Senin, 30 Januari 2012

Tugu Tani

Ayah
terima kasih telah mengajakku ke Monas
aku belum pernah lihat Monas
senang sekali hatiku diajak ayah melihat Monas

Pagi itu aku digendong ibu
kita jalan bersama ayah, nenek, dan bibi
pagi yang indah, cuaca pun cerah
kita berjalan bersama menuju Monas

Kita semua bahagia
jarang sekali kita bisa jalan - jalan seperti ini
ayah selalu sibuk mencari nafkah
aku sudah lama rindu ayah

Ayah
tiba - tiba kita melihat mobil hitam itu
melayang dari depan
menggelinding menimpa kakak - kakak itu
lalu menimpa kita semua
aku pun terpental
terlepas dari pelukan ibu

Ayah
maafkan aku mendahuluimu
aku masih sangat ingin bersamamu
ingin bermain - m`in denganmu
ingin berlama - lama dalam pelukanmu

tapi Allah lebih menyayangiku
Allah menginginkanku pulang

Ayah
terima kasih sudah berusaha keras menyelamatkanku
terima kasih sudah mencoba memberiku minum
terima kasih sudah memelukku dan menciumku
aku sayang ayah sampai kapan pun

TUGU TANI

Rabu, 25 Januari 2012

Kebimbangan (Cryptic Part 5)


