Selasa, 28 Februari 2012

The Beautiful Stranger (Cryptic Part 8)


Cluster perumahan yang ditempati oleh keluarga Hadikusuma adalah perumahan ramah lingkungan dengan desain area yang baik untuk penyerapan air, dengan inovasi teknologi green spine. Dan bukan hanya itu, developer perumahan tersebut bahkan menyediakan ruang terbatas untuk area danau dan hutan buatan. Tidak besar. Hanya beberapa hektar. Namun itu sudah sangat cukup.
            Ketika masih kecil, Fanni dan Finna selalu bermain di tempat ini. Mereka bisa berpura – pura menjadi si tudung merah yang harus mengantarkan makanan untuk nenek mereka di hutan ajaib. Kadang mereka berpura – pura menjadi Hansel dan Grerel, yang harus melepaskan diri dari hutan mengerikan karena perbuatan sang ibu tiri yang kejam. Saat bermain di sana, mereka bisa menganggap hutan itu adalah rumah mereka, dan mereka adalah peri cantik penghuninya yang penuh pesona. Tidak peduli apa yang mereka berdua mainkan, hutan ini tidak pernah membosankan. Hutan ini seperti candu bagi mereka.
            Dan ke sanalah Finna melangkah, untuk mencari Fanni.
            Ia tahu, Fanni sering duduk di tempat ini. Bahkan ketika sakitnya bertambah parah, saat Finna berumur tujuh tahun dan serangan fatal yang nyaris merenggut nyawanya terjadi, saat itu Finna tahu, Fanni sering datang sendiri ke tempat ini untuk menyendiri, menyembunyikan airmata, dan untuk berpikir.
            Berpikir tentang itu, tenggorokan Finna tercekat. Ia bisa membayangkan Fanni kecil duduk di sana. Dengan bahu melengkung turun, dengan rambut dikepang dua, menatap jauh, sendirian.
            Ia tahu, kedua orangtuanya tidak tahu, tidak mengerti perasaan Fanni, karena mereka begitu mengkhawatirkan dirinya.
            Finna memejamkan mata.
            Kenangan pedih itu datang kembali.
            Ia melangkah semakin mendekati tepian sungai.
            Dan akhirnya, Finna melihatnya.
            Di tepian sungai ini, di tempat yang tak pernah gagal mendatangkan kedamaian bagi mereka, Finna bisa melihat siluet Fanni yang terduduk di atas batu.
            Tapi aneh… Finna menyipitkan mata ragu.
            Dia bisa mendengar sekelebat percakapan yang sayup – sayup dibawa oleh angin.
            Finna melangkah mendekat, namun tetap menjaga jarak. Akhirnya, ia bisa melihat Fanni sedang asyik mengobrol dengan seorang pria yang tidak terlihat wajahnya. Pria itu duduk membelakanginya. Dengan posisinya yang kini cukup dekat, namun teteap terlindung, Finna bisa mendengar percakapan mereka berdua dengan lebih mudah.
            “Aku tahu di mana rumahmu.” pria itu mengangguk serius.
            Fanni tampak tercengang.
            Finna tersenyum dalam hati. Ia begitu mengenal saudarinya, sehingga tidak perlu melihat wajah Fanni untuk tahu, kalau gadis itu heran. Isyarat tubuh Fanni yang tergambar di hadapannya sudah cukup.
            Kepalanya yang meneleng ke kiri, tanda Fanni tak percaya. Tawa gugupnya. Deheman halusnya.
            Finna tersentuh. Fanni jarang berbicara dengan seorang pria. Finna yakin itu. ia berani mempertaruhkan semuanya, bahwa kali ini adalah saat pertama untuk Fanni. Karena itu saudarinya tampil begitu canggung. Dan hatinya jadi meluap karena kehangatan dan kasih pada seorang Fanni yang begitu lugu.
            Finna tersenyum sendiri. Dari posisinya sekarang, ia bisa melihat Fanni tertunduk semakin dalam. Finna yakin, pipi Fanni pasti memerah dadu. Seperti kebiasaan gadis itu saat dia malu ataupun marah.
            Fanni telah menggulung celana corduroy yang dikenakannya sebatas lutut sehingga ia bebas merendam kaki dalam sungai kecil yang sejuk. Lalu pria itu berjongkok di sebelah Fanni, menemaninya.
            Mereka terus bercakap – cakap.
            “Sungguh, aku tahu rumahmu.” Pria itu mengangguk lagi. “Rumah yang besar dengan pagar putih dan cat putih juga, kan? Rumahmu itu bagus. Kelihatan nyaman sekali. Aku suka model serta warnanya, begitu serasi, bahkan kusennya pun dicat dengan warna putih. Warna yang mendatangkan kedamaian hati.”
            Fanni tidak menjawab. Finna menduga saudarinya hanya tersenyum manis.
            “Bahkan aku tinggal tak jauh dari tempatmu,” sambung pria itu lagi. “Kita tetangga seberang rumah, lho.”
            “Oh ya?”
            “Betul!” angguknya mengiyakan. “Aku tinggal di rumah keluarga Candrawinata. Itu lho, rumah bertingkat dengan balkon ditumbuhi tanaman merambat. Kamu pasti tahu rumah yang kumaksud, kan?”
