Sabtu, 29 Desember 2012

From Naruto chapter 548

Gaara: "Tidak luka, tetapi sangat sakit sekali di sini." (menunjuk letak hatinya)
Yashamaru: "Ketika tubuhmu terluka, darah mengalir keluar dari luka itu, dan itu yang membuatnya terlihat sakit. Tetapi setelah beberapa lama, rasa sakitnya akan hilang. Dan jika kau gunakan obat, maka akan sembuh lebih cepat. Tetapi masalahnya, itu luka di hatimu..."
Gaara: "Luka di hatiku?"
Yashamaru: "Luka pada tubuhmu dan luka di hatimu adalah dua hal yang berbeda. Tak seperti luka di tubuhmu, tak ada obat yang bisa menyembuhkan luka di hatimu, dan lukanya bisa tinggal sepanjang hidupmu dan tak bisa sembuh."
Gaara: "..." (menatap dengan ekspresi terluka)
Yashamaru: "Hanya ada satu hal yang bisa menyembuhkan hati yang terluka. Tetapi obat itu sangat sulit didapatkan. Karena kau hanya akan mendapatkannya dari orang lain."
Gaara: "Apa itu?"
Yashamaru: "Kasih sayang."

Minggu, 23 September 2012

Terkunci

“Kenapa hal buruk ini terjadi padaku… huhuhu.”
Keyza cemberut dan gusar sambil tetap berusaha membuka pintu WC yang terkunci. Sekitar 10 menit yang lalu Keyza masih menghirup udara bebas dan segar di luar sana. Tapi saat ini, Keyza terkurung dan terkunci di WC yang pengap dengan pintu yang macet.


Kamis, 23 Agustus 2012

Mama versi salahgaul

Di tengah malam, abis keluar dari kamar mandi...

Mama: *mata masih kayak ketimpa batu yang berat sekali* *tiba-tiba membelalak karena ada sesosok bayangan hitam besar di depannya* "WAAAAAAAAAAAA!!!" --> ini teriak kaget.

Setelah diperhatikan baik-baik, ternyata bayangan hitam tersebut adalah Ayah... -.-

Ayah: "Opo seh, Ma..." --> dengan nada datar khas orang ngantuk.

Mama: *pake suara tinggi kayak orang marah* "Ayah ini lho bikin kaget aja, kalo dateng itu mbok ya pakek suara, jangan moro-moro dateng gitu aja! Mama kan kagetan!"

Ayah: "Masa di rumah sendiri aja takut." *masih dengan nada datar kemudian masuk ke dalam kamar mandi*

Malam berikutnya...

Mama: *nyanyi-nyanyi dangdut dengan mata menahan kantuk sambil membuka pintu kamar mandi* *di depan pintu Ayah sudah berdiri*

Ayah: *dengan suara berat yang menakutkan -.-* "MAAAA"

Mama: *terlonjak kaget* "WUAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!" --> dengan suara lebih keras dari sebelumnya.

Inti dari cerita ini adalah: pada dasarnya Mama memang kagetan -.-

Minggu, 12 Agustus 2012

Point of No Return

"Kita balik ke Gorontalo, ya? Rima mau kan SMA di sana?"

Waktu ditanyain gitu, aku cuma diem. Ga tau mau jawab apa. Bener-bener blank.

Tapi aku mikir juga sih. Dulu waktu masih di Gorontalo, waktu udah nyaman sekali dan nggak mau pindah dari sana, aku dibawa pindah ke Malang. Keadaan yang sama menghampiri lagi sekarang, waktu aku udah nyaman sekali dan nggak mau pindah dari Malang, aku akan dibawa pindah lagi ke Gorontalo.

Kenapa kita enggak?

Tadi aku ke Togamas mau beli buku /ya iyalah!\. Waktu pergi ke sana bareng Mama sama sepupuku, kita naik angkot JDM. Di angkot itu orangnya ada sekitar 5 orang sama supirnya. Salah satunya bule, kulitnya putih, muka-muka orang Arab, terus jenggotnya tebel -_- sisanya orang Indonesia.

Sampai di perempatan lampu merah Plaza Dieng, kan pasti (maaf) pengemisnya banyak. Banyak yang anak-anak sih. Terus ada salah satu anak nyamperin angkot yang aku naikin, bermaksud meminta sumbangan seikhlasnya dari penumpang angkot yang aku naikin. Mirisnya, nggak ada satupun penumpang ato supir angkot yang berniat mau nyisihin uangnya buat dikasihin ke anak itu. Ngelirikpun enggak. Mama juga. Aku juga. Soalnya aku ga bawa duit -_-

Selasa, 07 Agustus 2012

Every Single Person on the Planet Has a Story

A 24 years old boy seeing out from the train’s window and shouted,

“Dad, look the trees are going behind!”