“Bagaimana?” Dea menatap Dana ingin tahu. “Apa katanya, Mas Dana? Vinno bener – bener melamarnya?”
            Dana mengangguk.
            “Lalu?”
            Dana menggeleng, tidak sanggup berkata – kata saking betenya.
            “Oh.” Dea mengangguk mengerti.
            “Kamu tahu kan jawabannya?”
            “Ya.” Dea mencoba tersenyum. “Gagal lagi ya, Mas?”
            “Tidak. Tidak. Tidak. Dan tidak.” Dana menggeram jengkel. “Lagi – lagi dia bilang tidak.” Dana mengatupkan mulutnya rapat, menatap adiknya dengan putus asa. “Dan kita berdua tahu, apa sebabnya. Ya kan, De?”
            Alifiani Aradea, anak kedua keluarga Hadikusuma, mengangkat bahu dan mencoba tersenyum, biarpun sulit. Ya, mereka berdua tahu kenapa. Semua itu membuat mereka tambah sedih, tak berdaya.
            “Fanni dan lagi – lagi Fanni!” Dana berseru, menjambak rambutnya sendiri dengan gemas. “Aku sungguh benci pada…”
            “Mas.” Dea menggeleng halus. “Itu bukan salahnya.”
            “Pada kenyataan ini!” Dana menyelesaikan kalimatnya. Ia membuang napas dan terduduk di tempat tidur, menatap adiknya lelah. “Kita harus bagaimana, De?” tanyanya getir.
            Dea yang sedari tadi selonjorang sambil membaca, leyeh – leyeh di atas tempat tidur, menaruh novel di atas meja nakas. Ia duduk bersila dan perlahan menggeleng. “Aku juga nggak tahu.”
            Mereka berdua duduk dalam hening di kamar Dea yang nyaman, yang didominasi warna ungu lembut. Dana menatap berkeliling. Kamar tidur adiknya ini tertata apik dengan tempat tidur single menempel ke dinding. Lampu tidur menyorotkan warna kuning lembut, terletak di atas meja nakas. Kertas dinding bertitik putih dan berpita kecil berwarna ungu muda. Meja rias di sudut ruangan, diapit lemari buku dan lemari pakaian.
            Kamar Dana juga terisi perabot yang kurang lebih sama. Hanya saja warna yang mendominasi adalah cokelat tanah.
            Tapi kamar Finna…
            Dana menghela napas lagi.
            Tatanan kamar Finna pun nyaman. Lemari pakaian berwarna putih dengan lemari buku. Meja rias berwarna sama, dengan model country, dililit kalung – kalung imitasi aneka warna. Foto keluarga mereka dalam pigura kerang laut, terletak di atas nakas. Pot tanaman kecil yang dililit kampu warna – warni di balkon.
            Tidak ada yang salah dengan kamar Finna. Hanya saja di kamar adik mereka itu diletakkan sebuah tempat tidur besar. Dan itu yang membuat hati Dana gundah tak kepalang.
            “Kita nggak bisa berbuat apa – apa.” Dea tersenyum. “Biarkan saja begitu, Mas Dana. Paling nggak untuk sementara waktu.”
            “Gimana dengan Papa dan Mama?” Dana menatap bimbang. “Apa mereka perlu diberitahu, De? Maksudku, itu percuma, dan…”
            “Harus!” Dea mengangguk mantap. “Kali ini harus, Mas.”
            Dana menatap ragu.
            Dea mengangguk lagi. “Dulu kita selalu diam. Kita nggak mau mereka khawatir. Kita baru mau cerita sama Papa dan Mama ketika berita gembira itu datang. Maksudku, kalau Finna akhirnya menerima pinangan tersebut. Gimana, kalo itu nggak pernah terjadi?”
            “Yah…”
            “Sudah saatnya mereka tahu, Mas Dana.” Dea meyakinkan abangnya. “Mama dan Papa berhak tahu. Minggu ini kita akan pulang ke Pacitan. Itu saat yang tepat untuk bercerita pada Mama dan Papa. Mungkin Papa bisa lebih efektif menasihati Finna. Atau mungkin… Dokter Arifin?” Dea menatap abangnya lekat. “Kalau mereka bisa membuat janji temu dengan Dokter Arifin, dan beliau diberitahu duduk masalahnya terlebih dahulu, Vinno melamar, Finna bilang tidak, itu akan lebih baik kan, Mas Dana? Siapa tahu dengan nasihat dari Dokter Arifin, yah, mengingat Finna masih menghormati beliau, ceritanya bisa beda.”
            Dana mengangguk. Dalam hati ia tambah bersyukur punya adik seperti Dea.
            Dea adalah salah satu orang paling mantap yang pernah ia tahu, dengan logika yang terasah baik, tidak mengandalkan emosi semata seperti kebanyakan gadis yang dikenalnya. Termasuk di dalamnya Lyla, tunangannya sendiri. Dan Finna juga tentunya. Kalau mereka berdua, yah, apa mau dikata, Dana tahu betul, kedua gadis terdekatnya itu kebanyakan bertindak pakai hati. Yang hobinya nonton film romantis. Yang hidup di dunia khayal Cinderella. Kalau baca novel, yang penuh haru biru dan air mata serta cinta yang oh, nggak nyata gitu lho. Nggak banget pokoknya kalau buat Dana.
            Tapi, yah, itulah perempuan.
            Itu sedikit berbeda dengan Dea yang hobinya baca novel karya John Grisham. Adiknya yang satu ini betul – bentul mewarisi tipe kepemimpinan ayah mereka.
            “Telepon Papa aja, Mas,” ucap Dea lagi. Ia meraih bukunya dan membuka di halaman yang telah ditandai bookmark. “Untuk informasi awal, Mas mungkin boleh cerita ke Papa. Tapi jangan Mama. Kasihan Mama. Baru aja tenang bentar. Dan kita berdua tahu bukan, betapa Mama mengharapkan Vinno jadi mantunya. Nanti Mama kepikiran lagi. Kalau lagi – lagi Mama sampai depresi, dan harus minum obat seperti dulu itu…” Dea tidak meneruskan ucapannya. Hanya tatapannya jadi sendu, memikirkan ibunda mereka tercinta.
            Dana mengangguk. Ia tahu persis apa yang Dea maksudkan.
            “Tidak.” Dana menggeleng menenangkan. “Aku nggak akan nelpon Mama. Aku telepon Papa aja. Besok, di kantor. Supaya Mama nggak denger pembicaraan kami. Maksudku, Mama memang harus tahu. Tapi, nanti aja, waktu kita balik ke Pacitan, baru kita cerita sama Mama. Itu kan ramai – ramai, semua anaknya ngumpul, Mama pasti lebih punya kekuatan moral.”
            “Setuju.” Dea menguap. Ia mulai mengantuk.
            “Tidur deh, De.” Dana bangkit dari duduknya, berjalan menuju pintu. Ia berbalik, menatap Dea penuh kasih.
            Tumbuh dengan gelombang dahsyat menerpa keluarga mereka, sulit untuk tetap kuat jika hanya berdiri sendiri. Dana memang harus kuat. Tidak ada pilihan lain. Ia adalah anak tertua, pria pula, dalam keluarga mereka. Berdua dengan ayah mereka, ia harus berhasil menjaga keluarga Hadikusuma tetap bertahan, selamat sampai pada akhirnya. Dana pun harus mengakui, itu sangat tidak mudah. Dan butuh kekuatan ekstra untuk bertahan agar tidak stres. Karena itu Dana bersyukur, ia diberikan adik setabah dan setegar Dea. Gadis itu betul – betul seperti malaikat penjaga keluarga Hadikusuma.
            “Udah malam, lho. Jangan membaca lagi. Kasihan matamu, ya.”
            “Oke.” Dea mengangguk setuju. Tidak jadi membaca, gadis itu meletakkan bukunya kembali ke atas nakas.  “Good night, Mas Dana.”
            “Good Night.”
            Dana mematikan lampu besar yang menyala. Segera saja ruangan menjadi redup, dengan penerangan lampu tidur kecil.
            Ia berbalik dan berjalan masuk ke kamarnya sendiri.
            Melewati kamar Finna, dan Fanni tentu saja, Dana mengatupkan bibir geram, tapi berhasil menghalau pikirannya, sehingga ia tidak usah berpikir macam – macam. Ia sempat melihat ruangan sudah gelap. Lampu besar sudah mati. Berarti Finna juga sudah tidur. Baguslah kalau begitu.
            Dana memastikan pintu depan apartemen sudah terkunci dan rantai pengaman sudah terpasang. Ia juga melihat, inspeksi secara kilat, memastikan kompor tidak ada yang menyala dan keran air sudah tertutup rapat.
            Setelah semua selesai diperiksa, Dana masuk ke kamarnya sendiri, yang terletak di sebelah kamar Dea. Ia meraih ponsel. Kali ini, giliran Lyla. Ia ingin menyudahi hari dengan pembicaraan romantis bersama tunangannya.

