Kamis, 29 Desember 2011

Astaga


        “Tasya! Awas!” teriak seseorang dari belakang.
            Bruk! Aku meringis kesakitan. Kulihat roda depan sepedaku menabrak pohon yang tumbuh tegak di pinggir lapangan basket sekolah.
            “Udah aku ingatkan, kenapa nggak didengerin?” Yafi menghampiriku sambil tertawa cekikikan.
            “Telat!” sahutku jutek. Yafi makin kencang tertawanya. Aku memilih tak mempedulikan makhluk aneh di hadapanku itu.
            “Tasya… Tasya… makanya kalau jalan pakai mata dong. Masa naik sepeda tapi matamu lihat ke belakang. Udah deh, nggak usah sampai segitunya kali ngeliatin Pak Alif.” Ledek Yafi.
            Aku melotot kaget. Apa tingkah lakuku sebelum jatuh tadi sangat menarik perhatian, ya? Jujur aku akui, memang aku sedang memperhatikan Pak Alif yang sedang berjalan menyeberangi lapangan basket. Guru Matematika itulah satu – satunya guru yang berhasil memutar balikkan makna matematika di hadapanku. Sekarang, bukan hanya aku jatuh cinta pada Matematika, namun juga sudah hampir tergila – gila dengan Pak Alif. Kenapa? Karena dia sangat mirip dengan Ricky, cowok yang berhasil memikat hatiku selama dua tahun ini. Tapi, sayangnya, tuh cowok sama sekali nggak pernah melirik apalagi menyatakan cinta padaku. Menyedihkan! Sekarang, sebuah kenyataan membuktikan bahwa Ricky telah pacaran dengan adik kelas sepupunya!
            “Kamu ngapain masih diem di situ, Fi? Bantuin dong,” sungutku sambil mengulurkan tangan minta tolong. Bukannya menerima uluran tanganku, Yafi lebih memilih untuk menyelamatkan sepedaku.
            “Yafi!” teriakku kencang. Sementara Yafi dengan tampang innocent-nya hanya mengontrol sepedaku yang tampak lecet.
            “Kayaknya sepedamu harus buruan masuk bengkel, deh. Kalo nggak, aku nggak mau tanggung jawab kalo pulang sekolah kamu nebeng sama aku.”
            “Kamu itu nyebelin banget ya, Fi! Kamu nggak peduli apa lututku bocor!” sungutku sambil menunjukkan lututku yang mulai banjir darah.
            “Ah… gitu doang. Manja bener. Udah ah, aku bawa dulu sepedamu ke bengkel. Nyusahin aja kau.” Sahut Yafi tak peduli.
            Astaga… ini anak betul – betul bikin darahku mendidih. Dengan memperjuangkan seluruh hidup dan matiku, kucoba untuk berdiri. Berhasil. Kulihat si Yafi Rizqi Wahyu Triadi itu membawa sepedaku keluar dari sekolah.
            Heran, tuh anak tujuan hidupnya tak jelas, kadang – kadang baik hati, kadang – kadang sangat menyebalkan! Entah sudah takdir atau musibah, aku pun harus menjadi tetangga makhluk yang satu itu!
            Aku berjalan terseok – seok menuju ke kelas yang jaraknya tinggal seratus meter. Tak sadar dan tadi ternyata kami berdua menjadi tontonan anak – anak lain. Masa bodoh!
            “Apa lo!” gertakku pada adik – adik kelas yang berkumpul sambil memandangku kasihan. Seketika yang merasa terpanggil langsung lari kocar – kacir. Sebagai keturunan teratas alias anak kelas 9, wajarlah kalau berlagak sok jagoan di hadapan adik kelas. Toh, aku juga nggak berniat untuk memeras uang atau perintah – perintah mereka.
            “Door!” teriak seseorang lengkap dengan pukulan di pundak yang tak kira – kira kencangnya.
            “Kamu mau ngagetin atau ngajak berantem, Tan! Mukul pundak kok kayak mukul bata,” gertakku sok – sokan pada Tanta, teman sekelasku yang kebetulan juga satu bangku denganku.
            “Lho? Itu pundak, ya? Kirain beneran bata. Keras bener…” kata Tanta sambil sesekali tertawa cekikikan.
            “Nggak lucu…” ejekku yang langsung menghadiahi jitakan kecil di jidatnya.
            “Rese kau. Eh, kenapa tuh lututmu? Dahsyat! Semburannya ngalahin semburan lumpur Lapindo.”
            Aku melihat kea rah lutut kiriku. Darah terus keluar dari lutut dan sebagian telah mengering.
            “Kalau nggak cepet – cepet ke UKS bisa infeksi, lho!” tegur Tanta. Ditariknya langsung tanganku seakan – akan membawaku berlari. Langsung saja kuhentakkan tangannya.
            “Cepetan!” suruh Tanta lagi.
            “Cepetan… cepetan… kakiku sakit tau! Gimana bisa jalan cepat?” sungutku kesal.
            “Sorry, Sya. Ya udah pelan – pelan aja…”
            “Tapi aku pengen cepat sampai di UKS.” Pintaku.
            “Iyaa… tapi gimana caranya. Jalan aja kamu susah. Memangnya sekolah kita punya kursi roda?”
            “Nggak perlu kursi roda. Kamu gendong aja aku sampai ke UKS.” Tanta langsung mencak – mencak tak karuan.

