Selasa, 27 Agustus 2013

Farewell

Ini akan jadi post yang sangat panjang. Saya ingatkan jika anda malas membacanya dan menganggap ini sangat alay dan lebay, lebih baik anda membatalkan niat anda untuk membaca post ini. Lah emang ini yang pengen saya tulis kok~ Dan isi post ini murni pendapat dan perasaan saya saja (?)

Selasa, 23 Juli 2013

'Cause Without You, Things Go Hazy (Cryptic part 13)

“Kamu gila, Fan.” Finna menatap saudarinya marah. Saat yang ia takutkan tiba juga. Tak ada yang bisa dilakukan untuk melewati masalah ini, kecuali dengan melaluinya.
            “Tidak.” Fanni menggeleng teguh.
            “Ya.” Finna mendengus. “Kamu impulsif.”
            “Aku?”
            “Jelas. Sudah berapa lama coba kamu kenal si Radith ini?”
            “Baru…”
            “Tiga hari,” tukas Finna keras. “Tapi kamu tiba-tiba bilang tidak ingin balik ke Malang. Kamu ingin tetap di sini bersamanya. Apa itu namanya kalau bukan bertindak impulsif?”
            Fanni mengangkat tangan, mencoba menyela. Tapi gagal. Finna terus mencerocos seperti kereta api berkecepatan tinggi.
            “Kenapa kamu tidak mau kembali ke apartemen kita?” serang Finna. Kali ini ia nyaris menangis.
            Fanni terdiam. Ia duduk di tepi ranjang, menunduk.
            Mereka memang tidak pernah berpisah.
            Ya, mungkin dulu pernah ada saat di masa kecil, ketika mereka harus dipisahkan karena Finna harus dirawat di rumah sakit. Tapi itupun Fanni sempat menunggui saudarinya, duduk di kursi di depan kamarnya di rumah sakit. Fanni masih ada di sana. Ia berdiri di balik kaca, menatap saudarinya yang terbaring lemah, di ranjang putih steril.
            Yang jelas mereka tidak pernah berpisah dengan cara seperti ini.
            Finna mendongak. Matanya berkaca-kaca.
            “Kamu punya Fanni Design,” ucapnya sebagai pembelaan terakhir. “Kamu punya pekerjaan di Malang, Fan. Kamu ‘kan bukan pengangguran. Apa yang akan kauperbuat dengan usahamu? Ayolah, Fan, mulailah berpikir dengan akal sehat. Jangan hanya dengan hati.”
            “Fin, kamu juga tahu, ada teknologi e-mail,” Fanni menyahut lembut, “ada handphone. Aku masih bisa bekerja dari Pacitan.”
            “Tidak sama.” Finna menggeleng pahit. “Itu berbeda.”
            “Memang,” jawab Fanni. “Tapi itu bisa menjadi lebih baik, kan?” Fanni menggenggam tangan saudarinya dengan lembut. “Fin, keadaan akan menjadi lebih baik. Tidak bisakah kamu melihat itu?”
            Finna tetap menunduk, membisu.
            Di sebelahnya, Fanni menjelaskan makin seru. “Aku bisa menerima pesanan dari tempat ini. Aku bisa menggambar di sini, Fin. Di tempat ini, inspirasi lancar mengalir. Kemudian aku bisa meng-convert hasilnya dalam bentuk PDF, mengirim soft copy via e-mail ke klien. Fin, ini sempurna.”
            Finna menggeleng keras kepala.
            Fanni menarik napas panjang dan menghembuskannya kembali.