Selasa, 24 Januari 2012

True Companion (Cryptic Part 4)


Finna terdiam, terpesona menatap bintang.
            Seperti dulu lagi, ketika ia masih kecil, taburan bintang yang bersinar kemilau di langit selembut beludru hitam pekat, tidak pernah pudar pesonanya. Mereka tak pernah gagal menarik perhatiannya. Tiap kali gadis kecil itu bimbang, sedih, takut, atau sakit, Finna selalu berdoa di musholla kecil di halaman belakang rumah keluarga Hadikusuma. Ia mengambil waktu untuk sharing dengan-Nya, menghitung bintang satu demi satu, mulai dari yang paling terang, atau sekedar duduk diam, menatap dengan hati damai.
            Seperti… malam ini.
            Finna menarik napas berat. Saat ini ia memang tidak sedang berada di musholla rumah mereka yang kecil, namun apik. Ia duduk di balkon apartemen di lantai 21. Tempatnya tidak begitu nyaman. Angin bertiup, terasa dingin di kulit Finna. Namun tidak apa – apa. Ia telah mengenakan piama krem muda lengan panjang, bergambar kucing - kucing lucu. Dengan penampilan seperti ini, tidak akan ada yang menyangka kalau Finna sudah berumur dua puluh dua tahun.
            Gadis itu duduk bersandar di dinding. Kepalanya mendongak. Matanya memandang ke atas. Dan pikirannya berkelana jauh.
            Untuk keempat kali, Vinno melamarnya.
            Bukan melamar, mungkin, lebih tepat disebut meminta kesediaannya untuk berkomitmen terhadap cinta mereka.
            Ketika mereka berdua tiba di pelataran apartemen, Finna tak pernah menyangka Vinno akan nekat mengulangi pinangannya. Vinno bersikap seakan – akan pembicaraan dalam mobil tak pernah ada. Tidak tanggung – tanggung, ternyata pria itu sudah membawa cincin.
            Finna sadar, Vinno memang sedang berjuang. Pria itu akan melakukan segala cara untuk merebut kemenangannya.
            Finna hanya bisa diam, gundah. Dalam keremangan malam, hanya diterangi bias sinar rembulan, ia bisa melihat cincin itu dengan jelas.
            Cincin emas putih dengan sebutir berlian berkilau. Finna tidak punya bayangan, di mana benda itu ditaruh sebelumnya. Tahu – tahu seperti disulap, cincin itu sudah melingkar di jari manis tangan kirinya.       
            Bodohnya, Finna hanya bisa terpana.
            Biarpun dengan hati hancur, biarpun sudah disogok pakai cincin, tetap saja, Finna sedih sekali karena lagi – lagi ia harus menggeleng.
            Kali ini gadis itu tidak usah mengucapkan apa – apa, tidak perlu lagi menjelaskan panjang lebar. Vinno juga tidak meminta.
            Mereka berdua sama – sama sudah tahu alasannya.
            Jadi Vinno hanya menyimpan cincin itu kembali ke sakunya, memeluknya erat, berbisik selamat malam, dan mengucapkan salam. Setelah memastikan Finna masuk ke lobi apartemen dengan selamat, Vinno menjalankan mobilnya pergi.
            Tapi hati Finna jadi tidak tenang. Rasanya ada yang salah. Dengan hati yang berat, Finna berjalan lunglai memasuki unit apartemennya.
            Ia tahu, ia merasakan kekecewaan dan ketidakberdayaan yang juga dirasakan oleh Vinno sesaat lalu.