            Fanni masih tampak berpikir keras. Namun Finna tidak. Ingatannya langsung terang. Dia tahu rumah itu. Dia tahu keluarga itu. Dia bahkan… tidak menyukai putri tunggal mereka, Rosalina Candrawinata, untuk alasan yang bahkan Finna tidak ingat apa. Setahunya, rasa tidak suka itu datang diam – diam. Kemudian tiba – tiba hatinya mengerti, dia tidak menyukai gadis itu.
            Hm. Finna mengamati pria itu dengan pandangan haru. Siapa dia sebenarnya? Karena Finna tidak pernah ingat Rosa punya kakak lelaki.
            “Aku keponakan Om Doddy,” pria itu menjelaskan seakan menjawab pertanyaan Finna. “Sepupu Rosa, anak mereka.”
            Nah. Baru jelas.
            “Aku lahir dan besar di Malang. Namun sejak lulus kuliah, aku mendapat pekerjaan bagus di  Pacitan. Dan demi menghemat uang kos, Om Doddy dan Tante Nisa mengajakku tinggal di rumah mereka. Lumayan deh.” Finna bisa mendengar gelak tawanya yang renyah. “Selain menghemat uang pondokan, aku juga bisa bantu menjaga rumah.”
            “Betul juga ya,” Fanni tersenyum sopan.
            “Oh ya…” cowok itu bangkit dan menyodorkan tangannya. “Sudah selama ini kita ngobrol, belum sempat berkenalan resmi. Aku bahkan nggak tahu siapa namamu. Argg, ke mana tata karma-ku?”
            Finna tidak bisa menahan senyumnya. Pria itu lucu. Dia sudah menyukai pria itu. bahkan sebelum melihat wajahnya. Maksudnya, suka untuk Fanni, tentu saja.
            “Aku Radhyt.Radhyt Ferliga lengkapnya.” Radhyt mengulurkan tangannya pada Fanni, yang disambut oleh saudarinya itu dengan senyum dan suara pelan.
            “Fanni. Tifanny Hadikusuma, lengkapnya.”
            “Nama yang bagus,” puji Radhyt spontan. “Aku jarang melihatmu di sekitar sini, Fan. Rasanya, baru hari ini ya.”
            “Aku emang baru sampai.” Fanni tertawa kecil. “Baru tadi pagi,” koreksinya lagi.
            “Ah ya.” Radhyt mengangguk. “Aku melihat mobil Porsche yang terparkir di depan rumah. Dan suara ribut – ribut yang membuat aku bangun.” Radhyt terdengar menggoda saat melanjutkan, “Itu kamu? Dan saudara – saudaramu? Sepertinya, kamu kembar, ya? Aku melihat ada gadis lain yang mirip denganmu saat itu.”
            “Yah, itu kami.” Fanni mengangguk pelan.
            Finna mengerutkan kening. Sepercik perasaan dingin merambat masuk. Oh, jangan sampai Radhyt menyebutkan seremeh apa pun, tentang dirinya. Jangan sampai, Tuhan, jangan sampai. Perhatian sekecil apa pun, akan membuat Fanni mundur. Finna sadar betul akan hal itu. Fanni terlalu rapuh, terlalu sensitif. Namun Finna tak bisa menyalahkannya.
            “Kenapa?” tanya Fanni berusaha terdengar tak peduli. Tapi Finna tak bisa dibohongi. “Kenapa kamu menyebut tentang Finna, Dhyt?”
            “Jadi, namanya Finna?”
            Fanni mengangguk. Tatapannya jauh ke pepohonan yang tumbuh rindang sejauh mata memandang.
            “Namanya Finna.” Fanni mengangguk pelan. “Kamu, ehm… kamu tertarik dengannya?”
            “Kenapa bisa begitu?” suara Radhyt menyiratkan keterkejutan murni. “Kenapa bisa sampai fase tertarik, Fan? Kamu jelas lebih menarik darinya. Yang jelas,” Radhyt meneruskan lembut, “saudarimu bukan tipeku.”
            Finna menghela napas lega.
            Untuk kali ini ia sungguh bersyukur, dirinya dianggap bukan tipe seseorang. Oh ya, ia sungguh gembira. Dengan terharu Finna melihat, Fanni mendongak tak percaya. Saudarinya itu menatap terkejut, dan perlahan seulas senyum tulus merekah di bibirnya.
            “Kamu nggak tertarik pada Finna?” bisiknya tak percaya.”Dia bukan tipemu? Aneh. Maksudku, wow, mengingat nyaris semua pria tertarik dengannya.”
            “Kamu mirip dia,” kata Radhyt.
            “Tapi aku nggak ceria. Finna selalu riang. Dia seperti magnet. Sementara aku, yah, jarang ada yang tahan berdekatan denganku. Aku pendiam. Finna, hm, dia bisa cerita semalam suntuk kalau kamu tahan mendengarkan suaranya.”
            Finna menggigit bibir, nyaris tersembur gelak tawanya. Bagus. Belum ada setengah jam mereka berdua berkenalan, Fanni sudah berani menjelek – jelekkan saudari tercintanya.
            Ini pertanda baik.
            “Kamu emang nggak seceria dia.” Radhyt mengangguk setuju. “Dari kamarku, aku bisa mendengar tawa Finna, dan kakak – kakak kalian. Aku nggak mendengar kamu bicara sepatah kata pun. Namun Fan, percayalah, kamu sangat menarik. Kamu misterius, menawan, kamu…” Radhyt terdiam.
            Fanni mendongak.
            “Kamu berbeda dengan mereka.”
            Fanni tersenyum manis.
            Finna merasa matanya berkaca – kaca. Oke, sekarang waktunya dia keluar dari persembunyiannya.
            Kali ini Finna yakin, kemarahan Fanni sudah menguap pergi.
            Dia tidak perlu khawatir lagi.