***

            “Fi! Sepedaku tadi kamu masukin ke bengkel mana?” tanyaku sepulang sekolah pada Yafi yang baru saja keluar dari kelasnya.
            “Bengkel di pertigaan jalan sono,” jawabnya singkat.
            “Anterin aku, ya… Please… kakiku masih sakit nih. Masa kamu tega lihat aku capek – capek jalan sampai pertigaan sana,” pintaku dengan nada memelas.
            Yafi hanya mengangguk – angguk kecil. Satu tanda bahwa aku boleh nebeng di sepeda motornya. Bengkel yang dituju lumayan dekat dengan sekolah. Letaknya tepat di persimpangan jalan. Bengkel sepeda ini bukan seperti bengkel service yang elit. Hanya sebuah kedai makanan yang disulap jadi bengkel kecil.
            “Eh, kamu, Fi. Sepedanya sudah beres tuh,” sapa salah satu tukang bengkel itu. Kalau dilihat dari wajah dan penampilan, tukang bengkel itu sangat mungkin seumuran dengan kami.
            “Temenmu ya, Fi?” tanyaku seraya berbisik.
            “Iya… naksir? Udah… sana ambil sepedamu,” suruh Yafi.
            “Iya… iya…,” Aku mengambil sepeda yang sudah terparkir di pinggir bengkel dibubuhi dengan mulut yang maju tiga senti.
            “Tiga puluh ribu, Mbak,” sapa tukang bengkel itu saat aku sudah bersiap untuk menggenjot sepeda.
            “Apanya, Mas?”
            Si tukang bengkel itu hanya tersenyum kecil. Aku langsung mengerti. Kukeluarkan tiga lembar uang sepuluh ribuan pada mas itu.
            “Kirain tadi udah dibayarin Yafi, Mas.”
            Sang tukang bengkel hanya tersenyum.

***

            “Tan… sumpah… Pak Alif cakep banget..” ucapku sampil memperhatikan Pak Alif yang sedang asyik menjelaskan masalah trigonometri di depan kelas.
            “Wooy… sadar! Kamu itu, ya… tiap kali ketemu Pak Alif kayak orang kesambet tau, nggak” komentar Tanta.
            Aku memilih untuk tidak menghiraukannya. Toh, alasan utamaku bukan ingin mengatakan bahwa Pak Alif cakep. Aku masih terus membayangkan Ricky-lah yang telah menjelma menjadi Pak Alif dan sampai sekarang aku masih tidak terima kalau Ricky yang kuidolakan takluk di tangan adik kelasnya. Tapi sekarang, walaupun aku tak berhasil mendapatkan Ricky, mungkin Pak Alif yang masih bujangan itu bisa sebagai pengganti.
            “Alif…,” panggilku dengan sedikit manja.
            Bukannya Pak Alif yang menoleh, malah Yafi yang berada tepat di depanku yang menengok ke arahku.
            “Lho, kamu kenal Alif?” tanya Yafi dengan wajah setengah terkejut.
            “Iya…,” jawabku bingung.
            “Aku punya nomor handphone-nya kalau kamu mau,” tawar Yafi. Tanpa menunggu aku setuju atau tidak, dirobeknya kertas kecil dan langsung dicatatkannya nomor handphone.
            “Nggak kusangka kamu tertarik,” komentar Yafi sambil menyerahkan robekan kertas itu padaku.
            “Yee… dari dulu kali!”
            “Oh ya… Dia juga cerita sama aku kalo dia lumayan tertarik ama kamu,” kata Yafi.
            “Hah?” teriakku dan Tanta bersamaan.
            “Sssttt…!!! Tasya…,” tegur Pak Alif.
            Aku pun hanya menjawab dengan senyum kecil masih dengan wajah yang terheran – heran. Beneran nih?
            “Serius, Fi? Cowok itu tertarik sama Tasya?” tanya Tanta lagi memastikan. Kali ini dengan mengganti kata Pak Alif menjadi cowok itu.
            Yafi hanya mengangguk. Kemudian disusul dengan mengacungkan jari telunjuk dan tengah.
            “Kesempatanmu terbuka lebar, Sya! Aku yakin kamu pasti bisa dapetin dia.”
            Aku hanya tersenyum kecil. Kulihat sekali lagi Pak Alif tampak semakin gagah menjelaskan mata pelajaran Matematika. Rumus – rumus yang dituliskannya di papan tulis seketika berubah menjadi kata “Aku Suka Kamu.” Aku langsung mengucek – ucek mata. Untungnya rumus – rumus yang di depan papan tulis langsung berubah seperti biasa. Kayaknya aku bisa mendapatkan Pak Alif. Ucapku dalam hati optimis.