***

“Fin…”
            Finna menoleh.
            Fanni berdiri di pintu balkon dengan pakaian tidur standarnya. Celana pendek, kaus putih kumal dengan gambar penguin, rambutnya yang panjang, hitam alami berkibar tertiup angin. Cantik, ringkih, sekaligus angkuh.
            Finna tersenyum.
            Fanni balas tersenyum.
            Finna bisa melihat, kali ini, mata kakaknya bersorot penuh keraguan.
            “Belum tidur?” Finna tersenyum lembut. Ia menepuk lantai di sebelah tempatnya duduk, isyarat tanpa kata untuk mengundang Fanni duduk di sampingnya.
            “Belum.” Fanni mengikuti undangan tersebut.
            Gadis itu duduk, tepat di sebelah Finna. Kakinya ditekuk rapat. Lengannya memeluk lutut, dan dagu disandarkan ke sana.
            “Belum mengantuk,” ucapnya sederhana.
            Mereka berdua sama – sama diam, sibuk dengan pikiran masing – masing.
            Finna melirik Fanni. Saudarinya itu tampak damai. Mata Fanni menatap jauh ke depan, ke arah pelataran parkir apartemen yang sunyi, dengan mobil – mobil yang terparkir bisu. Angin malam berembus, menerpa rambut mereka. Finna menyisipkan sehelai yang berjuntai menutupi mata ke balik telinganya.