Senin, 27 Februari 2012

Perselisihan (Cryptic Part 7)


Ting. Ting. Bunyi personal message di handphone Finna berdenting.
            Finna meraih ponselnya dari dalam tas selempang. Hari itu ia mengenakan celana jeans selutut, ditambah kaus putih yang sederhana tetapi nyaman dipakai, juga sneakers. Ini adalah kostum santai pulang ke Pacitan. Ia bisa duduk mengangkat kaki, bersila sepanjang perjalanan nyaris tiga jam Malang – Pacitan, ditemani tumbler kecil berisi earl grey tea, rumput laut—camilan favorit, dan novel terjemahan yang baru dibelinya kemarin, khusus untuk menemani perjalanan pulang pagi ini.
            Seperti biasa, jika mereka sekeluarga pulang ke Pacitan, Finna dan Fanni tidak pernah kebagian pekerjaan menyetir. Mereka hanya duduk manis di jok belakang, ngobrol berdua, atau berdiam diri sambil membaca buku.
            Mas Dana selalu mengambil kendali setir. Biasa ditemani dengan Mbak Lyla, di sebelahnya. Atau kalau Mbak Lyla tidak bisa ikut, seperti saat ini misalnya, maka Mbak Dea selalu duduk di depan.
            Finna mengembalikan konsentrasinya pada deretan huruf di layar handphone.
            Dari Vinno.
            Ma, udah sampai rumah?
            Gawat. Finna mengerutkan kening. Dia lupa menulis message bahwa dirinya sudah sampai Pacitan dengan selamat.  Aduh, tidak heran kalau Vinno jadi khawatir.
            Dengan lincah Finna mengetikkan balasan.
            Sudah, Vin. Sorry lupa ngabarin ya. Udah disodorin makanan enak – enak sama mama, jadi nggak inget kamu deh :)
            Hahaha. No, just kidding, sayang.
            Dan send.
            Finna tersenyum – senyum sendiri. Ia bisa membayangkan, di rumahnya, mungkin di kamarnya, Vinno tersenyum membaca reply itu.
            Dan cowok itu menulis lagi.
            I miss you a lot. Udah kayak nyaris gila rasanya, Ma!
            Kini Finna betul – betul tertawa. Ia tak mampu menahan rasa gelinya. Bahkan, ia sama sekali tak sadar, anggota keluarga yang lain, saling menatap dengan sejuta isyarat.
            Finna hanya menyadari satu fakta bahwa Fanni tidak menunjukkan reaksi apapun. Saudarinya itu tetap menunduk dengan wajah seperti patung. Dan itu membuatnya gundah.
            “Fan,” panggilnya khawatir. “Kamu tidak apa – apa?”
            Fanni mengangkat bahu tak peduli.
            “Ini hanya Vinno dan dia…”
            “Nggak usah kau jelaskan, Fin.” Fanni mencoba tersenyum. “Aku nggak apa – apa kok.”
            Bohong besar. Sedikit – banyak Finna bisa menebak bahwa Fanni bertingkah aneh karena saudarinya itu tambah merasa tersisih. Fanni jelas tampak sangat jengkel. Dan rasanya, ini jadi semakin tidak adil.
            Finna menunduk bimbang, hatinya resah.
            Dana juga melirik Dea dengan gelisah. Adiknya itu bergerak – gerak tidak nyaman di bangkunya, seperti ada sepuluh paku yang mencuat di sana. Dan Mama… ibu mereka langsung terlihat pucat. Dana serasa bisa melihat apa yang dipikirkan oleh beliau. Dan itu membuatnya khawatir.
            Buru – buru Dana menyodorkan gelas airnya, memaksa ibunya untuk minum.
            “Fin.” Dea berdehem. “Itu Vinno?” ucapnya setelah memutuskan bahwa lebih bijak untuk langsung menuju inti persoalan.
            “Yup.” Finna mengangguk, masih tampak kesal.
            “Kenapa kamu marah, Fin?”
            “Tidak apa – apa.” Finna menarik napas, berusaha meredakan kejengkelannya.
            Oke, dia tahu Fanni merasa tidak enak. Fanni sedih karena disisihkan oleh keluarga mereka. Tapi halooo, bisakah Fanni melihat, Finna sudah mencoba segala cara untuk mengatasi segala kekacauan ini. Dirinya sudah berusaha sejuta persen, supaya Fanni bisa membaur. Bukan salahnya, kalau Fanni tetap bisu. Bukan salahnya, kalau keluarga mereka juga tetap diam. Sekarang kenapa seolah – olah Finna yang harus menanggung semua ini?
            Satu lagi, yang lebih penting, Vinno tidak salah apa – apa. Pria itu bahkan tidak hadir di sini. Kenapa Fanni jadi seegois ini?
            “Mama ingin bertemu dengannya.” Suara Maulidyah memecahkan keheningan dan kecanggungan yang meliputi suasana ini. Suaranya agak bergetar. Namun intonasinya mantap. Sekali dengar, Finna tahu, ibunya tidak main – main.
            Finna menunduk resah. Rasa damai itu musnah sudah.
            “Apa?” Finna mendongak, menegang. Ini permintaan mustahil. Tidak mungkin ibunya tega meminta di kala beliau tahu Finna sedang perang dingin dengan Fanni.
            “Mama belum pernah ketemu sama Vinno,” ucap Maulidyah tegang, membuat Finna tambah membelalak. Oh, Mama tidak main – main rupanya. “Mama ingin ketemu dengannya. Ingin sekali, Fin. Hari ini juga. Siang ini kalau bisa. Tolong Finna, teleponlah dia.”
            “Tapi…”
            “Please, Finna…”
            “Finna,” Papa memotong singkat. “Kamu dengar apa kata mamamu. Undang Vinno datang kemari. Sekarang!”
            Dengan pernyataan Papa barusan, palu itu diketuk sudah.  Itu berarti, Vinno memang harus datang. Papa jarang bicara. Biarpun beliau sangat sayang pada anak – anaknya, namun Papa adalah tipe orangtua yang tak mau dibantah.
            “Undang dia, Fin,” lanjut Mbak Dea pelan. “Jangan sampai Mama stres lagi. Kamu lihat kan wajah Mama? Apa kamu tega? Vinno pasti mau datang kemari. Mbak yakin itu.”
            Vinno jelas mau. Tapi Fanni, bagaimana dengan kakak perempuannya itu?
            Sebelum Finna bicara apa – apa, Fanni sudah bangkit dari kursinya. Gadis itu menyentakkan kursi dan berjalan pergi dengan dagu terangkat tinggi. Finna bisa melihat kilatan air mata sekilas di pipi saudari kembarnya. Dan itu membuat hatinya pun sakit.
            “Tapi…” Finna melirik gelisah.
            “Apa lagi yang kamu pikirkan?” desak Mas Dana cepat. “Kalau urusan Fanni, aku yakin dia akan mengerti,” lanjut Mas Dana lagi. “Kamu harus menetapkan prioritasmu, Fin. Itu Mama yang meminta kamu untuk membawa Vinno kemari. Jangan membantah. Kasihan Mama.”
            Mas Dana benar.
            Finna memang harus menetapkan prioritasnya. Keluarganya yang mengharap Vinno datang. Selain itu, seuntai rasa bersalah menyelinap masuk. Vinno begitu sabar menantinya. Vinno tak pernah menuntut. Pria itu tetap setia menunggu, meskipun tanpa kepastian. Tidakkah Vinno layak mendapatkan sesuatu?
            Finna yakin, Vinno pasti ingin main ke Pacitan. Sudah sejak lama pria itu mengisyaratkan hal tersebut. Hanya saja, Finna selalu merasa saatnya belum tepat.
            Jika dipikir – pikir lagi, dirinya memang egois dan tak punya perasaan.
            Kenyataan itu mengetuk sanubarinya. Keraguan Finna lenyap sudah. Ia mengetik cepat.
            I miss you too, Vin!
            Wanna come?
            Finna meletakkan handphone itu dengan wajah panas. Hati dan logikanya menyebut hal yang sama. Ini sesuatu yang benar yang harus ia lakukan. Tapi tetap masih ada secuil rasa yang mengganggu.
            Tapi sudahlah. Entah bagaimana Finna tahu, Fanni akan baik – baik saja. Sekarang ia berusaha santai menanti jawaban Vinno. Biarpun pasti cowok itu mau, bisa dibilang ini loncatan besar. Langkah lebih pasti dalam hubungan mereka yang menggantung.
            Kamu serius? Really?
            Wow. I’ll be there less than 4 hours.
            Hati Finna pun tersentuh.
            Mas Dana benar. Ia harus menetapkan daftar prioritas. Selama ini daftar itu hanya terisi nama Fanni. Namun mungkin semuanya perlu ditimbang ulang.
            “Vinno bisa datang, Fin?”
            Finna mendongak. Ia bisa melihat ibunya menatap penuh harap.
            “Iya, Ma.” Finna mengukir senyum. “Vinno akan datang sebentar lagi. Nanti Mama dan Papa bisa berkenalan sama dia.”
            “Itu bagus.” Papa mengangguk.
            Finna juga bisa melihat kegembiraan di mata tua itu. Dan lagi – lagi ia terharu. Gadis itu tersenyum.
            “Finna pamit dulu ya Ma, Pa. Ini udah selesai makan. Finna mau siap – siap sebentar.”
            Finna bangkit dengan hati berat. Sekarang tugas yang lebih sulit sudah menanti. Dia harus menemukan Fanni.