***

            Satu bulan sudah aku melakukan komunikasi lewat SMS dengan Pak Alif. Tak kusangka, Pak Alif yang tadinya terlihat seperti bapak – bapak yang pendiam ternyata seseorang yang humoris. Hampir setiap kali kami sering telepon selalu saja membicarakan hal – hal yang lucu. Aku semakin merasa dekat dengan Pak Alif.
            Asal tahu saja… Pak Alif sudah menyatakan cintanya padaku! Cukup membuatku shock setengah mati. Tapi ku mencoba untuk tidak tergesa – gesa dan hanya memberikan sedikit harapan lengkap dengan perhatian – perhatian kecil, hanya lewat sms tentunya.
            “Tapi kenapa ya, Tan? Setiap kali ketemu di sekolah, dia selalu aja cuek.”
            “Dia siapa?”
            “Pak Alif.” Kutendang kerikil yang berada di depanku.
            “Malu kali, Sya…”

            Kami menutup mulut sejenak, saat sebuah truk membuang gasnya tanpa permisi.
            “Padahal dia sendiri yang bilang, kalau ketemu sama aku, katanya mau nyapa aku duluan.”
            “Terus, kamu pernah nggak berpapasan sama dia?”
            “Pernah… tapi kenapa ya Pak Alif tampak nggak peduli bahkan seakan – akan nggak sadar kalau dia sedang berpapasan sama aku.”
            “Iya, ya… Aku juga jadi bingung.” Sahut Tanta lagi.
            Di seberang jalan tampak bengkel yang langsung mengingatkanku pada kejadian jatuh dan sepeda. Aku tertawa tertahan.
            “Kenapa, Sya?”
            “Nggak apa – apa, cuma ingat waktu jatuh dulu aja. Yafi benerin sepedaku di bengkel ini,” jawabku sambil menunjuk kea rah bengkel itu.
            “Tasya!! Sini!!”
            Aku dan Tanta langsung menoleh kea rah datangnya suara. Suara Yafi memanggil terdengar dari dalam bengkel yang kutunjuk. Kami pun langsung mendatanginya.
            “Kenapa Fi?”
            “Alaah kamu… sok jaim. Aku disuruh dia manggil kamu,” sahut Yafi.
            Aku langsung memasang wajah bingung.
            “Dia? Siapa Fi?”
            “Cowok yang kamu suka dari dulu!” jawab Yafi yang makin membuatku heran.
            “Siapa?”
            “Itu!” tunjuk Yafi pada seorang tukang bengkel yang dulu memperbaiki sepedaku. Cowok yang kukatakan seumuran dengan kami.
            Hening.
            “Hai, Sya…” sapa tukang bengkel itu seraya tersenyum.
            Astaga! Suara itu! Aku mengerti! Ini bukan salahku. Aku tak pernah memberi harapan padanya. Yafi salah sangka! Salah sangka!
            Badanku limbung saat tukang bengkel itu mengulurkan tangannya padaku. “Kenalin… Alif.”

Selasa, 27 Desember 2011

Setangkup Roti dan Gula - Gula

Setangkup roti dan gula – gula dari Rama untuk seorang perempuan tua di pinggir jalan yang mereka lewati setiap akan berangkat sekolah. Setangkup roti yang terkadang diisi selai strawberry atau selai cokelat dan kadang berganti dengan telurmata sapi juga telur dadar. Roti itu Rama siapkan sendiri.
            Setangkup roti dan gula – gula itu yang membuat Wanda dan Rama bertengkar beberapa hari belakangan ini.
            Rama jadi menyebalkan sejak mengenal perempuan itu. Seorang perempuan tua di pinggir jalan yang tiba – tiba menarik perhatian Rama, tetapi Wanda tidak pernah tahu mengapa Rama bisa tertarik.