***

Malam yang indah.
            Dunia yang sempurna.
            Suasana yang entah bagaimana, malah membuat warna hati Finna menjadi tambah suram. Tak sadar ia mendesah pelan.
            “Fin, kamu menyesal?” tanya Fanni gundah.
            Finna berpaling. Ya, Fanni tahu, Vinno melamarnya. Dia bahkan sudah bisa menebak hanya dengan menatap wajah Finna yang seperti zombie, melangkah masuk ke kamar mereka. Tanpa bertanya, Fanni sudah tahu. Tapi Finna menceritakannya juga. Sekedar kewajiban atau tidak, ia menceritakan detail lamaran di dalam mobil tadi kepada Fanni. Kakaknya duduk tenang, bersila di atas tempat tidur besar mereka, mendengarkan tanpa menyela.
            “Kamu menyesal,” ulang Fanni.
            “Tidak,” bantah Finna keras.
            “Ya, kamu menyesal,” tukas Fanni dingin.
            “Aku…” Finna terdiam, dadanya sesak.
            Menyesalkah dia? Selalu ada skala prioritas untuk semua hal. Selama ini ia selalu menempatkan Fanni di atas semuanya. Tapi malam ini Finna jadi berpikir, tidak dapatkah semua prioritas tersebut diatur ulang? Tidak mungkinkah ia meletakkan Vinno, kepentingannya sendiri, dan diri Fanni, pada daftar yang sama? Maksudnya, tidak mungkinkah mereka berada di urutan yang setara?
            “Kamu bohong,” ujar Fanni sambil tersenyum simpul.
            “Mungkin kamu benar.” Finna tertawa gugup dan mengangguk. “Itu wajar, kan? Tapi aku tahu, Fan, memang harus begini jalannya. Aku tidak akan meninggalkanmu. Kamu tak usah khawatir. Aku takkan menikah sebelum kamu menemukan teman hidupmu, jalan pilihanmu. Setelah itu semua terjadi, baru aku bisa menentukan langkahku sendiri.”
            Hati Finna menjerit protes mendengar suaranya sendiri yang berbicara dengan tenang.
            Semua ini salah! Salah total! Tapi entah bagaimana, ia berhasil tetap tersenyum, menggenggam tangan Fanni lembut, meyakinkan saudarinya, meyakinkan dirinya sendiri, semua itu sungguh yang ia rasakan dalam hati.
            “Kamu keras kepala.” Fanni tersenyum. Finna ikut tersenyum. Ia tahu, Fanni terharu mendengar alasannya barusan. “Sebenarnya…”
            “Ya?” Finna menoleh penuh harap.
            Fanni mencoba tersenyum. “Tidak. Tidak apa – apa.”
            Belum sempat Finna bertanya, terdengar bunyi pintu kamar berderit membuka.
            Tanpa mengatakan apa – apa, Fanni bergegas bangkit dari duduknya. Finna bisa melihat kakaknya berjalan cepat, masuk melalui pintu kaca yang membatasi kamar tidur dan balkon, naik ke ranjang besar dan bergelung diam di sana.
            Finna tetap duduk diam di tempatnya. Ia tahu, kalau bukan Mas Dana, pasti Mbak Dea yang masuk.
            “Fin?”
            Itu suara Mas Dana.
            “Ya, Mas. Aku di sini.”
            Tidak sampai beberapa detik kemudian, Mas Dana sudah muncul.
            “Belum tidur?” tanyanya prihatin.
            Finna menggeleng malas. Pertanyaan yang itu – itu saja. Kesannya kalau ia sampai tidur telat, atau mungkin lebih parah, tidak tidur sama sekali, maka besok dirinya pasti pecah berantakan.
            “Kok termenung sendirian di balkon, Fin?”
            “Nggak.” Finna menggeleng, menguap bosan. “Barusan aku ngobrol sama Fanni, Mas. Tapi sekarang dia sudah tidur.”
            “Oh.”
            Gadis itu melirik Mas Dana. Abangnya tampak tertekan, seperti sedang dilanda banyak masalah.
            “Kenapa sih, Mas?” tanyanya lebih lembut. “Ribut sama Mbak Lyla?”
            “Kalau sama Mbak Lyla sih ribut sebentar juga besok udah baikan,” sahut Mas Dana dengan nada mengambang seakan konsentrasinya terpecah.
            “Jadi… kenapa?” Finna memandang abangnya lebih cermat. “Mas khawatir sama aku, ya?” tebaknya jitu.
            “Mm, nggak sih.”
            Mas Dana jelas bukan pemain sandiwara ulung.
            “Mas…” Finna meninggikan suaranya dengan penuh ancaman.
            “Aku dengar tadi, mm… Vinno melamarmu? Bahkan dia sudah menyiapkan cincin untuk meminangmu. Benar begitu, Fin?”
            Finna mengeluarkan keluhan keras yang sengaja tak ditahannya. Vinno melamar, dan semenit kemudian, seisi dunia sudah tahu. Untung saja Mas Dana dan Mbak Dea tidak terlalu suka mengadu. Maksudnya, mereka tidak pernah cerita tentang pinangan itu pada Papa dan Mama. Entah apa alasannya, Finna juga tidak pernah tahu. Yang Papa dan Mama tahu hanyalah, Finna dekat dengan satu cowok luar biasa bernama Alvinno Hernandito. Sejauh apa hubungan itu berjalan, mereka juga tidak tahu. Dan tidak pernah mendapat penjelasan selain gumaman yang tidak bisa ditebak apa maknanya.
            Finna kagum dan bersyukur juga kedua kakaknya bisa tutup mulut. Karena jujur saja, dia malas kalau Papa dan Mama ikut campur, menyuruh – nyuruhnya menikah. Pasti dia akan menolak permintaan mereka. Tapi Finna yakin dirinya tak punya pilihan untuk menolak. Jika menolak, bisa – bisa dia jadi anak yang, “nggak nurut sama orangtua”.
            Finna mendengus lagi.
            “Kamu menolaknya, kan?” kejar Mas Dana pantang mundur.
            “Dari mana Mas tahu?” Finna menatap setengah menantang. Hatinya tambah panas.
            Terus terang Finna tidak percaya Vinno bisa mudah bercerita seperti itu. Tidak mungkin cowok itu membuka mulut dan membocorkan kejadian barusan. Ia kenal Vinno. Terlebih, Finna mengenal hati pria itu.
            “Aku dengar tadi kamu bicara dengan Fanni,” Mas Dana menjawab ragu. “Kamu cerita bahwa kamu menolak pinangan Vinno.”
            “Hmph.”
            Berarti ini semua gara – gara dirinya sendiri. Salahkan si mulut besar yang tidak bisa menjaga volume suara.
            “Kenapa sih, Fin?” Mas Dana bertanya dengan nada suara seperti memohon. “Kenapa enggak kamu terima lamaran itu? Umurmu udah dua puluh dua. Vinno dua puluh lima. Dia udah dewasa, Fin. Dia udah dua tahun nunggu kamu. Kamu tahu, Fin, tidak semua cowok dikaruniai kesabaran dan kekerasan hati seperti dia. Kamu benar – benar beruntung.”
            Finna mendesah. Ia tahu. Mas Dana tidak perlu bilang apapun, ia sudah tahu! Tapi tidakkah mereka tahu, Finna juga tidak punya pilihan. Gadis itu membuang muka, menatap ke kegelapan malam.
            “Fin…”
            Finna menguap keras. Di hadapannya, Mas Dana memandang jengkel.
            “Maaf,” ucap gadis itu cuek. “Aku ngantuk, Mas.”
            “Besok kita lanjutkan.” Mas Dana bangkit dari duduknya. Kakaknya tampak agak jengkel, yang mana buat Finna, tidak masalah sama sekali. “Besok aku mau ngomong panjang lebar sama kamu. Denger itu, Alfinna Hadikusuma? Besok kamu harus menyediakan waktu untuk kita bicara. Kamu harus bisa memberi alasan kuat, kenapa lagi – lagi kamu harus bilang tidak.”
            Finna menatap tanpa fokus.
            Pandangannya hampa.

