabat terbaik yang pernah aku miliki.
            Dia meninggal karena kecelakaan yang membuat tulang rusuknya patah dan menusuk paru-parunya. Setidaknya itu informasi yang kudapatkan dari mamanya.
            Aku yang diberi amanat untuk menyampaikan kabar menyakitkan itu kepada teman-teman sekelas terlanjur tak bisa menahan tangis. Saat aku bilang bahwa Adam sudah meninggalkan kami, mereka bilang aku ini bohong.
            Tapi kenyataannya, aku tidak sedang berbohong. Adam, sahabatku, sahabat kami semua, telah pergi. Tidak, bukan hanya sekedar pergi yang, “Tunggu di sini, ya. Aku pergi dulu. Nanti aku balik, kok.” Bukan, bukan seperti itu. Pergi ini benar-benar lain, Adam benar-benar pergi, ke alam yang berbeda.
            Aku benar-benar tak suka mengingat kejadian hari itu. Saat aku berdiri di depan kelas untuk menyampaikan kabar itu sambil menahan tangis, walaupun akhirnya tumpah juga, melihat teman-temanku menangis meraung-raung, terdengar isak tangis di sana-sini. Bahkan cowok-cowoknya juga. Dan seorang guru kesayangan Adam yang sedang berada di kelas itu juga ikut menangis.
            Aku juga mendengar suara tangisan dari kelas-kelas di sebelah kami. Saat itu sekolahku seolah banjir airmata. Ditambah dengan suasana hujan yang menambah kesan kesedihan. Langit pun turut bersedih atas kepergianmu, Dam.
            Sepulang sekolah, mendadak seluruh anggota ekstrakurikuler musik di sekolahku disuruh berkumpul di ruang seni budaya. Ya, semuanya. Mulai kelas 7, 8, dan 9. Sayangnya kamu tidak ada di sini, Dam. Kami berdoa untukmu di ruang seni itu. Mendendangkan lagu-lagu yang pernah kamu mainkan. Menonton video-video yang kami punya tentang kamu. Kami merindukanmu, Dam.
            Ya ampun, Dam. Sehari tanpa kamu aja udah kayak gini. Udah terdengar kesedihan di sana-sini.
            Pernah aku nyoba duduk di dekat jendela kelas IPA 3 yang pernah kamu duduki bareng Aldi. Aku inget persis gimana kamu duduk, ngomong, dan tertawa saat itu. Tiba-tiba mulutku mengucapkan sebuah pertanyaan.
            “Dam, apa kamu nggak mau duduk di sini lagi?”
            “Dam, kamu nggak mau mbalik a, Dam?”
            Sekalipun aku tahu, pertanyaan itu takkan pernah terjawab. Tapi, tiba-tiba angin menyapa tengkukku, mencoba menjawab. Mungkin.
            Padahal, kupikir malam itu aku bisa bersenang-senang dengan dia seperti yang kami lakukan sebelumnya. Kupikir kami bisa menonton tiga film yang sudah kusiapkan malam itu untuk ditonton bersama. Kupikir kami bisa memasak mie dan sosis bersama dan menghabiskannya. Kupikir aku bisa melihat dia tidur dan mendengar suara dia mengigau sambil menendang-nendang bantalku. Kupikir aku bisa merasakan nafas hangatnya ketika dia tidur. Sayang sekali dia sudah kehilangan nafasnya sekarang.
            Padahal, seminggu berikutnya adalah hari ulangtahunku. Kudengar, dia telah menyiapkan kado untukku. Menurut mamanya, dia sampai keliling kota untuk mencarikan kado itu dan memakai sebagian besar tabungannya untuk membelinya. Adam, sampai segitukah kamu memperlakukanku?
            Sekarang, tidak ada lagi yang menjadi partner dalam mengerjakan Matematika. Tidak ada lagi yang bisa diajak ngobrol apa saja sambil duduk di lantai kelas Bahasa Indonesia. Tidak ada lagi yang mengajarkan Bahasa Jawa padaku dengan sabar. Tidak ada lagi yang masak mie dan sosis bareng aku. Tidak ada lagi yang menghabiskan makanan di acara ulangtahunku. Tidak ada lagi teman nonton film. Tidak ada lagi orang jahil yang suka membuat bĂȘte guru-guru. Tidak ada lagi nama Adam Maulana Azhari di daftar absen kelas. Tidak ada lagi sahabat yang mau mendengarkan semua curhatku.
            Tapi, Dam, kamu selalu ada dalam kenangan, kamu selalu ada di pikiran kami, di hati kami semua, orangtuamu, teman-temanmu, guru-guru, semuanya. Kami tak mungkin melupakanmu.
Aku merasa, aku berbicara dengan Adam di setiap malamku, saat aku berbaring di tempat tidurku, dan aku 95% percaya bahwa dia ada disebelahku, ada, dan mendengarkanku. Aku berhati-hati memilih kata, berusaha tidak menangis, dan mengatakan bahwa dia meninggalkanku di saat terburuk karena aku sudah cukup mengenalnya untuk tahu bahwa aku benar-benar jatuh cinta sama dia, tapi dia belum meninggalkan kenangan yang cukup.
Aku takut jika memikirkan tentang Adam terlalu sering, karena... Seperti lagu, kalau kamu mendengarkannya, memutarnya terus menerus, kita akan menjadi bosan dan lalu akan memudar dari ingatan kita. Aku takut dia hilang dari dalam benakku walaupun sekarang rasanya itu tidak mungkin.
Aku benci memperlihatkan rasa sedihku ke orang-orang. Seperti di sekolah, aku tetap tertawa seperti aku hanya teman sekelasnya, dan tidak pernah merasakan getaran kalau ada dia di sampingku. Padahal otakku terlalu lelah membuang bayangan-bayangannya berjalan sambil membawa tas, suara tawanya, aroma tubuhnya, dan semuanya.

***

Suatu siang, Adel menuliskan sesuatu di dalam buku hariannya.
(mungkin) cemburu yang dibatasi dua dunia adalah:
            Di siang hari setelah kamu bersantai di atas ranjangmu, kamu mencari telepon genggammu di setiap sudut ranjangmu, namun hasilnya adalah nihil. Lalu kamu keluar kamar untuk mencari di tempat-tempat yang kamu pikir kamu bisa menemukannya. Namun tetap tidak ketemu. Kamu pun menyerah dan memutuskan untuk kembali ke kamarmu dan saat itu juga kamu melihat telepon genggammu terbaring dengan indahnya di atas bantalmu.
            Dan di saat kamu melakukan ritual malammu; yaitu menangis, menginginkan masa lalumu terulang kembali. Kamu tertidur dalam tangis, lalu kamu bermimpi tentang dia, dan tentang apa saja yang telah kalian lewati bersama.
            Mungkin semua tampak tidak masuk akal, tetapi semua itu benar-benar terjadi.
Mungkin dia memang tidak bisa rela aku terlalu gembira disini.
Mungkin aku harus menjauh dan tidak jatuh cinta lagi.

"Banyak orang yang ingin menarikku keluar dari kungkungan diriku sendiri dan banyak alasan pula untuk menolak mereka. Aku harus meneruskan hidup dan berharap suatu hari nanti rasa sedihku akan berkurang."