*

                    “Rama sudah tidak punya Ibu, kan?” tanya Ferli pada Wanda ketika Wanda ditanya kenapa ia tiba di sekolah tanpa Rama.
            Wanda mengangguk. Wanda sudah lama mengenal Rama. Sejak SD. Rama tinggal dengan Nenek karena katanya ibunya sudah meninggal dan bapaknya menikah lagi.
            “Ini pikiran jelek ya…” Ferli seperti ragu bicara, “tapi siapa tahu benar. Siapa tahu…”
            “Apa?” Wanda mendesak.
            “Orang gila itu mungkin saja…”
            Ibunya Rama? Ah, Ferli ngaco. Ferli sih kebanyakan berkhayal. Kemarin dulu waktu melihat awan saja Ferli bilang ia melihat kereta kencana dan ia ada di dalamnya. Tapi, Wanda tidak melihat apa – apa.
            “Ngaco!” Wanda cemberut. “Memangnya Rama keturunan orang gila, apa?”
            Ferli hanya mengendikkan bahunya. Lalu meninggalkan Wanda sebelum Wanda marah karena tersinggung.
           
*

          “Kalau memang itu Ibunya Rama, kenapa?” Mama yang ditanya justru bertanya seperti itu pada Wanda.
            “Mama justru salut padanya. Anak laki – laki, lho. Semuda dia. Tidak malu memberikan baju dan makanan untuk orang yang tidak dikenalnya.”
            “Aneh kan, Ma?”
            Mama menggeleng. “Tidak aneh.”
            “Ih. Aneh dong, Ma. Orang itu gila, lho. Yang lain lari – lari ketakutan. Tapi Rama justru mendekat.”
            Mama menepuk pipi Wanda. “Kalau kalian sudah sama besar, Mama kepingin sekali punya menantu seperti Rama.”
            Uh, Mama ngaco, deh!

*

            Setangkup roti dan gula – gula itu membuat kepala Wanda berputar – putar. Berhari – hari. Tidak menemukan jawabannya. Rama juga sepertinya tidak peduli. Tidak ingin menegurnya. Sampai di suatu sore Wanda mengunjungi rumahnya.
            “Kamu tahu rasanya menjadi orang gila seperti itu?”
            Wanda tersentak. Tentu saja ia tak pernah tahu.
            “Kamu tahu rasanya ditertawakan orang seperti itu dan tidak ada yang memperhatikan? Kamu tahu kalau kamu jadi aku lalu…”
            Wanda memperhatikan. Rama berbicara serius sekali. Panjang lebar. Wanda justru menjadi bingung karenanya.
            “Orang gila itu bukan Ibuku. Ibu sudah meninggal dunia ketika aku berumur enam tahun.”
            Wanda jadi malu. Mungkin Rama sudah mendengar gosip itu.
            “Tapi aku pernah seperti itu…”
            “Hah?” Wanda melongo.
            “Aku pernah menjadi gila sampai Nenek puluhan kali membawaku untuk berobat ke dokter jiwa. Pada waktu itu aku tidak terima karena kehilangan Ibu begitu mendadak dan cepat. Ibu kecelakaan ketika menyeberang jalan karena aku merengek minta dibelikan burger di seberang jalan.”
            Wanda tak mampu berkata apa – apa.
            “Ibu meninggal itu mungkin sudah takdirNya. Tapi kenapa penyebabnya harus karena aku?” Rama tersenyum kecut—menertawakan dirinya sendiri.
            “Cuma setangkup roti dan gula – gula yang bisa kuberikan untuk perempuan yang tidak diperhatikan…”
            Wanda merasakan ada air mata di sudut – sudut matanya yang sebentar lagi keluar.
            Detik itu juga, cintanya pada Rama semakin bertambah.


Senin, 26 Desember 2011

Love Me, Mam...