Senin, 06 Agustus 2012

An Untold Story


“Satu-satunya pekerjaan terakhirku di dunia adalah membahagiakan orang-orang yang patut dibahagiakan.”
            “Oh ya? Apa maksudnya itu?”

Sabtu, 04 Agustus 2012

Nexia Nevarachell Onny Amirsyah


Post ini dibuat berdasarkan permintaan seorang bebek yang meminta dirinya dituliskan di blog saya berdasarkan sudut pandang saya (?)

Nexia Nevarachell O.A. yang biasanya dipanggil bebek atau Rachell ini adalah salah seorang pelajar di SMP Negeri 1 Malang kelas 8B. Dulu dia dari 7B. Si bebek ini lahir tanggal 18 Februari 1999 ngga tahu di kota mana. Dia berasal dari MIN 1 Malang (bener ga sih tulisannya? --v). Berarti deket sama SD-ku /promosi. Dia berteman dekat dengan Naura, Laila, dankawankawan (?)

Anak ini terkenal di kalangan siswa SMPN1. Dia juga punya banyak temen, mulai (mungkin) adik kelas, seangkatan, ato kakak kelas. Ga kaya aku. Dia terkenal karena suaranya yang kelewat keras dan kehebohannya -.-v Dia ikut ekskul DG—ekskul kece kebanggaan spensa itu lho—dan (seharusnya) green clean. Tapi sayang sekali sekarang green clean sedang vakum.

Anak ini nggak cantik lho sebenernya, tapi manis. Kata orang, cewek yang cantik itu lama-lama kalo dilihat bikin bosen, tapi kalo manis engga :3 Ini serius. Lihat deh foto ini:

Oh salah, sepertinya itu foto jaman labilnya dia. ckck.
Ini yang bener:
manis kan :3

Aku pertama kenal dia dari twitter. Waktu aku nge-follow dia, usernamenya @AchelBebekSatu :b Anak ini sering ke MTsN 1 deket SDnya karena ingin bertemu teman-temannya dan orang yang dia sukai /uhuk. Terus waktu akhir tahun 2011 aku kan mbikin tulisan di noteku di fesbuk, katanya dia baca, terus dia nyaranin aku bikin blog. Dan aku nurut. Sebenere sebelum itu aku udah bikin, tapi lupa. Dan isinya aib sekali. Alhamdulillah sudah lupa -_-

Seiring berjalannya waktu, aku sama dia akhirnya makin akrab. Selama aku kenal anak ini, setahuku, dia ini labil. Ini serius. Maaf ya bek -_-v Kadang baik kadang sarkas. Kadang lucu kadang jutek. Kadang ini kadang itu. Dan blablabla (?) Tapi kalo sama aku dia sering baik kok. Tapi kita biasanya omong-omongan cuma lewat socmed. Kalo omong-omongan di sekolah, dia ini kaya ngomong sendiri. Soalnya pas dia ngomong, aku cuma diem. Paling ya senyum gitu. ckck.

Kita (dulu) punya nasib yang sama. Dibully sebentar sama… ya gitu deh.

Tapi anak ini lek udah sarkas juan ga iso dikandani -_- Pernah dia tengkar sama temennya di twitter. Terus banyak followersnya yang berusaha ngedinginin suasana. Eh pertengkarannya malah tambah panas -_- Tapi Alhamdulillah sekarang sudah baikan kok.

Anak ini gahol sekali lho. Header blogku aja udah beberapa kali dibenerin sama anak ini gara-gara aku ngga bisa ngoperasiin software pengedit foto-foto gitu. Kamseupay? Biarin. Sepertinya sesuatu yang tidak berguna kalau sudah di tangan si Rachell ini, pasti jadi sesuatu yang bagus. Ini serius (lagi).

Yah sepertinya hanya itu saja yang aku tahu tentang Rachell ;_; soalnya aku juga ngga begitu deket sih -_- maaf ya bebek :c

p.s: bebek ini lagi jomblo dan sering galau tentang dirinya yang tidak punya pacar loh, jadi kalo ada yang berminat sama dia hubungi saya saja atau temui dia langsung saja. Dia sering dijumpai di lapangan rumput yang biasa dipakai tolak peluru bersama anak-anak Blackpearl. *kemudian dibunuh Ian Bebek*

silakan stalk dia di dunia maya; Facebook, twitter, atau blogger.

Selasa, 24 Juli 2012

Absurd

Suatu hari di sebuah SD, sekian tahun yang lalu.