***

Sepeninggalan Finna, Dana berdehem. “Pa, Ma…” panggilnya gelisah.
            “Ya?”
            “Mungkin Mama dan Papa harus tahu. Maksudku, sebelum Vinno datang, aku harus kasih tahu sesuatu ke Mama.”
            “Tentang apa?” Maulidyah menyipitkan mata curiga. “Pria itu menaruh hati pada Finna, kan?” tanyanya memastikan. “Itu… itu nyata, kan?” tanyanya lagi dengan gemetar. “Itu bukan hanya…”
            “Bukan itu, Ma,” potong Dana cepat. “Kalau tentang itu Mama tidak usah cemas. Kami saksinya. Vinno cerita sendiri pada kami.”
            Maulidyah menghembuskan napas lega.
            “Malah, lebih hebat daripada itu.”
            “Ya?” Maulidyah menatap waspada. Rasa tenangnya hilang lagi. Kini ia jadi tambah curiga.
            “Vinno sudah melamar, Ma.” Kali ini Dea yang menjawab. “Tapi… hmm, Finna menolak.”
            Noriko Hadikusuma menghela napas. Dia sudah tahu berita ini. Kemarin Dana sudah meneleponnya. Namun istrinya, yah, istrinya belum tahu. Maulidyah bersandar di kursinya, menatap kedua anaknya bergantian tanpa berkedip.
            “Lamaran yang kemarin… itu untuk yang keempat kali,” ungkap Dana kepalang tanggung.
            Maulidyah mengerutkan kening. “Kapan yang tiga sebelumnya?” tanyanya bingung. “Kenapa kalian tidak cerita dan…”
            “Maaf, Ma.” Dea pindah ke sebelah sang bunda. Ia menggenggam tangan ibunya erat, penuh kasih. “Kami sengaja tidak bilang, sebelum ada kepastian bahwa Finna mau menerimanya. Sampai sekarang, yah, dia selalu menolak. Jadi memang belum ada apa – apa yang terjadi, Ma.”
            “Tapi kenapa kalian tidak cerita?” tanya Maulidyah setengah menuntut. “Mama harus tahu. Mama adalah ibunya.”
            Kedua anak tertua keluarga Hadikusuma berpandangan gelisah. Dana hanya menghela napas.
            “Sudahlah, Ma.” Noriko Hadikusuma menggeleng, menengahi. “Sudahlah. Yang penting sekarang mereka cerita. Itu poinnya.”
            “Tapi…”
            “Kami tidak ingin membuat Mama kepikiran,” potong Dea lembut. “Maksud Dea, kondisi Mama baru membaik. Dan dengan cerita bahwa Vinno melamar, Mama akan tambah berharap. Kalau Finna setuju, itu berarti happy ending, Ma. Tapi kalau tidak? Bagaimana kalau Finna tetap berkeras menunggu Fanni? Bagaimana kalau Fanni, yah, maksud Dea, kalau Fanni selalu menghalangi dia? Sampai kapan Vinno harus sabar? Kami takut akhirnya Vinno pergi. Dan Mama tetap tinggal dalam harapan semu. Lalu semua sia – sia.” Dea menunduk gelisah. “Maaf, Ma.”
            Maulidyah menghela napas berat. Kebisuan kembali melingkupi keluarga mereka. Betapa cepat kedamaian itu pergi, diganti oleh sesak di hati.

***

“Fan.” Finna membuka pintu kamar dan bergerak masuk dengan cepat.
            Saudarinya tidak bereaksi. Ia menunduk, sambil mencoret – coret sesuatu di pangkuannya. Buku sketsanya. Tidak sulit ditebak, Fanni sedang kesal. Dan ia melampiaskan itu pada coretan tak berarti yang dibuat dengan pensil gambarnya.
            “Fan, kamu marah?”
            “Emang harus?”
            Susah menghadapi orang yang sedang emosi.
            Finna mengeluh dalam hati. Namun ternyata lebih sulit lagi menghadapi orang yang emosi, tapi tidak menunjukkan sedikit pun kemarahan atau kesedihan dalam ekspresinya. Semua terpendam dalam kepalanya. Itu malah lebih mengerikan.
            “Aku minta maaf,” ucap Finna dengan nada rendah. “Tapi cobalah melihat dari sudut pandangku.”
            “Sudah kucoba. Tapi, maaf, aku tetap nggak mengerti,” kata Fanni tanpa menoleh sedikit pun.
            Finna mulai frustasi.
            “Lalu?” tanyanya kasar. “Kamu ingin aku melakukan apa? Menolak Vinno? Menolak permintaan Mama? Menyuruh Vinno batal datang ke Pacitan? Mengingkari rasa hatiku? Apa, Fan, apa? Coba kaujelaskan padaku.”
            “Kamu sendiri yang bilang seperti itu padaku kemarin. Bukan aku yang meminta,” ucap Fanni masih minim emosi. Nada suaranya datar seperti bicara pada orang asing. Dada Finna nyaris meledak hebat. Ia mulai merasa sesak.
            “Tolong jelaskan, apa yang harus kulakukan?” tanya Finna dengan suara bergetar. “Kumohon, jangan menyiksaku seperti ini. Itu nggak adil, kamu tahu itu, Fan.”
            “Adilkah apa yang kualami bertahun – tahun belakangan ini?” balas Fanni. Ia tetap menolak menatap Finna. “Kalau kamu bicara tentang keadilan, tolong jawab pertanyaanku itu. Adilkah apa yang kuterima selama hidup bersamamu? Apakah kau tidak mendapat terlalu banyak, dan aku terlalu sedikit?”
            “Itu bukan salahku!” Finna mundur seperti kena tampar.
            “Jadi?” tanya Fanni mendengus. Nada ejekan terdengar jelas di sana. “Salah siapa itu? Salah burung – burung di langit? Salah Mama yang melahirkanmu dengan jantung yang tidak normal? Salah pacarmu yang hebat luar biasa, sehingga semua orang ingin bertemu dengannya? Atau siapa, Fin?”
            Finna tidak bisa bicara apa – apa. Dadanya sesak. Sesaat, ia tercengang. Dan amarahnya langsung terbit, nyaris tak terkendali. “Jadi karena itu kamu membalas? Dengan cara seperti itu, Fan?” tanyanya tak kalah sinis.
            “Seperti apa?” Dengus Fanni lagi. “Aku tidak membalas apa – apa. Aku bahkan tidak pernah bicara, kamu ingat?”
            “Ya. Dan tidak bicara adalah cara kamu membalasku, kan?” tanya Finna keras. “Dengan cara kamu mengisolasi dirimu. Dengan cara kamu nggak mau bergaul. Kamu menolak untuk kerja di kantor. Kamu nggak pernah mau kenal orang, kamu nggak mau cari pacar. Fan, kamu ingin memenjaraku. Kamu membuat dirimu tak memiliki kehidupan. Atau kalaupun punya, kehidupanku adalah sepi yang takkan pernah kupilih. Kehidupan sepi seperti dirimu sendiri. Ya, kan?” Finna bergetar karena amarah dan kesedihan. “Betapa murah taktikmu itu, Fan.”
            Fanni bangkit dengan sorot mata nyalang.
            Finna nyaris menampar mulutnya sendiri. Ia tahu, ia memang sudah keterlaluan. Sebelum gadis itu sempat berbuat apa – apa untuk memperbaiki keadaan mereka, Fanni sudah menghilang seperti angin.
            Finna menunduk sengsara. Di matanya mulai timbul air mata.
            Bunyi getaran pintu depan yang terbanting tertutup tak mampu membuat Finna bergerak. Ia merasa lumpuh, hanya duduk mematung, dengan mata yang semakin lama semakin basah.

