Selasa, 29 November 2011

Hujan - hujan Mungil



Dari tadi pagi hujan mengguyur. Merebak membanjiri seluruh pelosok kota. Butir-butir hujan mungil, begitu aku memanggil gerimis, masih menempel di kaca jendela. Perlahan titik hujan-hujan mungil itu menetes pelan, mengendap-endap dan jatuh ke bawah kaca.
Aku hanya menghabiskan waktuku di kamar seharian. Sedikit kubuka kaca jendela dan kuberi celah untuk dapat memandang hujan yang turun seenaknya. Kututup lagi kaca jendela. Terngiang di benakku akan cerita ayah pada masa kecilku. Kisah kecilku yang suka basah-basahan di bawah hujan dan mandi hujan bersama anak kecil seusiaku.
Ayah juga pernah bilang begini, “Hujan itu adalah sahabat kita, kamu ibarat hujan arogan, sedang adikmu ibarat hujan-hujan mungil.”
Ucapan ayah itu semakin hafal di benakku. Aku jadi ingat ayah. Semoga ayah cepat pulang dari kantor. Aku ingin mendengar cerita ayah lagi. Suatu hari ayah sempat bilang padaku tentang hujan itu.
“Kamu tahu kenapa kedua anak ayah panggil hujan?” ayah membuatku tertegun. Aku simak betul ucapan ayah saat itu.
“Dulu sewaktu ibumu melahirkan kamu itu bertepatan dengan musim penghujan. Adikmu juga. Barangkali itu yang membuat kalian berdua begitu suka pada hujan.”
Aku menutup kenangan itu. Kembali ingatanku pada ayah. Hanya hujan yang menemani lamunanku. Tak ada yang lain. Suara kodok yang santer terdengar di senja seperti ini juga sudah tidak terdengar lagi. Mungkin dikalahkan oleh suara hujan yang begitu arogan sampai membius kita akan suara yang biasa terdengar di senja seperti ini. Bianglala juga enggan hadir. Burung-burung jengah, sudah saatnya mereka pulang ke kandang tapi terhalang. Jangkrik juga. Ah! Sungguh hujan yang membosankan.
Tanpa kusadari wajah mama hadir di depan pintu. Mama menyuguhkan sepiring gorengan dan secangkir susu coklat panas dan meletakkannya di mejaku. Mama tersenyum manis dan aku balik tersenyum pada mama. Perlahan mama menghampiriku.
“Kamu ingat siapa? Dari tadi pagi mama tengok kamu cuma melamun saja!”
            “Aku ingat Nessa dan ayah, ma.” Ucapku sambil mencomot sepotong gorengan yang masih hangat. Mama berlalu dari hadapanku. Mama menutup kembali pintu kamarku rapat-rapat. Sekonyong-konyong aku dikejutkan oleh suara dering ponselku yang membuat aku reflek. Suara ayah terdengar di seberang.
            “Ada apa, yah? Tumben ayah menelpon?” tanyaku pada ayah.
            “Bilang sama mama, ayah terjebak hujan di jalan. Kalau ayah meneruskan perjalanan itu sudah tidak mungkin. Hujan badai juga tidak bersahabat. Jalanan licin sekali. Ini bukan hujan kita. Juga bukan hujan-hujan mungil kepunyaan Nessa.”
            “Maksud ayah?” Sekonyong-konyong pembicaraanku dengan ayah terputus. Hatiku kian galau. Lebih galau lagi dari hujan badai yang turun semrawut. Jantungku terasa dipompa dahsyat. Darahku mendesir kilat. Kubuka jendela lagi. Hujan makin tak bersahabat. Hujan terasa membakar tubuhku di tengah badai seperti ini.
            Tanpa dikomando aku bergegas menemui mama di belakang. Kulihat mama merintih di dapur. Darah menetes di tangan mama yang agaknya terkena sayatan pisau.
            “Nes, tolong ambilkan mama kapas dan obat merah,” perintah mama dengan wajah pucat.
            “Mengapa jadi begini? Suasana berubah menjadi tidak menyenangkan. Hatiku masih berkecamuk, masih dibayang-bayangi dan dihantui oleh ucapan ayah tadi. Semoga tidak terjadi apa-apa dengan ayah,” gumam batinku.
            Belum rampung galau hatiku tentang ayah, sekarang mama malah membuat hatiku kian berkecamuk. Apa pula yang terjadi pada mama.
            Aku tidak mengambil obat merah yang diminta oleh mama, malah aku mengambil alkohol dan kasa steril. Setelah itu aku membersihkan luka mama dengan alkohol, lalu menekan luka, tinggikan dari jantung (elevasi), dan tekan pada titik tekan (nadi). Setelah itu aku membalut luka mama. Ya, ternyata ada juga gunanya ikut PMR.
            Aku dikejutkan oleh suara ketukan pintu. Siapa yang bertamu di tengah galau dan kacau balau hatiku ini? Ayah barangkali!
            Aku tercengang sambil mendongak pada wajah tamu yang datang itu. Ternyata Om Reza, rekan kerja ayah. Entah kenapa Om Reza memasang wajah panik bukan main. Ada raut kesedihan yang bisa kutangkap dari raut wajah dan gerak bibirnya yang tiba-tiba kaku.
            “Vanes! Bilang pada mamamu, ayah kamu tadi kecelakaan. Om sudah melarang agar jangan nekat pulang di tengah cuaca badai seperti ini. Tapi ayah kamu keras kepala pulang dengan alas an ia tak ingin hal yang buruk itu menimpa Nessa dan ibumu”
            “Sekarang ayah ada dimana, Om?” suara parauku terdengar begitu pelan.
            “Ada di rumah sakit!” jawab Om Reza sambil menopang tubuhku yang tak tahu nyawanya sekarang berada di mana. Aku tak sadarkan diri.