N: "Ndut."
P: "Opo?"
N: "Mrinio dilut."
P: "Opo seh?"
N: "Gak sido wes."
P: "Lho opo a?"
N: "Ga sidooooo."
P: "Sing genaaah."
N: "Emoh, engkok kon ngguyu."
P: "Gak gak. Opo seh?"
N: "Janji yo?"
P: "Iyo janji wes." --> ini sebenere ngempet ngguyu
N: "Iki lho deloken ndut. Lagune apik. OJOK NGGUYU!" Lagunya Andrew Fallen, lupa judulnya.
P: "BUAHUAHAHAHA." <-- ini ketawa namanya, soalnya nama artisnya itu sama kayak nama bapaknya si N. iya dulu aku nyandak'an -.-
N: -,- "jarene gak ngguyu."
P: "HAHAHAHA." *ngakak ga berujung*

Credit for N ;;)

Sabtu, 21 Juli 2012

Mengenang Masa Lalu (Cryptic part 11)


Finna melangkah masuk dengan perasaan dingin yang tiba-tiba merayapi sekujur tubuhnya. Ini tempat yang sering ia datangi semasa kecil.
            Rumah tua dengan pohon mangga yang sama. Pohon itu masih ada, tidak ditebang. Halaman dengan teras batu dan rumput yang tumbuh apik. Tempat duduk dari rotan dengan pasangan meja yang sama. Semua tidak ada yang berubah. Dulu hampir seminggu sekali ia datang ke tempat ini. Biarpun rumah serta penghuninya menguarkan aura yang bersahabat, Finna tetap merasa trauma.

Kamis, 19 Juli 2012

Under the Stars (Cryptic part 10)


“Ma, aku benar-benar kangen sama kamu.”
            Finna tersenyum senang. Akhirnya, bisa juga mereka duduk berduaan. Setelah melewati percakapan mahaaaaa panjang, basa-basi mahaaaaa melelahkan, seakan obrolan itu tak kunjung usai, akhirnya orangtuanya mengizinkan Vinno pergi dari hadapan mereka. Sekarang, Finna menghela napas senang, mereka bisa duduk berdua. Hanya berdua. Di bawah kilau bintang. Di dalam musholla, di halaman belakang rumah keluarga Hadikusuma.

Senin, 02 Juli 2012

Sarcastic

Jahat. Iya, aku tahu kok aku emang jahat. Tapi siapa duluan yang mulai? Aku jelas nggak akan sejahat ini kalo kamu nggak mulai duluan. Rasanya sekarang yang sudah aku pendam sendiri selama ini akan tumpah semua. Biarin aja nanti post ini bakal jadi sarkas. Sekarang aku emang bener-bener udah nggak peduli apapun. Luka yang kau tanamkan sudah terlalu dalam, terlalu sakit.

Sabtu, 30 Juni 2012

Hari Luar Biasa (Cryptic part 9)