Dea tengah memasukkan buku – bukunya ke dalam tas, ketika sebuah suara terdengar tepat di dekat telinganya.
            “De, kamu nanti ikut pakai kebaya, ya”
            Dea cuma melirik sekilas, lalu menggeleng tegas,
            “Nggak mau.”
            “Tapi – ntar dulu. Denger dulu. Kalau kamu nggak ikut…”
            Dea bergegas pergi, tak ingin mendengarkan penjelasan Keyza. Dea tak ingin terlibat dalam acara perayaan Hari Ibu yang akan diadakan oleh sekolahnya. Bahkan sekadar sebagai penonyon—ogah. Amit – amit. Ia justru, saat ini, sedang jengkel dan marah pada sosok yang bernama Ibu. Sosok yang kata orang harus dihormati, dikagumi, dicintai, di—bla bla bla … Tapi kenyataannya?
            Tidak. Nggak ada yang perlu dirayakan!  Dea justru ingin melupakan sosok yang bernama Ibu itu. Supaya kekecewaan dan kemarahannya tidak makin melambung. Dan meletus dengan cara yang nggak bener!
            Mama sudah tiga bulan ini pergi dari rumah. Nggak jelas ke mana, sebabnya apa, berapa lama perginya. Kabur. Begitu aja. Ia bisa bilang apa? Papa cuma punya satu kesimpulan tegas, “Dia nggak pantas jadi ibu kamu.” Dan kakaknya cuma bisa melecehkan, “anak kecil jangan sok ikut campur urusan orang tua.”
            Konyol memang. Kalau tak ada bu guru BK, teman – teman yang baik, Iddo … entah dengan cara apa Dea akan menumpahkan kemarahan dan kekecewaan hatinya. Sementara ini, yang paling baik baginya, adalah melupakan orang yang bernama Ibu. Anggap sudah tidak ada.
            Karena itu, Dea betul – betul tertegun mendengar cerita Chasy.
            “Serius?”
            “Serius. Aku lagi lewat… aku liat mama kamu, pas waktu dia mau naik ojek, jadi aku ikutin. Sampai ke rumahnya.”
            “Rumahnya?”
            “Nggak tau. Tapi mama kamu masuk ke situ.”
            “Ada orang lain di rumah itu?”
            Chasy menggeleng. Tapi wajahnya berubah sendu. Dea jadi berprasangka buruk. Dan seketika keresahan mengacaukan hatinya.

«««

            “Kamu yakin ini rumahnya?”
            “Yakin. Aku lihat sendiri. Aku sengaja berhenti. Pura – pura mogok. Aku lihat, beliau ngeluarin kunci, buka pintu, dan masuk.”
            Dea menoleh, menatap Chasy. Wajah Chasy tampak serius, tapi yang ada di hatinya tak bisa diterka.
            Chasy balas menatap. Ada kesedihan di matanya—sesuatu yang membuat hati Dea terhenyak.
            Dea menghela napas, tiba – tiba merasa lelah. Matanya kembali menatap rumah yang ada di seberang jalan itu, tempat tinggal Mama. Bahkan, kamar pembantu di rumahnya jauh lebih baik dibanding bangunan itu.
            Mama tinggal di sini? Dea nyaris tak mempercayai pandangannya. Tak terbayangkan bagaimana Mama harus melewati hari – harinya di tempat seperti ini. Dan yang lebih tidak ia pahami— demi apa?
            “Kamu mau masuk, nggak?”
            Dea hanya diam.
            “Nggak mau nemuin?”
            “Mau ngapain…”
            “Ya, ketemu… barangkali… bisa ajak mama kamu pulang.”
            “Kalau dia nggak mau?”
            Tak ada jawaban.
            Dea ikut terdiam. Perasaan dan pikirannya seakan kosong. Tak ada kemarahan. Tak ada kekecewaan. Tak ada kesedihan. Juga tak ada harapan. Dia Cuma merasa ingin terlelap, terlupa pada semuanya.
«««

            Suara Iddo mengatasi keriuhan di sekitar mereka.
            “Kamu harus kuat, De. Kamu harus ketemu sama Mama. Hadapi. Bilang semua yang mengganggu pikiran kamu, perasaan kamu. Minta penjelasan apa yang sebenarnya terjadi. Bilang, kamu juga berhak tau.”
            “Kalau sudah tahu, mau apa?”
            “Paling tidak, jadi lebih mudah kalau kamu mau belajar menerima kenyataan. Mau belajar bersikap pasrah. Soalnya, kita jadi tahu, kenapa masalahnya harus berakhir seperti ini.”
            Dea termenung. Banyak bayangan peristiwa yang akan terjadi dari pertemuan itu. Yang ia harapkan, dan juga yang tak ia inginkan.
            “Aku tak siap…”
            “Kesempatan nggak pernah nunggu kita siap, De. Gimana kalau mama kamu tiba – tiba pindah lagi, nggak jelas kemana?”
            Dea tersentak, matanya nyaris terbelalak.
            “Bisa aja, kan?Aku bukannya nggak mau temenin kamu. Tapi, siapa tahu, yang mau mama kamu ceritakan adalah satu hal yang orang lain nggak boleh tahu. Kamu harus sendiri.”
            Dea tak pernah melihat Iddo seserius itu. Dan itu membuat keberanian Dea terbangkitkan. Siang itu juga, sepulang dari sekolah, ia pergi menemui Mama. Sendiri.