***

Finna terbenam dalam pikirannya. Hatinya semakin lelah.
            Mereka berdua jarang bertengkar. Hampir tidak pernah.
            Finna tidak ingat kapan terakhir kali mereka berselisih paham secara serius. ia menunduk, menghitung jarinya. Dengan muram ia harus mengakui, mereka tak pernah bertengkar. Mereka sering berdebat. Tapi semenit kemudian, sudah baikan lagi.
            Namun sekarang berbeda.
            Hati Finna terasa dingin ketika ia mengingat semua ucapannya barusan pada Fanni. Semua kalimat yang tega dilontarkannya, biarpun hatinya saat itu sedang frustasi. Tapi ucapan itu tak termaafkan. Dan kalau sampai saudarinya itu kenapa – napa, Finna tak akan pernah, tak akan bisa, memaafkan dirinya sendiri.
            Gadis itu bergegas bangkit. Dengan kekuatan baru yang ia miliki, ia meraih sweter putih yang tersedia di lemari kamar. Siang sudah berganti menjadi senja. Sebentar lagi, suhu akan semakin dingin. Finna bermaksud untuk mencari Fanni. Sampai ketemu, tentu saja. Dan ia tidak yakin berapa lama pencarian itu berlangsung. Jadi ia harus bersiap – siap menghadapi segala kemungkinan.
            Vinno belum tiba. Mungkin sebentar lagi ia akan sampai. Tapi tidak apa – apa. Kedua kakaknya sudah mengenal Vinno. Mereka takkan keberatan mengganti posisi Finna sebagai tuan rumah dan memperkenalkan Vinno pada orangtua mereka. Saat ini dirinya punya kewajiban penting yang harus didahulukan.
            Dan lagi, Vinno pasti mengerti.
            Yang terpenting sekarang adalah mencari Fanni. Minta maaf padanya. Dan ia juga harus meyakinkan Fanni, bahwa hubungan antara saudara kembar takkan terputus. Takkan pernah, biarpun dirinya akan memiliki pendamping yang menemaninya di masa tua nanti.
            Finna tidak bisa membiarkan Fanni terluka sendirian. Ia punya beban mental sebagai saudari kembar Fanni.
            Dalam satu hal, Fanni benar. Finna mengatupkan bibirnya rapat – rapat. Ia memang mendapat terlalu banyak, dan Fanni terlalu sedikit. Karena jantung sialan ini, Fanni harus menghadapi kenyataan pahit, suka ataupun tidak. Saudarinya itu harus menerima tanpa bisa memprotes, kasih yang terbelah tak merata, dengan dirinya sebagai korban.
            Setiap detik yang selalu hanya menimbulkan buncahan rasa bersalah yang semakin besar di dalam hati Finna. Nyaris berlari, ia keluar dari kamarnya, melintasi ruang keluarga dan membuka pintu dengan gerakan tergesa, membiarkan pintu tetap terbuka tanpa berpikir untuk menutupnya kembali.
            Rasannya ia tahu ke mana Fanni pergi. Mudah – mudahan tebakanny benar. Nanti setelah ia menemukan Fanni, ia bisa menjelaskan semua pada saudarinya. Ya, semoga Fanni mengerti.

Minggu, 12 Februari 2012

Going Home (Cryptic Part 6)


Dari tempatnya berdiri Finna bisa melihat, sedari tadi Fanni terdiam beku, menatap sebuah bingkai foto. Finna tersenyum lembut.
            Akhirnya, mereka tiba di Pacitan. Kalau sejak baru datang tadi Finna sudah ‘dirusuhi’ oleh ibunya yang langsung mengintrogasi bagaimana kegiatan Finna, seolah sudah setahun ia tidak pulang ke Pacitan, padahal baru tiga minggu, maka berbeda dengan Fanni. Kakak kembarnya itu langsung memisahkan diri, asyik berjalan mengelilingi rumah. Buat Finna, keadaan rumah masa kecilnya itu sama saja. Tidak ada yang menarik. Kalaupun berubah, paling hanya meja belajar yang kini digantikan oleh meja berkaki tinggi tempat Mama meletakkan figura foto dari perak. Perubahan lainnya tidak ada yang signifikan. Namun Finna tahu, Fanni senang melihat rumah masa kecil mereka, mengingat – ingat masa lalu.  Mungkin karena saat itu pernah menjadi masa paling bahagia dalam hidup Fanni, Finna menyimpulkan dengan hati getir.
            “Fanni,” akhirnya ia menyapa dengan suara pelan.
            Fanni tetap terlonjak. Mungkin ia heran karena tiba – tiba saja, adik kembarnya itu sudah berdiri di sebelahnya. Pandangan Finna terpaku pada foto yang sama. Foto diri mereka.
            “Kok ngelihatin foto itu terus? Kamu kangen masa lalu ya?” Finna mencoba tertawa renyah.
            Fanni hanya mengangkat bahu dan balik tersenyum.
            “Tapi masa kecil itu memang masa paling bahagia ya, Fan,” lanjutnya lagi. “Nggak akan ada masa lain yang bisa menggantikannya.”
            “Biarpun saat ini kamu ditaksir oleh bachelor paling keren di Malang?” Fanni menggoda setengah tak percaya. “Kamu memiliki dunia di bawah kakimu, Fin? Dan kamu masih merasa masa kecilmu adalah masa paling bahagia? Sungguh? Ah, yang bener aja.”
            Finna menatap Fanni janggal. Ada yang terasa sakit di hati saat mendengar pertanyaan Fanni yang dilontarkan dengan gamblang. Perlahan ia menggeleng.
            “Percayalah Fan, aku tidak memiliki dunia di bawah kakiku,” gumamnya nyaris tak terdengar.
            “Apa?”
            “Tidak.” Finna menggeleng, mencoba mengukir senyum. “Tidak apa – apa.”
            Fanni menatap sangsi.
            Namun Finna tetap diam, mengunci bibirnya rapat.
            “Finna…” Terdengar suara seorang wanita memanggilnya.
            Mereka berdua berbalik.
            Maulidyah Hadikusuma, ibu mereka, wanita cantik di pertengahan usia 50 tahun, berjalan menghampiri dengan senyum di bibir dan matanya. Senyum pada wajah tulus membuat rona wajahnya semakin bersinar. Maulidyah terlihat cantik, biarpun dengan gaun rumah sederhana.
            “Ternyata kamu di sini. Mama bingung, kok tahu – tahu kamu menghilang. Nggak ke taman belakang?” tanya Maulidyah lembut. Dia bahagia sekali seluruh anaknya berkumpul kembali di tempat ini. Seperti masa lalu. Normal, bahagia, dan hidup rasanya lancar – lancar saja. Tidak pernah ada musibah dan air mata. Tidak ada yang lebih membahagiakan daripada dikelilingi oleh suami dan anak – anak terkasihnya.
            Ya, saat kebersamaan ini tak ada duanya bagi Maulidyah. Dan itu membuat hatinya terasa lapang.
            “Oh ya?” Finna menjawab dengan antusias. “Kita makan di taman belakang ya, Ma?”
            “Papa sudah menyiapkan meja dibantu sama Mas Dana. Dan Mama sudah membuat sandwich mini, kesenanganmu sejak kecil dulu.” Maulidyah tersenyum sayang.
            Finna melirik Fanni prihatin. Saudarinya tertunduk diam. Sama sekali tidak punya inisiatif untuk mengikuti pembicaraan mereka. Finna mengeluh dalam hati. Sejak dulu, selalu seperti ini. Lama – lama ia lelah juga.
            Maulidyah tidak menyadari kegelisahan yang melanda hati putrinya. Ia meneruskan dengan berseri – seri.
            “Mama sudah membuat sandwich mini isi telur, sayuran tomat dan selada. Ada juga yang isi keju. Juga tuna dan kornet. Beef. Ada saus mustar kesukaanmu, juga saus barbeque-nya. Lengkap, Fin. Apa lagi ya…” oceh Maulidyah penuh semangat.
            Mau tidak mau Finna tersenyum gembira. Dia sangat menyukai sandwich mini sejak… sejak entah kapan. Rasanya ketika mulai bisa mengunyah, bahkan ketika dia baru bisa mengingat, Finna sudah menyukai makanan itu.
            Itu makanan surga. Dan rasanya luar biasa. Tidak hanya dia… Finna menoleh. Di sampingnya Fanni masih membisu.
            “Itu kesukaan Fanni juga, Ma.” Finna tersenyum, member isyarat Fanni untuk terjun, bicara juga. Tapi saudarinya malah menunduk semakin dalam. “Dia senang sekali bisa menikmati semua masakan itu. Ya kan, Fan?”
            Fanni tidak menjawab. Dia tetap membisu. Parahnya lagi Finna bisa melihat bahwa senyum Mama memudar sebelum akhirnya lenyap dan suasana jadi canggung.
            “Eh.”
            “Mam…”
            Finna menoleh penuh syukur. Abangnya melangkah masuk, mencairkan suasana yang sempat tegang di antara mereka.
            “Kok nggak ngumpul di belakang aja, Ma?” Dana merangkul ibunya penuh sayang. “Udah ditungguin semua orang lho, Mam.”
            “Ini, baru mau jalan ke belakang.” Maulidyah tersenyum, lupa pada peristiwa barusan. “Yuk, Fin,” ia membimbing lengan putri bungsunya dengan lembut, “selain sandwich, Mama belum bilang kan, Mama juga sudah membuat es buah dengan banyak sekali es batu dan kismis. Pasti segar, apalagi di siang yang panas seperti sekarang.”
            Pacitan termasuk kota berhawa sejuk. Tapi saat ini, matahari bersinar terik. Dan dengan cuaca seperti ini, Finna menelan ludah, tidak ada yang lebih sedap daripada es buah seperti yang digambarkan Mama barusan.
            Memang tidak ada tempat yang lebih indah daripada rumah. Dan tidak ada kasih yang lebih berharga daripada kasih seorang ibu.