“Fan.” Finna keluar dari persembunyiannya, bersikap seolah baru saja tiba. “Aku nyariin kamu dari tadi.”
            “Aku di sini, Fin.” Fanni tersenyum.
            Finna lega melihat saudarinya itu tidak tampak marah sama sekali. Bahkan Fanni tampak senang melihat kehadirannya. Ia menggerakkan tangan, isyarat menggapai Finna untuk bergerak mendekat.
            “Fin, kenalin dulu. Ini teman baruku. Namanya Radith.”
            Finna tersenyum, mengulurkan tangannya. “Aku Finna, Dith.”
            “Radith.” Balas Radith tersenyum simpatik. “Senang berkenalan denganmu, Finna.”
            “Sama – sama.”
            Dari jarak dekat, Finna bisa mengamati Radith dengan mudah. Benar dugaannya. Radith cukup menarik. Tidak setampan Vinno memang. Tapi dia kan cinta pada Vinno. Jadi kedua pria itu jelas tidak bisa dibandingkan.
Radith sepertinya pria yang menarik. Usianya sebaya dengan mereka. Dan sekilas menganalisis—ini yang paling penting—Radith kelihatan baik dan sabar. Dia hebat. Yah, siapa pun yang bisa menarik Fanni dari tempat persembunyiannya dan berhasil membuatnya tersenyum jelas pria yang hebat. Karena terus terang saja, bahkan Finna sering gagal.
            “Radith adalah saudara sepupu Rosa,” Fanni menjelaskan lagi.
            “Oh ya?” Tentu saja Finna berusaha untuk pura-pura tidak tahu. “Kamu pindah ke sana?”
“Sementara.”
“Bagaimana kabar Rosa?” tanyanya lagi, lebih ke arah basa-basi. Karena sungguh, Finna tidak peduli setitik pun pada gadis itu.
“Dia baik. Sekarang dia kerja di Malang.”
“Oh ya?” Finna tersenyum. “Tukeran dengan kamu dong, Dith.”
“Iya. Kadang nasib memang sering bercanda dengan kita.”
“Kenapa, Fin?” Fanni bertanya setelah mereka bertiga diam, kehabisan pembicaraan. “Kamu mencariku?”
“Aku…” Finna menelan ludah. Untuk minta maaf bukanlah hal sulit. Tapi melakukan itu di depan seorang pria yang bisa dibilang, orang asing dalam hidupnya, itu agak berbeda.
“Sudahlah,” ucap Fanni lembut.
Finna mendongak bimbang.
Fanni mengangguk meyakinkan. “Aku tahu, kamu mau bilang apa.”
“Oh ya?” tanya Finna bodoh.
“Dan tidak perlu. Aku sudah tidak apa-apa. Aku mengerti semuanya.”
“Sungguh?” Beban di hati Finna lenyap sudah. Langkahnya terasa ringan. “Kamu tidak bohong, Fan?”
“Sungguh.” Fanni mengukir sebuah senyum manis.
Finna berani sumpah, ia tidak pernah melihat wajah Fanni tampak begitu damai seperti saat ini. Rasanya sudah seabad ekspresi itu tak pernah muncul di wajah saudarinya. Dan itu tambah membuat rasa haru di hati Finna membuncah.
“Boleh dibilang, aku sudah bisa melihat dari kacamata yang berbeda, Fin. Jadi, apapun yang ingin kaukatakan, kau tak perlu mengatakannya. Karena kamu tidak salah. Seperti katamu…” Fanni terdiam dan tampak menguatkan hati ketika ia melanjutkan, “kamu berhak bahagia.” ucapnya tulus.
Tenggorokan Finna tercekat. Dengan ngeri ia menyadari, matanya mulai berkaca-kaca. Tidak lucu jika ia menangis di depan orang asing.
“Eh.” Finna melirik Radith, lega ketika menyadari pria itu sedang menunduk, mengukir tanah dengan jari, memberinya ruang untuk menghapus sudut matanya yang telah berair. “Kalau begitu aku balik dulu, ya. Eh, Vinno, hm…”
“Pulanglah.” Fanni mengangguk cepat. “Kamu harus ada ketika Vinno tiba. Aku di sini dulu ya, Fin.”
Finna tersenyum ketika melihat pipi Fanni memerah.
Radith sendiri tertawa hangat. “Tidak usah khawatir.” Imbuhnya, “Saudarimu aman di tanganku. Sangat aman.”
Oh ya, Finna percaya itu. Ia lebih dari lega untuk meninggalkan Fanni di tempat ini. “Oke kalian berdua, aku pamit dulu ya.”
“Salam buat Vinno.” Fanni sempat berteriak sebelum bayangan Finna menghilang di balik pepohonan.
Ini jelas kemajuan. Sepanjang perjalanan pulang Finna tak henti-hentinya tersenyum. Rasanya, Allah mengabulkan permintaannya.