Minggu, 22 Januari 2012

Happy 1000 visitors :)

Membuka Hati (Cryptic Part 3)


Akhirnya, Vinno dan Finna makan di De Sister, seperti yang tadi pagi dibayangkan dengan asyik oleh Finna.
            Tapi, tidak jadi makan siang. Vinno punya tugas penting pada siang hari. Dia harus mendampingi salah satu partner senior untuk lunch meeting dengan klien di daerah Soekarno—Hatta. Dan sebagai manajer, tidak mungkin dia bisa menolak tugas itu.
            Jadi, Vinno berinisiatif untuk menukar batalnya makan siang tadi dengan sesuatu yang lebih romantis.
            Dinner.
            Dan setelah makan malam yang enak, Vinno mengusulkan untuk lanjut dengan nonton bioskop di salah satu mall terkenal yang ada di Kota Malang, yang terletak tidak begitu jauh dari De Sister. Tiket bisa mereka pesan via internet. Jadi, semua sudah terencana dengan sempurna.
            Finna sempat tercabik antara keinginan yang sengit antara pergi atau tidak.
            Dia ingin sekali pergi, makan malam dengan Vinno, dan nonton film. Kalau bisa sih nonton Inception. Vinno juga sudah setuju. Apalagi sejak film itu mulai dipublikasikan, banyak sekali komentar positif atas film tersebut. Jadi Finna betul – betul tergoda pergi.
            Namun di sisi lain, yah, maksudnya, bagaimana dengan Fanni? Finna tidak tega saja kalau Fanni hanya melamun saja di rumah, sementara dia enak – enakan dinner dan nonton film. Rasanya tidak pada tempatnya ia melakukan semua kesenangan itu.
            Tetapi Vinno berhasil membujuknya untuk menelepon ke apartemen dulu, siapa tahu Fanni tidak apa – apa kalau saudarinya pulang telat.
            Dan Finna melaksanakan saran itu. Hasil yang didapat, bahkan lebih hebat daripada yang ia perkirakan. Menurut Mas Dana yang menerima teleponnya, Fanni pergi untuk melukis. Saudari kembarnya tidak ada di rumah. Dan Finna hanya bisa berharap, mungkin, biarpun dalam hati bete dan kesal, ternyata Fanni mendengarkan saran Finna tadi pagi untuk pergi keluar, mencari pergaulan.
            Jadi, di sinilah mereka berada.
            Duduk berdua, di barisan paling belakang, di bioskop yang gelap dengan layar yang menampilkan potongan adegan film seru.
            Tangan mereka saling bertaut. Finna tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Persetan dengan segala alasan yang ia buat, apakah mereka berdua hanya berteman atau pacaran. Faktanya adalah, ia bahagia duduk berdua bersama Vinno.
            Ia bahagia.
            Sangat bahagia.
            Dalam gelap, Finna termenung.
            Kedekatannya dengan Vinno nyaris tiga tahun. Ia tetap belum bisa mengenyahkan sakit perut nikmat yang muncul setiap mereka berdua duduk berdampingan. Tidak perlu kepandaian seorang pakar cinta untuk tahu, kenapa rasa itu selalu muncul. Lagi dan lagi.
            Finna selalu salah tingkah jika duduk berdua dengan Vinno.
            Sekali – sekali, jika mereka berdua lembur sampai malam di kantor, atau mungkin di tempat klien, dan Vinno tidak mengizinkannya menyetir pulang sendiri ke rumah, maka pria itu akan mengantarkannya sampai ke pelataran parkir apartemennya.
            Vinno tak memedulikan sanggahan lemah gadis itu, bahwa mereka hanya berteman. Finna juga tahu, dirinya tidak bisa menganggap Vinno sekadar teman biasa. Itu kebohongan paling besar yang pernah ia lakukan, dan paling konyol pula.
            Bukan seperti itu perlakuan seorang teman.
            Hatinya tahu. Namun akal sehatnya menolak keras.
            Namun tampaknya itu tak jadi soal untuk Vinno, karena pria itu teteap melakukan apa yang ingin ia lakukan. Vinno adalah tipe yang tak kenal kata menyerah. Ia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan.
            “Bagaimana, Ma? Suka filmnya?”
            “Banget.” Finna tersenyum dan bangkit ketika tangannya ditarik oleh Vinno, untuk bangun dari kursi bioskop yang nyaman. “Bagus banget, Vin. Cuma terakhirnya masih bingung.”
            “Itu film hebat.” Jelas Vinno serius. “Siapa pun yang menggarap ceritanya, betul – betul jenius ya. Bisa terpikir berbagai macam ide seperti itu. Bisa memikirkan setiap aspek, supaya penonton punya interpretasi yang beda. Nggak mudah pastinya membuat skenario seperti itu, Ma.”
            Finna mengangguk setuju. Ia memang kagum pada script writer yang menciptakan film tersebut.
            Mereka berjalan keluar dari gedung bioskop beriringan.