***

Finna berdecak kagum. Matanya menatap berkeliling. Sekali sapuan, dan semua pemandangan ini terekam dalam pikirannya.
            Entah berapa lama Mama dan pembantu rumah tangga mereka menyiapkan semua makanan itu. Hidangan yang tersedia di meja makan yang pada kesempatan kali ini sengaja dikeluarkan ke halaman belakang, tidak bisa disebut sekedar makan siang. Hidangan pesta, lebih tepat disebut begitu.
            Mereka semua melangkah menuju halaman yang sudah disulap menjadi area piknik. Meja makan dari kayu telah dilapisi taplak kotak – kotak merah dan putih yang biasa dipakai untuk keperluan piknik di luar. Begitu seringnya Finna melihat taplak tersebut, sehingga pemandangan itu bahkan sudah bisa membuat hatinya terasa hangat.
            Meja persegi panjang itu diletakkan di pinggir taman yang teduh, dinaungi pohon – pohon besar dengan ranting yang menjuntai, memayungi semua orang dari matahari yang bersinar menyilaukan. Bangku kayu yang biasa terletak di teras belakang, sudah ditata di pinggir – pinggir meja. Di pojok, dekat tempat Mama duduk, ada sepoci besar es teh yang mengembun karena dinginnya es batu yang mulai mencair. Di sisi lain, mangkuk besar berisi es buah seperti yang Mama janjikan, sudah disiapkan di sana.
            Finna tersenyum melihat semua orang telah duduk di tempat mereka masing – masing. Gadis menarik bangku di sebelah tempat Fanni. Itu kursi yang selalu mereka tempati ketika mereka masih kanak – kanak. Rasanya melegakan, kembali pada rutinitas yang pernah dikenalnya dulu.
            Finna menengadahkan tangannya dan menunduk. Semua melakukan hal yang sama. Itu salah satu kebiasaan lama kembali, yang selalu diterapkan saat mereka sekeluarga berkumpul untuk makan bareng. Semua anak keluarga Hadikusuma hijrah ke Malang, makan bersama menjadi sesuatu yang mewah dan langka.
            Papa yang memimpin doa.
            Noriko Surya Hadikusuma adalah tipe lelaki keras yang tak banyak bicara. Beliau lebih sering menunjukkan kasih dan perhatian lewat perbuatan, bukan kata – kata. Terhadap semua anaknya, ia bertindak sama. Cenderung diam, kaku, tapi kasihnya oh, tak perlu diragukan lagi.
            Seperti sekarang. Dengan terenyuh Finna bisa melihat, mata Papa berbinar ketika melihat istri dan anaknya duduk mengelilingi meja.
            Damai dan tentram melingkupi mereka siang ini. Dan tiba – tiba, itu terasa cukup untuk Finna.

Jumat, 10 Februari 2012

LOLest day ever in 7G :D


anak - anak gila semua!! XD
gilaa, gilaaaaa! gila pokoknya gilaaa!
lama - lama gue sendiri yang jadi gila -_-

Selasa, 07 Februari 2012

Kompak

waktu hari senin kemaren kelas gue dapet wejangan dari Bu Nur, guru agamanya SMPN 1. makjleb sekali pemirsa. mari kita saksikan:
 
" anak - anak 7G itu pinternya udah ada, cantik - cantik sama ganteng - ganteng pula. tapi ada satu yang kurang. kekompakan."

Bu Nur aja sampe ngomong kaya gitu rek. sampe kapan kita mau egois terus?

Mercury, tolong



hi there,
tadi kelas gue ada bahasa jawa di jam 7-8. tugasnya ngebaca geguritan atau puisi jawa dan memahami isinya. ngebaca doang sih gue bisa (yaiyalah, anak smp mana yang nggak bisa baca, prim), tapi kalo isinya? sial. salah ngejelasin isinya pake bahasa jawa lagi. -_- salah satu alasan ketakutan gue selain ga bisa jelasin isinya, gue juga takut kalo nanti pas jelasin isinya malah pake bahasa jawa ngoko dan bikin gue ditabok sama bu (li)lin - (li)lin (k)ecil. nggak mungkin ditabok juga sih, jaman sekarang mana ada guru nabok muridnya -_- yaa pokoknya gue ga mau kalo ntar malah dikurangin nilainya ato dipermalukan di depan kelas. tidaaaak u,u

kenapa gue malah curhat -_-

setelah penjelasan bla bla bla, kelas gue dipecah dibagi jadi dua. kloter pertama itu anak - anak yang nomor absen 1 sampe 12. setelah itu gue raih kemenangan karena absen gue 16 dan penontonnya makin dikit (maklumlah makhluk - makhluk anak - anak di kelas gue cuman 23 anak) setengah jam kemudian berlalu dan gantian kloter dua yang masuk kelas buat baca geguritan. tidaaaak *garuk tembok*

absen 13--Mira Novi M. selesai. absen 14-- Nadya Pramesti A.R. selesai. NADYA GAYANE UVAPIK OON REK *gak sante. absen 15--Pilar Syahadah Abada Kadabra selesai juga. ngertio rek waktu gilirane Pilar arek - arek sing onok ndek kelas ngguyu kekel - kekel kabeh wuoy XD ah sudahlah. abis itu giliran gue soalnyaaaa u,u