«««

            Cukup lama Dea terdiam di depan rumah tak berhalaman itu. Tiga langkah dari teras rumah. Ketegangan meregang di sekujur tubuhnya. Kemarahan dan kerinduan menciptakan emosi labil di dalam jiwanya. Ada keinginan untuk menyerah, sekaligus dorongan untuk meronta, berteriak kuat – kuat, menolak apa yang harus ia hadapi. Pandangannya nanar, tak jelas melihat gorden jendela menyibak sejenak, menunjukkan wajah Mama di balik kaca buram.
            Lalu pintu rumah terbuka. Mama berdiri di situ—menunggu. Tak lari menghambur, dan memeluknya, seperti yang sempat ia bayangkan. Tak ada keterkejutan, kegembiraan, dan kerinduan. Tak ada perubahan di wajahnya, seolah ini adalah pertemuan yang biasa – biasa saja. Seolah – olah perpisahan itu tak pernah ada.
            Dea tertegun. Tiba – tiba tak tahu harus berbuat apa. Satu – satunya keinginan yang terasa hanyalah, rasa ingin menangis. Entah untuk apa.
            “Dea. Sini. Masuk.”
            Nada suara itu seperti biasa. Lembut, menenangkan. Dan, bagai memancarkan daya magnet yang menarik tubuh Dea mendekat… ada yang sulit dimengerti, dan Dea berhenti memikirkan hal itu. Ia hanya bergerak mengikuti kata hatinya. Mendekati Mama. Mencium tangannya. Menyandarkan tubuh ke dada Mama saat Mama merangkul pundaknya, melangkah dengan bimbingan Mama memasuki rumah.
            Tak ada sofa di ruangan. Hanya ada selembar karpet tipis di lantai. Dan Mama mengajaknya duduk di situ. Ruangan terasa agak pengap dan panas. Tapi Dea yakin, bukan karena itu yang membuatnya merasa tak nyaman.
            Bagaimana Mama bisa bersikap sewajar itu? Apakah perpisahan ini tak punya arti apa – apa buat Mama? Cuma hal yang biasa saja?
            “Mama yakin, kita memang bakal ketemu lagi.”
            “… tapi, Mama nggak nyari Dea.”
            “Iya. Maaf.”
            “Kan harusnya Mama bisa ke sekolah, temuin Dea.”
            “Iya, kalau sudah waktunya. Sekarang ini…” Mama terdiam, bagai ragu untuk meneruskan kalimatnya.
            “Sekarang kenapa?”
            Mama menghela napas panjang, bukan sesalan tapi kepasrahan. “Kita harus berjauhan dulu, De. Untuk kebaikan kamu.”
            “Apanya yang untuk kebaikan? Yang jelas, ini nggak baik!”
            Suara Dea meninggi. Rasa marah itu kembali, mengacaukan emosinya, dan menyesakkan dadanya.
            Namun Mama tetap tenang, walau senyum di bibirnya terkesan hambar. Ia kembali menghela napas dan menggeleng lemah, sebelum berucap pelan, “Iya, memang nggak baik. Tapi Mama harus memilih yang tidak terlalu buruk di antara yang buruk.”
            Dea mendengus resah, nyaris menangis karena ketidakmengertiannya. “Ada apa, sih? Kenapa Mama nggak cerita yang jelas aja, sih?”
            “Iya, Mama memang harus cerita, biar jelas. Tapi janji, untuk sementara, kamu harus tetap tinggal bersama Papa, sampai sekolahmu selesai…”
            “Kenapa?”
            Dan Mama bercerita, dengan nada tenang dan kesedihan yang teredam.
            “Sejak awal, perkawinan Mama dan Papa sudah bermasalah. Orangtua Papa kamu tak merestui hubungan kami. Juga Orangtua Mama. Tapi kami bersikeras untuk tetap menikah. Mama sampai terusir dari keluarga…”
            Mama terhenti sebentar, seperti ingin meredakan perasaannya. Dea tertegun, kaku, bagai takut kehilangan setiap kata dari cerita itu.
            “Dulu kami mengira, dengan lahirnya anak, hubungan Mama dengan keluarga Papa kamu akan mencair. Tapi, tidak. Mereka bisa menerima kehadiran kamu dan kakak kamu, tapi mereka tetap tak menginginkan Mama. Mereka terus menghasut Papa agar menceraikan Mama. Dan, setahun belakangan ini, Papa kamu termakan hasutan itu juga. Sikap Papa jadi berubah. Kasar dan penuh penghinaan …”
            Mama terdiam lagi beberapa saat.