***

“Dia tidak ada,” kata Dea dengan wajah tegang.
            Maulidyah berpandangan cemas dengan suaminya. Noriko menggeleng lelah. Dia bingung dan cemas. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi. Rasanya ketika semua nyaris mencapai puncak, dan Noriko berpikir yang terburuk telah selesai, situasi justru menjadi lebih parah lagi, sepuluh kali lipat.
            Dan yang membuat semua tak tertahankan, dia tidak boleh menunjukkannya. Dialah kepala keluarga Hadikusuma. Dia, dibantu dengan Dana yang menjadi jangkar keluarga. Kalau sampai jangkar yang menautkan bidak rumah tangga mereka patah, maka perahu itu tidak akan pernah berlabuh. Terombang-ambing dalam lautan kehidupan. Keluarga mereka tidak akan selamat sampai pada akhirnya.
            Hanya saja Noriko tidak tahu, seberapa kuat ia bisa bertahan.  Seberapa banyak lagi energi yang diperlukan, karena rasanya, cadangannya sudah hampir habis.
            “Dia pasti menyusul Fanni.” Maulidyah menyahut dengan bibir pucat, tanpa warna. “Ke hutan.” Ia semakin terlihat pias, seperti tak ada darah yang mengaliri wajahnya. “Bagaimana ini, Pa?”
            Dana mengatupkan mulut rapat, geram.
            “Mungkin kita harus menggunakan shock therapy, Ma,” ucap Dana dengan nada datar. “Kalau cara lain tidak berhasil, shock therapy bisa jadi pilihan terakhir.”
            “Tidak.” Maulidyah menjawab dengan nada melengking. “Mama tidak setuju,” ucapnya ngotot. “Tidak boleh.”
            “Oke, Ma, oke.” Dana buru-buru menenangkan wanita yang paling dikasihinya. “Ini hanya saran, Ma.”
            “Sampai kapan pun tidak.” Noriko menggeleng, menatap anaknya penuh perhatian. “Dengar itu, Dana? Papa juga tidak setuju kalau kamu berkata kasar, atau membuat shock Finna. Tidak, Dana. Kita bertaruh terlalu banyak di sini. Bagaimana kalau penyakit Finna kambuh? Kalau jantungnya tidak kuat…”
            “Penyakit Finna sudah sembuh, Pa,” Dea menjawab lemah. “Dokter pun bilang begitu, kan?”
            “Selama dia tidak mengalami stres yang hebat, selama emosinya bisa terjaga pada batas dan kondisi normal, dia akan baik-baik saja,” Noriko menjawab datar. Namun sorot matanya penuh tekad. “Tapi dokter tidak bisa menjamin, jika yang terjadi malah sebaliknya. Dan Papa ingin kalian tahu, Papa tidak akan pernah setuju jika kita bertaruh dengan ‘batas normal’ itu. Tidak akan, kalau itu menyangkut nyawa Finna.”
            Dea menghela napas berat.
            Lalu bagaimana dengan keluarga kita, Pa? Ia ingin menjerit, tapi tidak tega. Tidak ada suara yang keluar. Dea tetap menunjukkan raut wajah tenang, biarpun terlihat pucat. Tidak ada yang tahu pergolakan batin gadis itu.
            Sampai kapan kita semua harus bersikap seperti ini? Ini melelahkan, Pa. Ini menyiksa. Dan semua ini tidak ada jalan keluarnya. Oh, tidakkah Papa tahu. Kami sudah tidak tahan lagi.
            ”Mungkin Finna harus bertemu dengan Dokter Arifin.” Dana mengemukakan usulnya. “Ini jalan terakhir. Papa bisa membuat janji temu dengan Dokter Arifin, kan? Beliau pasti mau membantu.”
            “Dengan alasan apa?” Maulidyah terlihat bingung, sedikit takut. “Nanti kalau Finna curiga, bagaimana?”
            “Tidak.” Dea berusaha menenangkan ibunya, biarpun hatinya perih. “Tidak, Ma. Nanti kita bisa beralasan mumpung Finna pulang ke Pacitan, Dokter Arifin ingin bertemu. Bukan sebagai dokter dan pasien, tapi lebih pada hubungan om dan keponakan. Dokter Arifin kan sayang pada Finna.”
            Noriko Hadikusuma mengangguk setuju.
            Nyaris seumur hidup di masa kecilnya, Finna dirawat oleh dokter jantung keluarga mereka, hubungan keluarga itu menjadi akrab. Lebih daripada dokter dan pasien. Setiap saat Finna mengalami serangan, ia bisa langsung datang ke tempat praktek Dokter Arifin tanpa perlu mengantri. Bahkan Dokter Arifin mengizinkan keluarga mereka membawa Finna kecil untuk diperiksa di kediamannya. Dan itu berarti sangat banyak.
            “Ya, begitu saja.” Noriko Hadikusuma memutuskan dengan cepat. “Nanti akan Papa buatkan janji temu. Urusan itu beres sudah.”
            “Mungkin ada baiknya kalau Finna tidak di rumah saat Vinno datang sebentar lagi,” Dana menyela. “Papa bisa bicara dengan lebih leluasa. Mungkin, hm, mungkin kita perlu mendesak Vinno supaya bisa lebih agresif lagi.”
            Maulidyah menatap bisu.
            “Kita tidak punya banyak waktu.” Dana mencoba tersenyum. “Kecuali itu, sebagai sesame lelaki, aku bisa merasakan susahnya posisi Vinno. Kalau dia melihat keluarga Finna mendukung, mungkin, yah hanya mungkin memang, tapi paling tidak dia bisa berjuang lebih keras lagi karena mendapat dukungan yang dia butuhkan.”
            Noriko mengangguk setuju. “Baiklah.”
            “Dan sekarang,” Dea menggenggam tangan ibunya penuh kasih. “Mama istirahat sebentar ya, Ma. Jangan khawatir tentang Finna. Dia pasti baik-baik saja. Mama tidur dulu ya, biarpun hanya setengah jam. Nanti kalau Vinno datang, aku bangunkan.”
            Maulidyah mengikuti saran anak gadisnya tanpa membantah.

Rabu, 27 Juni 2012

Tak Bisa Lepas


Saya seorang wanita berusia 56 tahun. Nama saya Chandrika Sanjaya. Nama yang agak aneh, bukan? Itu adalah nama Srilangka. Meskipun sampai saya setua ini, saya tak pernah mengerti apa arti nama Chandrika. Saya juga tak tahu sedikitpun tentang Bahasa Sinhala, bahasa resmi negara kecil itu.
               Sejak kecil, kehidupan keluarga saya baik-baik saja. Kadang-kadang memang ada hambatan seperti sedikit pertengkaran dengan adik-adik saya. Atau mungkin omelan dari suara nyaring nenek saya yang kerap kali merusak kinerja gendang telinga saya. Atau bisa jadi beberapa nilai jelek yang saya dapat di sekolah, itupun hanya satu atau dua kali saja. Selebihnya, saya dulu adalah salah satu manusia paling beruntung di dunia. Dan saya sangat bersyukur karenanya.