            Tiba-tiba Finna bangkit berdiri dan membuka lemari. Ia mengeluarkan koper hitam milik Fanni. Tangannya dengan cekatan bergerak, memasukkan barang demi barang ke koper tersebut. Mulai dari pakaian Fanni, celana jins, dan alat riasnya.
            “Apa yang kaulakukan?” tanya Fanni tercengang.
            “Membantumu berkemas.” Finna menjawab pasti.
            “Fin,” Fanni menggeleng. Matanya mulai berkaca. Ia tersenyum lemah, tapi suaranya mantap. “Aku tidak akan kembali, dan keputusan itu sudah bulat.” Fanni menunduk. “Maaf.” Ucapnya.
            Finna terduduk lelah, termangu.
            “Maaf, Fin.” Ulang Fanni lembut.
            “Kamu…”
            “Fin.” Fanni menggeleng sedikit. “Coba dengar aku. Kamu saudariku yang paling hebat, yang selalu menasihatiku dari pertama supaya aku mau bergaul.”
            Fanni bisa melihat tubuh Finna menegang. Tapi ia belum selesai.
            “Kamu selalu menasihatiku: carilah teman, Fan. Kamu selalu mendesakku: Fan, kamu harus bergaul. Kamu selalu bilang, hidup seperti pertapa ini tidak sehat. Ayo, Fan, bangkit, carilah pacar…”
            “Tapi…”
            “Dan sekarang, aku menemukannya.” Fanni tersenyum. Air matanya sudah mengalir.
            Finna mulai tersedu.
            “Lalu kenapa kamu menghalangiku?”
            Kini tidak hanya Fanni, Finna pun sudah menangis. Air matanya turun tak tertahan. Dan ia mulai tersedu sedan.
            “Apa yang harus kuperbuat tanpa kamu?” Finna menggigit bibirnya getir.
            “Finna sayang…”
            “Sejak dulu, kamulah saudariku yang paling dekat denganku.” Finna menengadah, mencoba tersenyum dengan pipi sembab karena tangis. Usahanya tidak terlalu berhasil. “Kamu selalu ada, Fan. Kamu tidak pernah pergi dari sisiku. Kita selalu bersama. Kini…”
            “Oh, Finna.” Fanni memeluk saudarinya erat. “Seperti katamu selalu, kita tidak pernah berpisah. Biarpun kita jauh tapi percayalah, hati kita akan selalu satu, Fin.”
            “Tapi itu tidak sama.” Finna menggeleng, masih menangis.
            “Memang tidak.” Fanni mengangguk setuju. “Tapi mungkin saja kita bisa berusaha, supaya situasi menjadi lebih baik? Kamu dengan Vinno? Aku dengan Radith? Bisa kan, Fin?”
            “Apa yang harus kuperbuat tanpa kamu?” tanya Finna getir. “Tanpamu, Fan, hari akan selalu kelabu. Kamu yang selalu ada sejak dulu. Kalau ada apa-apa, aku hanya cerita padamu. Dengan kamu tinggal di sini, dan aku di Malang, bagaimana aku bisa bercerita tentang semua perkembangan hidupku lagi?”
            Fanni menggeleng dengan pipi basah. Kini ia juga tak sanggup mengucapkan apa-apa. Tapi Finna tahu apa yang dirasakan oleh Fanni. Itulah salah satu berkat atau kutuk dengan dilahirkan kembar. Tapi ia mengerti, di sisi lain, Fanni pun tercabik. Tertoreh dengan perih yang sama seperti yang dia rasakan.