***

Finna merapatkan jaketnya semakin erat di tubuh. Malam ini cukup dingin. Hujan turun rintik – rintik.
            “Thanks ya, Vin,” ucapnya lembut.
            Vinno tersenyum. Ia meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya ketika mereka berjalan menuju parkiran di luar area bioskop.
            “Ehm.” Finna berdehem gelisah, melirik ke tangan kanannya yang digenggam mesra. “Hm, Vin, eh, kita…”
            “Tidak pacaran.” Vinno tersenyum cuek. Genggamannya bahkan lebih erat lagi daripada tadi. “Bosan, Ma. Ngomong itu kok diulang – ulang. Udah kayak radio rusak aja bunyinya.”
            Sialan.
            “Tenang aja,” ucap Vinno santai. “Biarpun tidak ada komitmen, Ma, kurasa semua orang juga udah menganggap kita pacaran.”
            “Betul.” Finna mengangguk bersemangat. “Dan itu rasanya aneh kan, Vin. Kalau aja kamu tahu berapa banyak anak kantor yang patah hati karena menyangka kamu udah nggak available lagi.”
            “Good,” jawab Vinno sambil mengangguk.
            Finna melirik dan sengaja menambahkan. “Kemaren Mega nanya ke aku, gimana hubungan kita sebenernya. Terus Sarah, Nadya, Nia…”
            “Semoga kamu bilang, kita sudah tiga tahun ini pacaran. Dan tambah hari, tambah mesra saja.”
            Finna melirik gemas. “Terus Amanda, Tasya…”
            “Kamu lagi absen nama karyawan perempuan di divisi kita ya, Ma?”
            “Biar kamu tau aja, kamu tuh banyak yang naksir. Dan…”
            “Apa?”
            “Aku…” Finna menunduk gelisah. Ia memantapkan hati sebelum akhirnya meneruskan untuk blak – blakan. “Dan aku, yah, hanya ingin menyelamatkanmu dari perasaan menyesal aja…”
            “Aku?” Vinno menaikkan alis, “Menyesal?” tanyanya tak percaya. “Kenapa kamu bisa mikir gitu?”
            “Maksudku, karena kamu menyia – nyiakan waktumu. Karena kamu menunggu sesuatu yang tak pasti. Karena kamu…”
            “Permata.” Vinno berhenti di tengah pelataran basement. Hujan masih turun rintik – rintik. Sedikit demi sedikit, jaket Finna mulai basah. Begitu pun kemeja yang dikenakan oleh Vinno.
            “Ya?” balas Finna pelan.
            “Aku tidak pernah menyia – nyiakan hidupku. Aku justru sedang menanti kebahagiaanku. Dan aku tahu pasti, Ma, penantian itu tidak sia – sia. Sesuatu yang berharga pantas diperjuangkan, pantas ditunggu.”
            “Tapi…”
            “Dan kamu jelas berharga.” Vinno mengangguk serius. “Tak diragukan lagi, kamu pantas diperjuangkan, kamu pantas ditunggu!”
            Finna menunduk jengah mendengar keteguhan Vinno.
            “Kenapa kamu begitu keras kepala?”
            Finna menunduk gelisah.
            “Kenapa kamu nggak mau bilang, Ma? Aku tau, kamu cinta sama aku. Aku yakin, kamu pun sadar itu. Jadi kenapa? Kenapa kamu menyiksa kita seperti ini?”
            Finna mendongak dan tercekat.
            Ya Allah, ia bisa melihat cinta di sorot mata Vinno. Cinta yang sama, yang berbalut dengan kesabaran dan pengertian. Cinta yang tidak akan menyerah. Cinta yang penuh perjuangan dan tekad.
            Cinta yang akan tetap ada, biarpun mungkin bahkan mereka berdua sudah tidak bersama.
            “Kamu udah tahu alasannya,” Finna bergumam gundah. “Aku…”
            “Sakit jantung, or whatever. Dan kamu juga tahu kan, Ma, untuk alasanmu yang satu itu, basi. Udah pasti aku tolak,” ucap Vinno tegas.
            “Dan aku…”
            “Ma, kamu harus punya keyakinan. Doktermu bilang, kamu sudah bisa hidup normal. Kamu boleh menikah. Kamu mampu punya anak dari rahimmu sendiri. Oke, kamu mungkin harus bedah Caesar bila melahirkan karena kamu tidak boleh melahirkan secara normal. So what? Aku tidak peduli. Bahkan jika kita tidak bisa memiliki anak pun, aku terima dengan lapang dada. Yang penting aku bisa memiliki dirimu. Hanya itu, Ema! Apakah permintaanku terlalu sulit untuk kamu penuhi?”
            “Tapi dia juga mengingatkan, aku rentan terserang penyakit yang sama kembali, lagi dan lagi,” ucap Finna mulai ngotot. “Kalau sudah begitu, bagaimana? Aku nggak boleh egois, Vinno. Aku…”
            “Omong kosong.” Gelengnya tak peduli