☂☂☂

            Sehabis melihat kesadaran ayah yang sedang kritis di rumah sakit aku meminta Om Reza untuk mengantarkanku ke tempat Nessa yang sekarang berada di rumah nenek. Aku tak ingin terjadi apa-apa pada Nessa. Ucapan ayah yang terakhir kali masih meraung di benakku. “Ini bukan hujan kita”. Kata-kata yang tak bisa kutafsirkan.
            Malam semakin larut. Hujan masih membuas. Dingin. Ngilu. Ngilu sekali.

☂☂☂

            Nessa masih bermain di dalam mimpinya. Sebelumnya nenek juga kaget dengan kedatanganku di tengah larut malam dan hujan badai seperti ini. Kubelai rambut Nessa. Kukecup pipinya berkali-kali. “Semoga ia dapat merasakan apa yang kurasakan sekarang”. Semoga ia tahu kalau ayah yang sama-sama kita cintai sekarang sedang berada di rumah sakit.
            Perhatianku dicuri oleh sebuah toples dan secarik kertas bertuliskan Hujan-hujan Mungil yang berisi tetesan air yang menyerupai air embun. Aku membuka secarik kertas itu.
            “Nenek, Nessa ingin pulang. Nessa takut ayah pergi. Nessa tak mau kehilangan ayah. Nessa tak ingin air mata Nessa bersatu dengan hujan-hujan mungil itu. Kalau ayah yang tertimpa musibah dan ayah meninggalkan kami, siapa lagi yang akan mencarikan uang untuk sekolah Nessa? Nek, Nessa ingin di samping mama sebelum darah itu menetes dari jemari mama. Nek, bawa Nessa pulang secepatnya. Sebelum semua terlambat.”
            Tanpa kusadari, air mataku menetes dari pelupuk mataku. Kugenggap tangan Nessa erat. Kupeluk dia seerat-eratnya. Aku makin dikejutkan oleh dering ponselku. Tubuhku bergoncang. Aku panic bukan main ketika di layar ponselku tertera tulisan “Mama memanggil”. Semoga saja mama tidak menyampaikan berita duka itu. Berita duka tentang kepergian ayah, seperti yang ada dalam secarik kertas Nessa itu.
            “Nes, syukurlah ayah sudah siuman. Ayah tidak kenapa-napa. Cuma lecet di beberapa bagian tubuhnya saja,” suara mama membuat hatiku lega. Rasa girang yang teramat sangat membuncah di dasar jiwa.
            Semua terasa disulap. Hujan yang tadi badai dan arogan sekarang tinggal bersisa gerimis, butir-butir hujan mungil. Nessa terjaga dari tidurnya. Ia memelukku dan melepaskan kerinduannya. Suasana jadi berubah. Suasana malam yang sepi dan sunyi terasa begitu damai. Aku beranjak ke arah jendela kamar Nessa dan memberinya celah.
            “Nes, lihat ini hujan-hujan mungil. Ini mungkin hujan milik kita!” ucapku pada Nessa yang tak henti-hentinya menyebut kata “Ayah”.

Sabtu, 26 November 2011

Love

We met in kindergarten. We were best friends.

He always told me he loved my eyes. I didn't quite know why.
I was in love with him, so of course my face lit up immensely whenever he said it.
He was handsome, kind, and extremely funny.
We'd be talking about nothing, and he'd turn to me and whisper,
"I like your eyes."
One day, I was playing basketball,
waiting for him to drive over to my house to have a game with me.
Suddenly, I got a phone call.
It was his mom. She was in a panic.
I couldn't quite understand what she was saying. It sounded like,
"Diana, come quick! Faros, accident, Main Street! Blood. Come now!"
I had no clue what happened,
so I ran to Main Street with my basketball shorts and a tee shirt on. 

I saw Faros's mom helplessly crying, waiting for the ambulance to arrive.
I saw a totaled car, blood everywhere.
Then I saw him, Faros.
My heart stopped as I frantically ran over to him.
"Faros? Faros!" He was unconscious. I started crying.
I know it isn't very manly, but I couldn't help it.
Before I could say anymore, the medics took him away,
the main source of blood coming from his head.
I went to the hospital that night,
I went every night.
in fact, the only time I left was to go out to eat, but that's it.
The doctors tried getting me to leave, but I refused.
It was all my fault.
If it wasn't for me, wanting to play basketball with him,
he wouldn't be going through this.
It was already four days, and he hasn't woken up.
On the fifth day, I saw his eyes gently open. 

"Faros?" I called. 

He wasn't quite awake yet.
Suddenly, doctors came rushing in, telling me I had to wait outside.
I did, for a few hours.
One of the doctors finally came out saying,
"I understand that you're Faros's friend, Diana?"
"Yes," I whispered.
He bit his lip.
"He woke up, he's fine,
but I'm afraid he has long term memory loss."
"Are you serious?" I almost shouted.
"I'm afraid so."
I didn't meet his gaze. I couldn't.
I wasn't going to say anything, so he spoke again.
"You can go see him if you want,
but he doesn't remember anything, not even his mom."
I walked in, trembling in horror.
I saw him. He looked helpless as he slept.
I waited a few hours, until I saw his eyes opening gently again.
I expected doctors to run in, rushing me out.
Instead, he looked me straight in the eyes, and whispered,

"I don't know you, but I like your eyes."