Kamis, 02 Februari 2012

Restart Hati


Muak! Lebih dari seratus kali kata itu kuucapkan pada Lody selama dua tahun ini. Aku yakin jumlah itu tidak salah, meski aku tidak pernah menghitungnya setiap kali mengucapkannya.
            Lody. Cowok tinggi dengan mata teduh itu, berhasil merampok hatiku, setelah sekian lama kami bersahabat. Aku menyesal telah menembaknya lebih dulu. Sungguh! Itu kata hatiku sebelah kiri, karena kata hati sebelah kananku sangat menyayanginya lebih dari semua makhluk di dunia ini.
            Saat SD kelas enam, aku sudah menyukainya. Karena itu, aku juga memilih SMP yang sama dengannya. Kami sangat dekat seperti sendok dan garpu. Dimana ada aku, di situ ada Lody dan di tengah – tengah ada setan, karena kami selalu berdebat. Debat kecil. Karena kalau besar, pasti di antara kami sudah ada yang mati karena bunuh – bunuhan.
            Mungkin karena sama – sama jomblo, sama – sama sayang, sama – sama mau, tepatnya aku yang mau duluan. Ketika kelas dua SMP aku menembaknya tanpa embel – embel kata mutiara atau puisi cinta. Langsung! “Aku sayang kamu. Aku pengen kita pacaran.” Gila! Dia yang merampok hatiku, tapi aku yang menembaknya. Oke, kuanggap kami satu sama. Impas!
            Aku sudah lama menyukainya, kupendam selama dua tahun. Tapi, syukurlah perasaanku tidak sepihak. Seperti kataku tadi, mungkin karena sama – sama jomblo, dia terpaksa menerima aku jadi pacarnya. Lalu kami berjanji jika putus, persahabatan tetap dilanjutkan.
            Sebenarnya Lody pernah ditembak lima cewek sebelum aku. Kuakui cewek – cewek itu memang tidak rabun matanya. Lody-ku memang pantas dicintai. Tapi, Lody yang malang itu selalu minta pendapat sahabatnya, yaitu aku. Kukatakan mereka tidak cocok untuknya, dia akan menderita jika pacaran dengan cewek tersebut. Cewek itu tidak baik, tidak tulus, hanya ingin memiliki, munafik. Setelah itu aku raih kemenangan karena Lody mempercayaiku.
            Di ujung penantiannya yang ingin punya pacar, aku katakan cinta padanya. Saat itu dia menertawakanku. Aku terbodoh di depannya. Kupikir dia menolakku. Aku hampir saja berlari, beli tali di warung untuk menggantung leherku. Tapi kemudian dia mengakhiri tawanya, terdiam beberapa detik, lalu mengakui bahwa dia juga menyayangiku lebih dari sekedar sahabat. Waaa… aku melambung tinggi, seperti terbang ke surga, mengucapkan terima kasih kepada Allah karena doaku dikabulkan.

***

            Sejak pacaran, aku dan Lody selalu bertengkar. Padahal, dulu sama sekali tidak pernah. Pertengkaran mulut karena bercanda, itu sering. Tapi tidak sampai putus komunikasi seperti sekarang. Bagaimana mungkin, saat menjadi sahabatnya, sehari tidak menengoknya saja rasanya aku mau mati. Minimal menggodanya lewat telepon. Ada saja ideku untuk mengerjainya. Kuperhatikan dia juga demikian terhadapku.
            Empat puluh hari pacaran, kami putus. Dia yang memutuskanku, karena aku memarahinya di depan teman – temannya. Aku merajuk karena dia lebih memillih pergi bersama teman segengnya daripada denganku. Aku berharap dia mengejarku, membujukku, tapi nyatanya dia malah memutuskanku. Tega!
            Selama seminggu aku berhasil tidak menemuinya apalagi menghubunginya. Aku selalu menghindar. Hatiku sangat sakit dibuatnya. Dia menemuiku setelah seminggu berlalu, mengatakan rindunya terhadapku. Dia minta maaf padaku. Dan aku, tentu saja memaafkannya. Seandainya dia tahu, aku juga sangat menderita selama seminggu itu. Kami kembali pacaran. Dan itu tak berlangsung lama.
            Lagi – lagi Lody memutuskanku. Padahal aku sudah berusaha untuk menjadi pacar seperti yang dia inginkan, yang sempurna menurutnya. Aku mengikuti semua kata – katanya. Katanya aku harus berpakaian feminism, seperti perempuan umumnya. Biasanya aku memang selalu mengenakan jeans dan kaos oblong. Aku jadi sering mengenakan rok. Dia juga menyuruhku untuk tidak terlalu dekat dengan cowok selain dia. Aku bahagia karena itu artinya dia benar – benar sudah menyayangiku, karena dia cemburu. Dia memintaku untuk melaporkan kegiatanku, setiap hari. Setiap menit aku mengirim SMS dan mengangkat telepon darinya. Aku juga sudah belajar memanggilnya “sayang”. Panggilan norak itu setulus hati kuucapkan.
            “Apa alasanmu memutuskanku?” tanyaku, ingin tahu.
            “Aku merasa lebih nyaman ketika kita bersahabat.” Jawaban yang tidak memuaskan, itulah yang tidak kusuka darinya.
            “Baik. Terserah kau saja. Meski sebagai sahabat ataupun pacar, aku tetap menyayangimu. Sungguh.” Terdengar mellow, tapi kalimat ini berasal dari hati terdalamku. Aku menatap pada bola matanya. Aku tidak dapat menebak apa yang sedang dipikirkannya.
            Dan itu hanya bertahan dua minggu. Lody kembali datang, meminta maaf, mengajak kembali. Dan seperti yang lalu, aku kembali luluh. Kami pacaran lagi. Putus lagi. Nyambung lagi. Putus lagi. Selalu berulang. Dan semua dia yang memulainya.

***

            “Aku baru putus sama Lody. Kali ini aku yang memintanya. Sulit rasanya untuk kembali menjadi pacarnya.” Aku curhat pada Nia, sahabatku yang juga sahabat Lody.
            “Apa lagi penyebabnya?” Nia yang bijak, tidak ingin memihak pada siapa pun. Mataku berkaca – kaca, menjelaskan semuanya.
            “Aku nggak angkat telepon darinya saat dia menghubungiku kemarin siang. Kemudian aku SMS, aku lagi sibuk di sekolah. Dia langsung menghubungiku dengan pertanyaan yang bertubi – tubi. Sibuk apa, dari jam berapa sampai jam berapa, sama siapa, jam berapa pulang. Aku berusaha sabar, kujawab semua pertanyaannya.” Kuusap cepat airmata yang kini jatuh di pipi. “Dia minta aku menghubunginya kalau sudah sampai di rumah, karena nggak bisa jemput. Sampai di rumah sudah larut, aku langsung tidur, kecapekan. Tiba – tiba dia mendatangiku besok paginya, marah – marah padaku, menyebutku cewek penipu karena tidak menepati janji untuk menghubunginya. Aku langsung memotong ucapannya. Aku tidak suka dia sebut begitu.” Aku menjeda. “Lalu kubilang, putus. Aku muak, Ni,” lanjutku dengan suara pelan.
            Nia menatapku lama. Dari tadi matanya tidak beranjak dariku, menghayati kata demi kata penjelasanku. Dia sangat tahu bagaimana aku menyayangi Lody.
            “Harusnya hubungan yang berawal dari persahabatan dapat bertahan lama. Apalagi kalian yang sudah sahabatan selama bertahun – tahun. Kalian sama – sama tahu kekurangan masing – masing.”
            “Tapi aku baru tahu, kalo Lody sangat protektif.” Aku memotong. Kupikir Nia sudah cukup tahu. Aku sering mengatakan itu padanya.
            “Aku tahu. Maksudku cobalah introspeksi, belajar dari pengalaman yang sudah. Aku juga sudah katakan ini pada Lody,” kata Nia bersungguh – sungguh.
            Aku menghela napas berat. Selama ini aku selalu mengalah pada Lody. Tiga kali dia memutuskanku dengan alasan yang sama. Katanya aku terlalu manja, suka merajuk. Bukankah wajar, sebagai perempuan aku ingin dimanja? Awalnya, aku berusaha menerima alasannya. Juga berapa kali kami putus karena sifat Lody yang protektif. Mungkin karena aku pacar pertamanya, kami sama – sama tidak punya pengalaman pacaran, pikirku. Tapi, kali ini aku capek, selalu mengalah dengan semua aturannya.
            “Pertengkaran kalian bukan karena kemuakan atau rasa jenuh, tapi karena saling menyayangi yang berlebihan. Seminggu putus, nanti pasti balikan lagi.” Nia tersenyum padaku. “Cobalah untuk restart hati kalian.” Kembali dia mengingatkan.
            Restart hati, mendaur ulang kembali hati masing – masing, melupakan kesalahan yang lewat untuk memulai hubungan kembali dengan sempurna. Nia selalu menggunakan istilah tersebut karena hubungan kami yang sering putus nyambung.