Sabtu, 23 Juni 2012

Hadiah dari Ayah


“Selamat ya, Del. Ibu tidak menyangka kalau prestasi kamu melejit semester ini.” ucap Bu Sri sambil menggenggam erat tanganku.
               Aku membalasnya dengan senyuman dan ucapan terimakasih. Sejenak aku melirik ke arah teman-teman sekelas. Ada yang mengacungkan jempol, ada juga yang menggeleng-gelengkan kepala. Mereka kemudian menyorakiku dengan tepuk tangan yang meriah karena aku menorehkan prestasi sebagai peraih nilai raport terbaik semester ini.
               Meraih nilai raport terbaik?
               Ya! Alhamdulillah! Batinku dalam hati. Namun dalam hati aku juga tidak menyangka bila aku bisa mengalahkan Nisa atau Iqbal yang identik dengan sebutan siswa paling cerdas di kelasku karena mereka berdua selalu bergantian menjadi juara kelas. Tapi hari ini, justru aku yang dinobatkan menjadi yang terbaik.
               Heran juga kok bisa terjadi. Padahal aku dikenal sebagai siswa urutan papan bawah kalau bicara soal nilai pelajaran.
               “Hebat banget! Kok bisa sih, Del?” tanya Rina, teman sebangkuku, dengan tatapan mata keheranan. Yah, memang bisa dimengerti kalau dia,—dan kuyakin—semua teman sekelasku menyimpan pertanyaan yang sama.
               “Hei, kamu kan nggak tahu kalau aku memang cerdas.” Jawabku bercanda.
               Rina tertawa terbahak-bahak mendengar jawabanku. “Hihi, sombong deh. Lah selama ini buktinya kamu selalu juara urutan buncit! Sama sekali nggak ada tanda-tanda kalau kamu itu siswa cerdas.”
               Kucubit tangan Rina dengan keras. Aku sebal, masa dikatain sebagai siswa yang tidak cerdas? Sekolahku kan terkenal sebagai sekolah favorit. Setiap siswa yang diterima adalah siswa pilihan. Tidak sembarang calon siswa bisa mendaftar karena harus punya nilai bagus di sekolah sebelumnya.
               Kalau selalu berada di urutan paling bawah, apa namanya kalau bukan siswa bodoh?
               Tapi kan harus ada jawaban yang meyakinkan.
               “Tahu tidak, Rin, kenapa selama ini nilaiku yang paling jelek?”
               “Karena bodoh?”
               “Weeee, enak saja!”
               “Lalu karena apa?”
               “Karena aku sengaja mengalah. Aku takut terkenal kalau mengalahkan semua teman sekelas!” jawabku.
               Aku sengaja menjawab pertanyaan Rina dengan wajah serius. Wajah Rina kelihatan tak mampu menahan tawa melihat mimik mukaku saat berbicara.
               “Hahaha, dasar!”
               Satu persatu teman-teman menghampiri tempat dudukku untuk memberi ucapan selamat. Termasuk Nisa dan Iqbal.
               “Selamat, Del. Nggak nyangka nih kalau kamu yang jadi juara kelas!”kata Nisa.
               “Selamat, ya! Kenapa aku sampai tidak memperhitungkan kamu, ya?” ucap Iqbal sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
               “Iya, gila! Kok bisa jatuh ke Dela, ya? Gila bener!” kata teman-teman yang lain. Aku tertawa mendengar keheranan teman-teman. Tapi sewot juga. Orang meraih prestasi kok malah diragukan.
               “Ya kalian yang gila! Kan hanya orang normal saja yang bisa juara!”
               Teman-teman tertawa mendengar ucapanku.