            Finna menatap gemas. Tapi lagi – lagi, Vinno hanya mengangkat bahu tak peduli.
            Finna menghela napas berat. “Dan… dan bukan itu saja, Vin.”
            Vinno menarik tangan gadis itu, mengajaknya kembali berjalan. Hujan yang turun rintik, kini tercurah semakin besar.
            Mobil CRV hitam milik Vinno sudah terlihat di depan mata. Sudah tidak banyak mobil lain yang terparkir di tempat itu. Pertunjukkan yang mereka tonton memang tergolong pertunjukkan yang paling larut.
            “Apa lagi, Ma?” tanyanya sabar.
            “Aku nggak tega ninggalin Fanni,” Finna berbisik perlahan.
            Vinno terdiam. Kalau sudah menyebut Fanni, tidak ada lagi yang bisa mereka ucapkan. Semua diskusi dan solusi akan kembali terhadang tembok tinggi dan nyaris tak bisa dirobohkan.
            Tapi Finna bisa merasakan genggaman pria itu tak terlepas. Vinno tetap memegangnya teguh. Seakan itu adalah janji yang diucapkannya tanpa kata. Dan itu membuat Finna terharu.
            “Kamu mengerti, kan?”
            Vinno tidak menjawab. Finna juga tidak memaksa Vinno untuk mengiyakannya.
            Dengan tangan satunya yang bebas, Vinno merogoh saku celana dan mengambil kunci mobil. Ia menekan tombol alarm dan membukakan pintu untuk gadisnya itu. Masih dalam hening, mereka berdua masuk ke mobil.
            Finna diam, berpikir – pikir sejenak. Akhirnya ia memutuskan, ia harus mengatakannya.
            “Kamu tahu masa kecil kami,” ucapnya halus. “Fanni selalu disisihkan. Tidak ada yang  memperhatikan dirinya. Kamu tahu, semua yang kuucapkan ini benar adanya. Kamu pernah bertemu dengannya…”
            Vinno menginjak pedal gas, dan mobil meluncur mulus keluar dari area parkir.
            “Aku nggak bakal tega meninggalkannya, berpacaran dengan kamu, bersenang – senang menata hidupku. Aku nggak seegois itu, Vinno. Tidak kepada saudari kembarku sendiri.”
            Hembusan napas keras, tak sabar, terdengar di telinga Finna. Tapi gadis itu tetap melanjutkan dengan nekat.
            “Paling tidak, sampai Fanni bertemu dengan pria yang baik.”
            “Dan kapan saat itu tiba?” tanyanya datar, tanpa nada.
            “Aku…” Finna menunduk gundah. “Aku tak tahu.” Akunya sederhana.
            “Artinya, kalau sampai lima puluh tahun ke depan Fanni belum memiliki pacar, kamu pun akan tetap sendiri, meyia – nyiakan hidupmu. Begitu, kan?” ucap Vinno, tak bisa menahan kesinisan suaranya.
            Finna menatap terluka.
            “Maafkan aku.” Vinno menggeleng lelah. “Maafkan aku, Ma. Aku hanya…” Cowok itu menggertakkan gigi. “Maafkan aku,” ulangnya lagi.
            Finna menunduk sedih. “Maka itu…” bisiknya ragu, nyaris tak terdengar, “jangan pernah menungguku. Aku… aku sudah melarang.”
            Vinno menatap Finna. Sejurus kemudian, ia menepikan mobil yang masih melaju ke pinggir jalan yang sepi.
            Vinno menarik Finna semakin dekat, membenamkan wajah gadis itu di dadanya yang bidang. Dasi Vinno telah dilepas. Kini ia hanya mengenakan kemeja putih bersih bergaris abu – abu tipis yang kedua lengannya tergulung sebatas siku.
            Finna menyandarkan kepalanya di dada Vinno.
            Aroma parfum rempah dan aroma tubuhnya yang khas dan sudah dikenali Finna dengan baik memenuhi indra gadis itu. Rasanya nyaman berada di pelukan Vinno.
            Gadis itu menarik napas panjang.
            Di sini, di dalam hati, Finna merasa damai.
            “Aku cinta sama kamu, Ma. Kamu dengar itu?”
            Vinno memeluknya semakin erat. Gadis itu mengangguk tanpa suara.
            “Alfinna Permata Hadikusuma, aku cinta sama kamu. Dan aku akan tetap menunggumu sampai kau siap. Tak peduli sakit jantung atau tidak, Fanni atau siapa pun yang membuatmu bimbang, aku akan tetap menunggumu.”
            Mata Finna mulai berkaca – kaca. Dengan segenap hati ia memanjatkan doa, supaya Allah mengabulkan permintaan terbesarnya.
            Supaya Fanni menemukan jalannya. Supaya gadis itu menemukan cintanya, tempat hatinya bisa berlabuh tenang, seumur hidupnya.