***

            “Aku mau kita putus untuk selamanya. Lebih enak seperti dulu. Persahabatan lebih menyenangkan daripada pacaran,” ungkapku ketika Lody datang ke rumah. Tekadku sudah bulat. Kali ini aku bersungguh – sungguh.
            “Kau yakin?”
            “Aku benar – benar ingin putus,” jawabku menunjukkan ketegasan. “Sudah cukup sampai di sini hubungan kita. Aku capek.”
            “Kau hanya ingin me-restart hatimu, kan? Kau bercanda padaku. Aku juga sedang me-restart hati. Rencananya, malam ini aku akan menemuimu untuk minta maaf dan kita melupakan semua yang terjadi. Kita memulai lagi yang baru.” Lody tersenyum.
            “Aku serius, Lod.” Mataku menatap bola matanya. “Kita sama – sama egois, nggak ada yang mau berubah. Selalu mengulang yang sama. Seperti kata Nia, kau dan aku nggak mengerti arti restart hati yang sebenarnya. Jadi buat apa buang – buang waktu.”
            Mata teduhnya beralih dariku, menghindari tatapanku. Lalu menatapku lagi.
            “Apa kau menyukai orang lain selain aku?” tanyanya, menyelidik.
            Aku diam, memilih alasan yang tepat untuk menjawabnya. Aku sangat paham bagaimana sifat Lody yang keras dan selalu ingin mau tahu.
            “Iya.” Kataku setelah terdiam beberapa lama. Aku menatapnya. Dia serba salah. Aku tahu dia tidak senang dengan jawabanku barusan.
            “Siapa? Apa aku mengenalnya?”
            Sudah kuduga! Dia pasti menanyakan hal itu.
            “Nggak. Kamu nggak mengenalnya.”
            Dia mengerutkan dahi melihatku.
            “Serius. Kami baru kenal sebulan dan aku langsung suka padanya.” Aku menjeda. Cukup, aku mengarang bebas. Aku tidak ingin semakin banyak bicara, dia akan tahu bahwa aku menipunya.
            “Baiklah, kalau itu keputusanmu, semoga pilihanmu tepat. Oke sahabatku, titip salam sama pacar barumu itu, ya!” Lody berkata santai, sambil mencubit hidungku sebelum pergi.
            Aku melongo melihat perubahan sikapnya barusan. Cepat sekali dia mengikhlaskanku.

***

            Dua minggu kemudian, aku bertemu Lody dengan cewek cantik, jauh lebih cantik dariku. Aku seperti kebakaran jenggot, mendatangi mereka, marah – marah pada Lody. Jujur saja, aku cemburu! Apalagi cewek itu lebih cantik dariku dan Lody merahasiakan hubungan mereka dariku. God, ini nggak adil!
            “Dia pacarku. Kenapa kau sewot baru mengetahuinya? Kau cemburu?” ucap Lody atas sikapku.
            Aku salah tingkah.
            “Gila! Aku marah karena kau nggak cerita padaku. Aku ini sahabatmu. Bukankah persahabatan kita baik – baik saja dua minggu ini?” Aku berdalih, meredakan emosi karena cemburu dan mencoba bersikap biasa saja.
            Matanya menyipit padaku.
            “Memangnya kau pernah cerita padaku tentang hubunganmu dengan pacar barumu itu?”
            Aku terbungkam.

***

            Nama pacarnya Aya, Lody mengenalnya lewat mak comblang, yaitu adiknya sendiri. Aya adalah teman dekat adik Lody, Lala, musuh terbesarku. Lala sangat membenciku apalagi saat aku jadi pacar Lody. Dia sangat menentangnya.
            Seluruh dunia pasti tidak percaya kalau aku dekat sama Aya, rivalku yang jauh cantiknya dariku itu. Sejak pertemuan itu, untuk menghindari pendapat Lody yang mengira aku cemburu dan untuk menutupi kebohonganku, aku jadi dekat dengannya. Jujur, aku masih sangat sayang pada Lody.
            Aku cemburu saat Lody sangat mesra dengan Aya di depanku. Aku ingin menjerit, meluapkan tangisku. Tapi di depan mereka aku berhasil tertawa, menutupi perasaan yang sebenarnya. Rasanya sangat sakit. Lody telah mengganti Aya di hatinya, secepat itu melupakan aku. Malah sering, Aya curhat padaku tentang masalah kecil dalam hubungan mereka. Aku dengan hati malaikat, memberi solusi terbaik untuk hubungan mereka. Dari Aya aku tahu, Lody suka cerita tentang kebaikanku padanya. Rasa cintaku lebih besar terhadap Lody daripada Aya. Karena itu aku ingin Lody bahagia. Bersama Aya, aku melihat Lody benar – benar tulus menyayanginya.

***

            Ternyata dugaanku salah. Lody meleponku pagi – pagi sekali. Aku yang baru terbangun, dengan malas mengangkatnya.
            “Ada apa, Lod?”
            “Aku ingin kau kembali jadi pacarku,” katanya dengan suara penuh keyakinan.
            Aku terkejut mendengar kata – katanya. Lody memintaku kembali jadi pacarnya? “Lalu, Aya?”
            “Tidak ada cewek yang lebih baik darimu, Nan.” Suara Lody terdengar serius.
            Sayang, dia mengatakannya lewat telepon, tidak bertemu langsung. Padahal, aku ingin sekali melihat ekspresi wajahnya.
            “Aku masih sayang sama kamu. Aya hanya pelampiasan. Aku hanya mencari suasana baru dengan memacarinya.”
            Aku tercengang dengan penjelasannya.
            “Tapi aku nggak mau mengulanginya lagi, Lod.”
            “Restart hati.”
            “Percuma.”
            “Tapi aku sudah tahu arti restart hati yang sesungguhnya. Sejak pacaran sama Aya, aku belajar dari pengalaman. Aku yakin kau juga pasti bisa.”
            “Kau tahu, Lod. Aku selalu menggunakan istilah restart hati saat kita pacaran. Aku membersihkan kesalahanku saat kita putus. Ketika kembali pacaran, aku berusaha menjadi lebih baik dari sebelumnya. Aku menyayangimu, Lod. Tapi aku tidak bisa kembali jadi pacarmu.”
            “Kenapa, Nan?”
            “Maaf. Aku telah me-restart hatiku untuk tidak pacaran denganmu lagi, Lod.”
            Aku menekan tombol off pada handphone-ku, tidak ingin mendengar kalimat apa pun dari Lody. Seperti juga, aku telah menekan tombol turn off pada hatiku.