            “Mama berusaha bertahan, demi kamu dan kakakmu. Tetapi percuma. Tidak membawa kebaikan apa – apa. Sikap Papa semakin keras dan sangat menghina. Terakhir, Papa nyaris gelap mata… sikap Papa begitu penuh kebencian…” Mama menelan ludah, menekan kepedihan di hatinya.
            Terakhir? Apa yang terjadi? Dea memeras ingatannya, berusaha mengingat hari – hari terakhir sebelum Mama pergi. Tapi rasanya tak ada satu pun kejadian yang bisa diingatnya. Rasanya, semua berjalan biasa – biasa saja. Begitu pandaikah Mama menyembunyikan setiap masalah yang terjadi atau karena ia yang kurang menaruh perhatian terhadap keadaan?
            “Kamu mungkin masih ingat, selama dua hari sebelum Mama pergi, Mama tidak keluar dari kamar. Kamu ingat?”
            Dea menundukkan wajah, malu, tersadar bahwa ia memang kurang memberi perhatian pada Mama. Bahwa ia terlalu sibuk dengan urusannya sendiri.
            “Kekerasan Papa nyaris melampaui batas, De. Mama takut akan terjadi hal yang lebih buruk. Mama memilih mengalah… Mama memilih pergi diam – diam, karena Mama tidak mau kamu berpihak pada Mama. Mama tidak mau kamu menyalahkan Papa. Mama mau kamu tetap baik – baik dengan Papa. Setidaknya sampai sekolah kamu selesai dan kamu punya kehidupan sendiri. Tidak tergantung pada Papa lagi.”
            “Memang apa sebabnya Papa jadi membenci Mama?”
            Mama menggeleng lemah. “Karena orangtuanya membenci Mama.
            Dan kebencian itu menular.”
            “Tapi, salah Mama apa? Nggak mungkin kalau Mama nggak salah…”
            Dea menahan ucapannya. Suaranya bergetar oleh luapan perasaan yang bergejolak di dadanya.
            “Salah Mama apa? Ya, kesalahan Mama karena Mama berkeras mau menjadi istri Papa kamu…”
            Dea tertegun, tak mampu memahami penjelasan yang sama sekali tak jelas itu. Gelitik rasa penasaran mulai meresahkannya.
            “Mereka berpikir, dulu, Mama sengaja menjebak Papa ke dalam sebuah perkawinan. Padahal, mereka telah punya rencana yang lebih baik demi masa depan Papa. Dan mereka tak pernah bisa memaafkan Mama atas kejadian itu.”
            Bayangan Oma dan Opa muncul dengan wajah dan sikap yang menghapus rasa sayang yang sebelumnya ada di hatinya. Dan sebagai gantinya, tiba – tiba ada kepastiandi hati Dea bahwa, perhatian dan kasih sayang keduanya hanyalah kepalsuan.
            “Tapi ka nada Dea? Harusnya kan mereka mikirin Dea juga. Kalau Kak Ade memang udah gede, laki – laki lagi. Tapi Dea gimana?”
            Lagi, Mama menggeleng lemah. Menundukkan wajah, meskipun sikapnya tetap tenang.
            “Mereka yakin kamu akan baik – baik saja, biarpun –“
            “Nggak!! Dea nggak baik – baik aja. Dea nggak bisa terima. Dea mau, Mama tetap sama – sama Dea.”
            “Memang sulit menerimanya, tapi kamu akan bisa –“
            “Nggak!! Dea mau ikut Mama aja!” ucap Dea dengan tegas.
            Mama menatap Dea dengan mata berkaca – kaca. Kali ini jelas terlihat rasa sedih dan kepedihan yang diderita Mama. Lalu, pandangan matanya bergerak menyusuri ruang.
            “Mama tahu… itu sebabnya Mama pergi diam – diam… Mama tidak bisa membawamu menjalani kehidupan yang seperti ini, De… Mama tak punya bekal apa – apa… untuk member kehidupan yang layak buat kamu… ini kesalahan Mama yang terbesar…”
            “Terus Dea gimana?” Suaranya mulai tersaput isak tangis yang tertahan.
            “Perpisahan ini cuma untuk sementara, De. Pada saatnya, Mama yakin, kita akan bersama lagi. Biar Mama saja yang menjalani kesulitan ini, sebagai hukuman karena berani menentang orangtua. Tapi kamu…”
            “Nggak!! Aku nggak bisa terima!!” Dea terlompat bangun dari duduknya. “Aku mau protes sama Papa! Sama semua!”
            Seluruh tekanan perasaan itu mencapai batasnya, dan meledak dalam satu tindakan yang tak bisa dikontrolnya. Sehabis meneriakkan kata – kata itu, Dea berlari ke luar.
            “Dea!” jerit Mama tercekat kepedihan.