***

“Minta motor?”
               “Iya, minta motor.”
               Suasana hening sesaat. Aku menatap wajah Ayah. Demikian pula sebaliknya. Ayah kelihatan menarik nafas.
               “Untuk apa?”
               Aku mulai kesal dengan Ayah. Pasti selalu begitu. Setiap kali aku meminta selalu saja ditanya mendetail.
               Dulu waktu aku minta uang untuk piknik, Ayah bertanya mengenai siapa saja yang ikut, ada gurunya atau tidak, berapa hari, apa saja yang dikerjakan, kegiatan sekolah atau bukan, dan pertanyaan lain yang membuatku harus menerangkan panjang lebar. Sudah begitu ternyata tidak diberi. Alasannya karena tidak mendukung pelajaran sekolah. Bayangkan coba! Masa tidak boleh sesekali menikmati dunia pergaulan remaja? Memangnya harus dikekang di rumah terus?
               Pernah juga aku minta uang untuk membeli radio kecil agar aku bisa mendengarkan musik di kamar sambil belajar. Tidak dibelikan juga. Katanya kalau mendengarkan musik kan bisa menyetel stereo set yang ada di ruang keluarga.
               Sebenarnya aku ingin minta uang ke Bunda. Tapi Bunda hanya memegang uang untuk belanjaan dan kebutuhan rumah saja. Untuk urusan sekolah dan lain-lain, aku disuruh minta Ayah. Dan pasti sering tidak diberi kalau alasannya tidak cocok dengan yang ada di pikiran Ayah. Yang punya kebutuhan aku kok alasannya harus berdasarkan kemauan Ayah?
               Akhirnya aku mencoba berpikir keras mencari alasan yang sekiranya bisa disetujui Ayah.
               “Ya, biar cepat sampai di sekolah, Yah.”
               “Kan bisa naik angkot seperti biasa?”
               Tuh kan! Bisa diduga kalau Ayah pasti keberatan. Aku kadang berpikir bahwa ayahku ini memang sangat pelit. Aku sering iri kalau melihat teman-temanku yang ke sekolah diantar sopir pribadi mereka. Bahkan ada yang membawa mobil sendiri. Kalau aku, jangankan mobil, minta motor saja ditolak!
               Tapi aku mencoba tidak menyerah untuk meyakinkan Ayah.
               “Waduh Yah, capek kena macet. Panas lagi.”
               “Tiap hari juga macet. Mana pernah nggak macet. Toh kalau naik motor juga pasti nanti terjebak macet. Malah lebih capek. Lebih baik naik angkot saja, besar resikonya kalau naik motor. Apalagi untuk anak gadis sepertimu.”
               Aku diam. Ayah juga.
               “Lagipula harga motor baru kan mahal. Lebih baik untuk persiapan uang sekolah kamu.”
               Nah, benar kan. Pasti ditolak lagi. Aku jadi emosi.
               “Ya sudah! Percuma minta. Lagipula mana pernah Ayah memenuhi permintaan Dela. Seperti anak tiri saja. Permintaan Dela tidak pernah ada yang dipenuhi!”
               Ayah terlihat kaget mendengar omonganku. Aku juga tak menyangka kalau kalimat itu meluncur dari bibirku. Aku menyesal telah mengucapkannya.
               Saat aku hendak meminta maaf, Ayah terlanjur membuka mulutnya untuk berbicara.
               “Ya sudah, baiklah. Ayah akan membelikanmu motor. Tapi dengan satu syarat.”
               “Apa syaratnya, Yah?” tanyaku antusias. Sampai lupa kalau tadinya aku hendak minta maaf.
               “Dela harus jadi juara kelas semester ini!” kata Ayah mantap.
               Waduh! Berat juga. Karena nilaiku selalu nomor belakang. Menurutku Ayah agak curang juga karena beliau yakin tidak akan membeli motor baru karena aku pasti tidak bisa jadi juara.
               Tidak bisa jadi juara?
               Tunggu dulu! Biarpun nilaiku paling jelek di kelas bukan karena aku bodoh. Tapi memang malas saja karena kadang bagiku pelajaran di sekolah terasa membosankan.
               “Oke, setuju!” jawabku bersemangat. Ayah tampak kaget mendengar jawabanku yang mengandung kesungguhan.
               Aku memang sungguh-sungguh. Aku belajar dengan keras. Tak jarang sampai larut malam. Kesempatan bermain dengan teman-teman aku lewatkan, demi sebuah ambisi mendapatkan sepeda motor!