            What if I fall and hurt myself,
            Would you know how to fix me?
            What if I went and lost myself,
            Would you know where to find me?
            If I forgot who I am,
            Would you please remind me?
            ‘Cause without you, things go hazy.


(*Hazy – Rosi Golan ft. William Fitzsimmons)

Minggu, 21 Juli 2013

Di Tengah Hutan (Cryptic part 12)

Finna tidak bisa berkonsentrasi menanggapi percakapan Vinno. Berkali-kali ia melirik Fanni yang sedang asyik bercakap-cakap dengan Radith di spot favoritnya, di tepi sungai.
                Fanni duduk di atas batu, dan Radith berdiri di sebelahnya. Finna tidak jelas mereka sedang bicara apa. Mungkin Radith sedang menerangkan tentang hutan ini dan segala penghuninya. Dan ternyata, pengetahuannya boleh juga.
                Di tempatnya duduk, tak jauh dari mereka, Finna tersentuh.
                Di wajah Fanni jelas terlihat satu perasaan yang tak bisa disangkal, bahkan oleh Finna sekalipun. Rasa bahagia. Rasa cinta. Rasa bahwa dirinya penting dan nomor satu. Perasaan yang sudah tidak pernah Fanni rasakan sejak… entah kapan.
                Finna menunduk lagi.
                “Ma…” Vinno menyenggol lengannya.
                Finna menengadah.
                “Apa yang kamu pikirkan?”
                Finna menggerakkan dagunya ke arah Fanni dan Radith yang masih asyik mengobrol. “Mereka,” ucapnya jujur.
                “Kenapa?”
                Finna ragu sejenak. Ia melayangkan pandang lagi ke Fanni, yang kebetulan juga sedang menatap ke arahnya. Finna termangu. Ia bisa mendengar Radith berceloteh riang.
                “Aneh rasanya hidup ini ya, Fan.”
                “Kenapa bisa begitu?” Fanni mengembalikan perhatiannya pada Radith.
                Di tempatnya duduk, Finna bisa melihat cowok itu tertawa, menyibakkan rambut ke belakang.
                “Yah, kadang aneh bagaimana hidup bisa membawamu ke jalinan cerita yang tak pernah kautebak sebelumnya. Jalinan yang tak pernah kauduga ada. Tahu-tahu kau sudah ada di tempat ini, saat ini, bersama orang yang kemarin asing bagimu. Dan kamu merasa bahagia.”
                “Tidakkah itu membuatmu takut?”
                Finna mengerutkan kening mendengar respons Fanni yang tak disangka-sangka.
                “Kenapa bisa begitu?” Tanya Radith lembut.
                “Yah, kamu bahagia. Saat ini, kamu merasa di puncak dunia. Namun tidak mustahil bukan, di detik berikutnya, semua mimpimu hancur berantakan. Lalu istana yang sudah susah payah kaubangun roboh jadi puing di kakimu,” ucap Fanni. Ada nada pahit dan pasrah di sana.
                Finna meraba dadanya. Kepahitan itu juga membuat Finna sakit.
                “Saat ini, apa yang kaurasakan?” Tanya Radith pelan.
                “Bahagia,” ucap Fanni tanpa ragu.
                “Itu yang paling penting.” Radith tersenyum lembut. Ia membawa jemari Fanni ke genggaman tangannya, memegangnya erat.
                Finna memalingkan wajah.
                “Ma?”
                Sampai lupa, sedari tadi Vinno masih menunggu kalimat keluar dari mulutnya dengan sabar. Finna sampai lupa apa yang ditanyakan Vinno tadi.
                “Eh, maaf. Kamu tadi tanya apa ya, Vin?”
                “Kenapa dengan mereka?” ulang Vinno sabar. “Adakah yang salah, Ema? Karena rasanya, semua baik-baik saja.”
                Finna terdiam lagi. “Tidak.” Akhirnya ia menggeleng dan memaksakan senyum. “Kamu benar, Vin. Mereka tidak apa-apa. Bahkan kamu bisa lihat kan, mereka bahagia.”
                Vinno ikut menoleh mengikuti pandangan kekasihnya itu.
                “Jadi, kita pulang ya,” ajaknya lembut. “Senja mulai turun, Ma. Cuaca jadi dingin. Lebih baik kita kembali ke rumah. Aku yakin, ibumu pasti sudah menyiapkan makanan yang enak untuk kita.”
                “Dan kopi untukmu.” Finna tersenyum juga. “Teh panas untukku.”
                “Ya, lengkap dengan kopi, teh, mungkin cokelat.”
                “Itulah surga.”
                “Tidak ada yang lebih bahagia dari tempat semacam itu.” Vinno mengangguk setuju, menautkan jemarinya di sela jemari Finna yang lentik.

                Finna memberi isyarat selamat tinggal pada Fanni, yang tersenyum samar dan mengangguk. Kemudian mereka bergandengan tangan berjalan pulang.