            «««

            Dea tiba di rumah dengan wajah pucat dan napas tersengal. Tak ada air mata, tapi hatinya menjerit dalam tangis yang tak terungkapkan. Rumah kosong dan sepi. Ia tahu Papa belum pulang, padahal ia tak lagi mampu menahan kemelut di hatinya. Dadanya pepat. Ia begitu ingin menumpahkan semuanya segera; kemarahan, kekecewaan, rasa pahit dan pedih. Dan penolakan terhadap seluruh hak veto orangtua yang menganggap anak hanya boleh patuh, seburuk apapun keputusan yang diambil orangtua.
            Setelah membanting tasnya ke lantai, Dea berlari masuk kamar. Keheningan menyebar setelah gema bantingan pintu menghilang. Dea menyusupkan wajahnya ke bantal, berharap bisa menangis sepuasnya. Tapi rasa pedih dan pahit itu seakan mengeringkan airmatanya. Ia hanya merasa jiwanya melayang, hampa, ke sebuah ruang kosong yang asing.
            Entah berapa lama ia terbaring, antara sadar dan tidak. Tak tidur, tetapi banyak waktu terlompati tanpa ia sadari. Ketika ia akhirnya benar – benar tersadar, pintu terdengar diketuk dengan hati – hati. Pasti Bik Nah, pikirnya hambar. Ia diam, tak bergerak untuk membuka pintu. Ketika ia menoleh ke jendela, di luar tampak gelap. Hari sudah malam.
            Ketukan di pintu terdengar lagi, lebih kencang dari sebelumnya, agak mendesak. Dea berguling, bangkit dengan enggan dan membuka pintu. Ya, kalau Papa sudah datang, ia harus menemuinya, berbicara, meski ia tak lagi berharap dapat melakukan sesuatu yang berarti.
Dea membuka daun pintu sekedarnya, “Ada apa, Bik?”
“Anu, Non. Ada temannya di luar. Nunggu dari tadi. Penting katanya,” jelas Bik Nah dengan sedikit tergesa.
Dea mengerutkan dahi. “Teman? Cowok apa cewek?”
“Cowok. Gagah. Teman sekolah Non, katanya.”
Konyol. Perlu apa pakai embel – embel gagah segala. Dea keluar dari kamar dan berjalan perlahan ke teras depan.
Iddo duduk menunggu di teras, dan segera bangkit saat melihat Dea keluar. Keprihatinan dan kasih sayang yang terpancar dari matanya, bagai guyuran hujan pada kemarau yang gersang—kesejukan yang nyaman. Ada ketenteraman aneh yang memaksa Dea terduduk lemah di bangku di hadapan Iddo.
“Kamu nggak apa – apa?”
Dea menggeleng.
“Nggak apa – apa, kan, aku datang? Aku khawatir…”
Dea menatap Iddo dengan penuh rasa terima kasih.
Hening beberapa saat. Dengan bijak Iddo membiarkan Dea berdiam diri, menunggu sampai Dea mau berbicara.
“Aku sudah ketemu Mama…” Dea berkata lirih.
Iddo menyondongkan tubuhnya, member perhatian lebih serius. Dan— semua mengalir tak terbendung. Yang terjadi dan yang dirasakan.
Tuntas. Lalu hening, agak berkepanjangan. Keduanya menyandarkan tubuh, tak saling pandang, menatap ke kejauhan dan membiarkan keheningan menenteramkan perasaan.
“Aku nggak tahu harus berbuat apa…”
“Turuti apa mau Mama,” ucap Iddo sedikit berhati – hati.
“Maksudnya?”
“Kamu tetap di sini. Bersama Papa. Sampai sekolahmu selesai dan kamu bisa bebas memilih, dengan siapa kamu mau menjalani hidupmu,”
Hening lagi. Angin malam terasa menyejukkan hati.
“Mama kamu benar – benar seorang ibu…” kata Iddo lagi, seakan berbicara untuk dirinya sendiri. “Mama menelan seluruh luka dan duka kehidupan, tak menyisakan sedikitpun buat kamu. Mama menghindari segala keributan dan tuntutan karena tak ingin kamu terluka. Mama mau mengalah karena memang itu yang terbaik buat kamu.”
Dea terus menatap ke kejauhan, merenung. Kata – kata itu mengalir, seakan tak datang dari mulut Iddo, dibawa oleh angin malam dan menyusup jauh ke dalam hatinya.
“Tapi, Mama harus hidup seperti itu…”
“Pengorbanan seorang ibu tak ada batasnya, De. Tak bisa diukur. Dan, kadang terasa nggak masuk akal… Tapi itulah bukti kasih sayangnya.”
“… Mama nggak sayang sama aku…”
“Sayang seorang ibu bukan ada dalam kata – katanya. Tapi dalam hatinya, dalam seluruh hidupnya…”
“Aku sayang Mama… Aku mau Mama tahu, aku sayang Mama…” Dea mendesah, membisikkan kata – kata itu. Angin malam mendesir, bagai ingin membawa dan menyiarkannya ke seluruh alam.
Sayangi aku juga, Ma… mohonnya dalam hati.
Love me, Mam… love me, forever…

            «««