***

Nah, sekarang saat yang paling kunanti itu telah tiba! Aku juara kelas. Aku akan menagih janji pada Ayah. Sepanjang perjalanan aku membayangkan betapa senangnya bila aku diajak ayah ke showroom motor untuk memilih motor yang kusukai.
               Bayanganku semakin melambung. Beragam rencana aku susun kalau seandainya nanti aku memiliki motor baru. Aku akan keliling kota dengan teman-teman sekelas. Mungkin juga bakal ikut bermotor ke tempat wisata. Kalau selama ini aku hanya bisa mendengar cerita dari teman-teman mengenai serunya bepergian naik motor, maka sebentar lagi aku akan bisa mengalaminya sendiri.
               Seru sekali kelihatannya!
               Aku tersenyum sendiri membayangkan pengalaman-pengalaman menarik yang akan segera kualami.
               “Turun dimana, mbak?” tanya sopir angkot membuyarkan lamunan indahku.
               Aku gelagapan.
               “Ujung tikungan, pak.” Jawabku menyebut ujung gang komplek perumahan. Pak sopir pasti sudah tahu meskipun aku tidak menyebutkan nama komplek perumahan tempat tinggalku.
               “Yah, udah lewat, mbak. Ini kan udah sampai di terminal terakhir.” Jawab pak sopir.
               Aku menoleh ke kanan-kiri. Astaga! Gara-gara melamun aku sampai tidak sadar kalau sudah nyasar jauh sampai terminal terakhir. Bahkan melewati daerah tempat tinggalku. Terpaksa aku ganti angkot yang berbalik arah. Selama perjalanan aku kesal sekaligus geli.
               Lega juga akhirnya ketika langkah kakiku sampai di depan pagar rumah. Aku membuka pintu pagar, ternyata dikunci. Aneh, biasanya pintu pagar kalau siang tidak pernah dikunci.
               “Assalammualaikum.” Kuucapkan salam agar Bunda mendengar kalau aku sudah datang. Aku menduga saat ini Bunda sedang tidur siang sehingga pintu pagar dikunci. Beberapa kali kuucapkan salam. Ternyata tidak juga ada balasan. Aku menjadi jengkel karena tidak segera dibukakan pintu. Akhirnya aku mengucapkan salam sekali lagi sambil berteriak.
               Tapi yang muncul justru pembantu rumah tangga rumah sebelah. Aku jadi malu. Wajah pembantu itu tampak gugup. Aku jadi sedikit heran.
               “Ehm, Mbak Dela, ayahnya Mbak Dela… ehm…”
               “Ayah kenapa, mbak?” tanyaku memotong ucapannya yang belum selesai.
               “Ehm, eh, Ibunya Mbak Dela titip kunci sama catatan ini.” Katanya sambil menjulurkan selembar kertas padaku. Segera kusambar kertas yang ada di genggamannya. Kubaca dengan penuh rasa keingintahuan. Ternyata pesan singkat dari Bunda yang mengabarkan kalau beliau sedang berada di salah satu paviliun rumah sakit menunggu Ayah yang sedang dioperasi karena mengalami kecelakaan.
               Kecelakaan? Operasi? Desisku lirih. Serta merta aku berlari menuju jalan raya. Tanpa menghiraukan teriakan pembantu tetangga kalau kunci rumahku belum aku ambil. Aku segera mencegat taksi kosong untuk mengantarku ke rumah sakit. Biarpun tarifnya lebih mahal daripada angkot yang penting segera sampai.

***

Sesampainya di rumah sakit aku menanyakan letak paviliun tempat Ayah dirawat. Dalam hati aku berdoa semoga Allah meringankan sakit ayahku. Semoga sakit Ayah tidak parah. Hatiku berkecamuk. Apalagi kalau ingat selama ini aku merasa tidak cukup berbakti pada Ayah. Aku hanya bisa minta uang melulu. Sering merasa kesal ke Ayah karena sering menolak permintaanku.
               Namun kalau mendengar Ayah dioperasi, tiba-tiba aku merasa takut. Takut kehilangan Ayah. Aku belum siap ditinggal oleh Ayah.
               Ya Robbi, selamatkan ayahku!
               Sepanjang koridor rumah sakit tak henti-hentinya aku memanjatkan doa untuk kesembuhan ayahku. Sampai di ujung lorong aku mencocokkan nomor ruangan paviliun. Hatiku bergemuruh karena nomor paviliun yang tertera di atas pintu sama dengan catatanku.
               Aku segera melangkah menuju ruangan kamar karena pintunya terbuka.
               Namun aku sengaja menghentikan langkahku saat namaku disebut-sebut. Kudengar percakapan antara Ayah dan Bunda.
               “Ini semua demi menyenangkan Dela, Ma.”
               “Iya, ngerti. Lain kali kalau ngambil uang pakai pengawalan polisi dong biar tidak dijambret di jalan.”
               “Mendadak sih. Tadi pagi aku telepon wali kelasnya. Ternyata Dela juara kelas. Makanya aku segera mencairkan deposito untuk membeli motor permintaannya.”
               “Ya sudahlah. Ayah istirahat dulu. Jangan banyak gerak biar luka sabetan golok perampok yang sudah dijahit itu cepat kering. Nanti aku kasih tahu Dela, ini semua demi memenuhi permintaannya.”
               Kemudian hening. Tidak ada percakapan. Aku berniat untuk masuk. Kakiku hendak melangkah, namun kembali terhenti saat Ayah kembali menyebut namaku.
               “Dela jangan dimarahi, biarpun permintaannya aneh-aneh dan suka semaunya sendiri. Meskipun dia hanya anak angkat, tapi kita harus memberinya limpahan kasih sayang. Tanpa Dela hidup kita pasti akan terasa sepi.”
               Aku yang mendengar ucapan Ayah laksana digedor selaksa palu godam.
               Aku terhenyak.
               Mereka berusaha menyayangiku meski aku bukan anak kandung. Sementara aku sering membuat beliau jengkel. Tanpa terasa airmataku meleleh.

*